INTERNET MENGANTARKAN SAYA KULIAH DI LUAR NEGERI

INTERNET MENGANTARKAN SAYA KULIAH DI LUAR NEGERI
Bosman Batubara

 

Tak perlu kita ragukan lagi, bahwa internet adalah salah satu revolusi terbesar di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Dengan internet kita dengan mudah terhubungkan kemana saja di seluruh dunia, sepanjang sasaran yang kita tuju juga memiliki akses internet. Bagi saya pribadi, keberadaan internet telah membuat hidup saya “XLangkah Lebih Maju”, seperti yang saya coba ceritakan pada bagian berikut ini.

Selain manfaat internet yang sudah saya rasakan sebelumnya seperti aplikasi email yang membuat saya dengan mudah berkomunikasi dengan siapa saja, aplikasi di media soial yang menghubungkan saya dengan banyak teman-teman, blog yang membuat saya bisa bebas mengekspresikan diri sesuai dengan yang saya maui, hal konkrit lain yang saya dapatkan dari internet adalah beasiswa ke luar negeri.

 

ayo “XLangkah lebih maju dengan internet :) ; sumber gambar: http://theinternet11.blogspot.com/

 

Melanjutkan pendidikan di luar negeri melalui skema beasiswa, adalah salah satu mimpi yang sering hadir di kalangan muda Indonesia. Dengan berkuliah di luar negeri, ada banyak hal positif yang didapatkan oleh seseorang. Misalnya, bisa mendapatkan pendidikan dengan kualitas yang lebih baik, karena dalam banyak kasus universitas-universitas di luar negeri, terutama di Eropa, memiliki kualitas yang jauh lebih bagus dari universitas-universitas di Indonesia. Kedua, kita bisa memperluas cakrawala berfikir kita karena bergaul dengan manusia dari segala bangsa. Pertukaran budaya dan mencoba sesuatu yang baru menjadi kata kunci di sini. Dan tentu saja yang tak kalah penting adalah, kita memiliki pengalaman melihat tempat lain di luar Indonesia.

Mendapatkan beasiswa, selain diperlukan faktor latar belakang akademik yang bagus, kesungguhan, keberuntungan, juga mesti ditunjang dengan seberapa bagus seorang kandidat dalam mengakses informasi. Karena hampir semua informasi yang berhubungan dengan beasiswa pada dasarnya sudah ada di internet. Orang yang mencari beasiswa hanya perlu melakukan pengumpulan informasi yang sistematis melalui internet hingga akhirnya dapat memperoleh beasiswa.

Pada dasarnya, ada tiga hal mendasar yang selalu hadir dalam persyaratan untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Yang pertama adalah kemampuang Bahasa Inggris, yang kedua seorang pelamar harus tahu program beasiswa dan  universitas atau program studi yang diincarnya, dan yang ketiga seorang pelamar harus sanggup menyiapkan proposal pendaftaran beasiswa yang bagus. Khusus untuk yang terakhir, ini menjadi sangat penting karena dokumen inilah yang nantinya menjadi salah satu materi evaluasi bagi tim penilai untuk menentukan apakah seorang pelamar dinilai layak mendapatkan beasiswa atau tidak.

Apa peranan internet dalam kemampuan Bahasa Inggris bagi seorang pelamar beasiwa? Yang pertama-tama adalah masalah tes kemampuan Bahasa Inggris. Tes kemampuan Bahasa Inggris sekarang diorganisir lewat internet (internet-based TOEFL, iBT). Universitas-universitas di Eropa, dan di juga di benua-benua lain, biasanya meminta persyaratan kemampuan Bahasa Inggris iBT ini. Tes kemampuan Bahasa Inggris berbasis kertas, paper-based TOEFL, pBT, sudah jarang dicantumkan di website-website universitas sebagai salah satu persyaratan pendaftaran.

Selain mengikuti test lewat internet, seorang pencari beasiswa juga dapat meningkatkan kemampuan Bahasa Inggrisnya dengan menggunakan fasilitas yang ada di internet. Salah satu website favorit saya dulu adalah website British Council (http://www.britishcouncil.org/new/learning/). Dalam website ini ada menu belajar Bahasa Inggris. Di dalamnya para pengunjung bisa mengunduh file-file MP3 dalam Bahasa Inggris dan sekaligus skript-nya. Jadi ketika kita mendengarkan file-file MP3 tersebut, kita belajar sekaligus dua bagian dalam TOEFL, yaitu listening dan reading. Kalau kita rajin menirukan omongan orang yang ada dalam file MP3 tersebut, maka kita juga bisa sekaligus belajar speaking. Semua poin di atas berguna dalam TOEFL yang memiliki 4 sub-test yaitu: reading, listening, speaking dan writing. Masalah writing, tentu saja bisa juga diatasi kalau kita rajin mengasah kemampuan menulis kita dalam Bahasa Inggris.

Untuk poin kedua, informasi mengenai program beasiswa, universitas, dan jurusan yang menjadi sasaran kita, keberadaan internet juga sangat menunjang. Saya melakukan semua aplikasi beasiswa saya dulu lewat internet. Meski pada tahap akhir saya tetap harus mengirimkan dokumen tertulis melalui pos, tetapi pada awalnya semuanya dilakukan dengan fasilitas internet.

Bagi seorang yang masih dalam tahap memulai mengumpulkan informasi ini, seperti saya dulu, mungkin ada baiknya bergabung dengan komunitas di miling list (milis) seperti beasiswa@yahoogroups.com yang khusus membahas soal beasiswa. Di dalam milis itu banyak sekali informasi beasiswa beredar. Dan yang lebih menyenangkan lagi, kalau anda memiliki pertanyaan seputar beasiswa, anda bisa melayangkannya di milis tersebut. Berdasarkan pengalaman, maka akan banyak orang yang menanggapi dan memberi solusi atas pertanyaan anda, karena banyak di antara anggota milis tersebut adalah mereka yang sudah berpengalaman mendapatkan beasiswa, jadi anda bertanya kepada orang yang benar-benar menguasai persoalan.

Hal berikutnya yang saya lakukan dulu adalah mendaftarkan email saya ke website yang memang khusus didedikasikan untuk menyediakan informasi beasiswa di seluruh dunia. Jadi setiap ada informasi beasiswa terbaru dimana saja, saya mendapatkan email secara otomatis dari website tersebut. Persoalan apakah informasi yang dikirim cocok dengan kemauan saya atau tidak, itu urusan belakangan. Karena kalau saya merasa tidak cocok dengan informasi yang ada, maka saya tinggal menghapus email tersebut. Website yang saya ikuti dari dulu sampai sekarang adalah http://www.scholars4dev.com/.

Hal lain yang saya lakukan untuk mengumpulkan informasi beasiswa melalui internet tentu saja adalah dengan mengunjungi website lembaga pemberi beasiswa. Biasanya di website-website tersebut dijelaskan jenis beasiswa yang ditawarakan, persyaratannya, program studi yang ada lengkap dengan link ke universitasnya. Bahkan lebih jauh, kalau sudah sampai di website universitas, hampir pasti kita selalu bisa mencari tahu lebih jauh tentang dosen-dosennya hingga riset-riset yang mereka lakukan.

Ada banyak website lembaga pemberi beasiswa. Saya coba sebutkan beberapa. Untuk tujuan ke Belanda, ada beasiswa STUNED, ke Belgia ada beasiswa VLIR-UOS, ke Jerman ada beasiswa DAAD, ke Perancis ada beasiswaBGF, ke Australia ada beasiswa ADS, ke Amerika Serikat ada beasiswa Fulbright, ke Inggris ada beasiswaChevening, dan masih banyak lagi, yang mana semua informasinya sudah ada di internet.

Setelah mendapatkan informasi yang cukup, saya kemudian memilah-milah semuanya dan akhirnya memutuskan beasiswa mana yang akan saya lamar. Dan tahapan berikutnya, seperti yang sudah saya sebutkan di atas adalah bagaimana menyiapkan proposal lamaran beasiswa yang bagus. Setidaknya dalam kasus saya, saya berhasil mendapatkan beasiswa VLIR-UOS dari Pemerintah Belgia untuk programInteruniversity Programme in Water Resources Engineering yang dikelola oleh dua universitas yaitu Katholieke Universiteit Leuven dan Vrije Universiteit Brussels.

Selain persyaratan formal seperti Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) S-1, kemampuan Bahasa Inggris yang dibuktikan dengan sertifikat iBT, surat rekomendasi, hal lain yang biasanya selalu hadir dalam sebuah proposal pendaftaran beasiswa adalah motivasi kita dalam melamar beasiswa, atau lazim disebut Statment of Purpose (SoP). Kadang-kadang kita memiliki banyak modal yang sudah kita kerjakan dan pas dengan apa yang dicari oleh lembaga pemberi beasiswa, tetapi tidak semua orang dapat menuliskannya dengan baik sehingga tim penyeleksi percaya bahwa kita adalah orang yang tepat untuk mendapatkan beasiswa terkait.

Bagaimana membuat SoP yang baik ini? Dulu saya mempelajarinya juga dengan menggunakan fasilitas internet. Ada banyak website yang memuat tips-tips soal penulisan SoP. Saya dulu mempelajari salah satunya lewat website http://www.statementofpurpose.com/. Poin yang mungkin bisa menjadi pertimbangan dalam menulis SoP adalah, jangan terlalu panjang. Dalam kasus saya, saya dulu hanya membuatnya satu halaman. SoP satu halaman itu dengan jelas harus mencerminkan diri kita, misalnya mengenai apa yang telah kita lakukan, dan apa yang mau kita lakukan ke depan, tentu saja dalam hubungannya dengan program beasiswa dan jurusan yang kita lamar. Serta mungkin perlu juga kita jelaskan kontribusi seperti apa kira-kira yang akan kita berikan kepada orang banyak dengan diberikannya beasiswa tersebut kepada kita.

Sebagai penutup, saya ingin kembali menegaskan, bahwa bagi saya internet telah membuka begitu banyak pintu kesempatan. Internet menyajikan begitu banyak informasi. Tinggal kita yang memilah dan mengolahnya sesuai dengan yang kita butuhkan. Bagi rekan yang sedang mencari beasiswa, saya ucapkan selamat mencoba dan semoga beruntung.

***

Tulisan ini sengaja dibuat untuk lomba nge-blog bertajuk “Bagaimana Internet Membuat Saya ‘XLangkah Lebih Maju‘” yang diadakan oleh XL.

Advertisements

Suara Gelombang Laut Baltik (Kepada Halim Hade)

Suara Gelombang Laut Baltik (Kepada Halim Hade)

Oleh Bosman Batubara

***

Aku masih agak capek begitu memasuki kamar Hostel Frank yang persis menghadap ke Sungai Daugava. Perjalanan selama lebih dua jam dari Brussels ditambah 20 menit di dalam bus dari bandara menuju Hostels, membuatku sedikit tidak konsentrasi. Terlebih-lebih cuaca yang berubah kontras begitu sampai di Riga. Di Brussels, cuaca November masih lumayan hangat. Kadang-kadang sepuluh derajat selsius. Tetapi di Riga sudah hampir di titik nol, jadi lumayan kontras perbedaan cuacanya.

Kita langsung berkenalan begitu aku memasuki kamar hostel. Nasib mempertemukan kita berada di dalam kamar yang sama. Sebagai pejalan, bertemu orang baru secara random, berkenalan, bertukar cerita, adalah hal-hal yang aku sukai. Belakangan aku ketahui namamu Rosel, dan umurmu hampir enam puluh tahun. Aku suka teman yang tua, karena orang tua dapat menceritakan banyak hal kepada anak muda. Tentang kisah suksesnya. Meski aku lebih suka cerita tentang kegagalan. Aku tahu, tidak banyak orang yang menceritakan kegagalannya. Apabila ada seseorang bercerita tentang kegagalan, maka itu mungkin hanyalah satu dari banyak kasus.

“Aku seorang penulis,” begitu kamu bercerita tentang dirimu ketika kita pada akhirnya berada di salah satu pub di bagian tua Kota Riga.

“Kamu menulis apa?”

“Aku menulis buku-buku informasi, seperti perjalanan. Dulu aku seorang arkeolog. Tetapi sekarang aku sudah pensiun dari pekerjaan itu. Jadi aku hanya berjalan-jalan dan menulis buku.”

“Mengapa kamu menulis buku-buku seperti itu? Karena aku pikir buku seperti itu sekarang kurang diminati orang. Sekarang kan sudah ada google. Generasiku bisa bertanya apa saja pada google. Google itu seperti kakek bagiku.”

“Ya, itu betul. Dan tampaknya memang buku sudah tidak akan laku lagi. Dan mungkin toko-toko buku akan segera bangkrut. Pada awalnya dulu aku ingin menjadi penulis fiksi. Tetapi, belakangan aku sadari aku tidak cukup imajinatif untuk menjadi seorang penulis fiksi. Maka aku pilihlah menjadi seorang penulis buku informasi.”

“Tetapi kalau kamu mau kan belum terlambat untuk memulai menulis fiksi. Mungkin kamu tulis satu novel saja, tetapi kalau ia benar-benar berkualitas, maka namamu akan abadi.”

“Hahaha… kamu punya diksi yang bagus untuk urusan tulis-menulis. Apakah kamu juga seorang penulis?”

“Ya, aku ingin jadi penulis. Tetapi aku pikir itu bukanlah hal gampang. Mungkin jauh lebih gampang menjadi seorang sarjana daripada penulis yang baik.”

“Oke, cheers untuk karirmu sebagai penulis. Aku pikir kamu punya bakat itu. Cuma mungkin kamu harus mengasahnya terus.”

“Ya, aku harap begitu. Cheers.”

“Aku suka Balzam Latvia ini,” sambungku setelah bersulang. “Meskipun rasanya sangat kuat dan membuatku mau muntah ketika ia menyentuh lidahku, tetapi beberapa saat sesudahnya rasanya aku ingin satu shot yang lain. Ini kurang lebih seperti makanan pedas. Begitu kamu makan makanan-makanan pedas, maka meskipun kepedasan, agak susah untuk tidak benar-benar memakannya lagi.”

“Hahaha… perumpamaanmu lumayan bagus. Sayang sekali aku tidak tahu bagaimana caranya menikmati makanan pedas, jadi mungkin aku agak susah untuk menangkap idemu dengan baik. Tetapi, kamu tahu, biasanya orang Latvia minum Balzam dengan kopi. Kata mereka itu akan lebih enak. Dan Balzam juga bagus untuk kesehatan, karena dibuat entah dari berapa macam ramuan, aku kurang tahu.”

“Ah, whatever. Aku mau satu shot Absinthe, dan setelah itu kita pulang. Mungkin kita perlu bangun sedikit agak pagi besok karena aku pikir akan butuh waktu bagi kita untuk pergi ke Pantai Jūrmala.” Kataku sambil mengangkat tangan memberi isyarat pada pelayan pub.

“Hmm.. Absinthe? Mengapa kamu memilih Absinthe di antara sekian banyak jenis yang ada di sini?” tanyamu begitu pelayan pub pergi.

“Aku tidak tahu pasti. Tapi rasanya aku sangat suka Absinthe. Aku suka warnanya yang kehijauan. Dan aku kenal pertama kali dengan Absinthe melalui lukisan. Jadi ya, mungkin aku terprovokasi. Bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal bagaimana aku tahu Absinthe pertama kali.”

“Ada cerita apa dengan Absinthe?”

Aku diam sejenak, karena kedatangan pelayan pub dengan dua gelas kecil Absinthe. “Kamu tahu Picasso? Tentu saja kamu tahu.”

“Ya, ada apa dengan Absinthe dan Picasso?”

“Picasso punya sebuah lukisan yang bagiku sangat bagus. Judulnya Absinthe drinker. Itu lukisan seorang gadis dengan Absinthe di atas meja. Aku suka warna lukisan itu yang cenderung gelap.”

“Oke, jadi mari bersulang untuk Picasso. Cheers.”

“Cheers.”

Malam berjalan tak terasa. Mungkin karena mabuk atau kecapekan. Aku sadar pada hari berikutnya ketika melihat sinar matahari sudah masuk melalui jendela kaca. Meskipun kamar ini hanya kecil dan berisi beberapa tempat tidur seperti barak, dia dapat menampung delapan orang. Ya, tidur di tempat seperti ini adalah rutinitas dari seorang pejalan dengan anggaran yang ketat. Tetapi orang menjalaninya dengan senang hati.

Begitu bangun, menggerak-gerakkan badan sebentar, ganti celana tidur dengan jeans, aku langsung pakai sepatu. Ini adalah salah satu kebiasaan aneh yang aku dapatkan setelah di Eropa. Hampir pada sepanjang hari pakai sepatu. Di Indonesia pakai sandal sudah cukup. Tetapi di Eropa kemana-mana pakai sepatu. Dan dalam perjalanan seperti ini aku lebih ekstrim lagi, bangun dan langsung pakai sepatu. Soalnya aku tidak bawa sandal, dan agak sungkan juga rasanya menginjak lantai dengan cuaca seperti di Riga. Jadi ke toilet juga pakai sepatu. Sikat gigi pakai sepatu. Mandi? Tidak usah. Itu cuma buang-buang waktu. Tak perlu. Dalam cuaca seperti ini mandi satu kali dalam tiga atau empat hari sudah cukup. Cukup bersihkan badan sekedarnya, dan kemudian semprotan sedikit parfum. Cukup.

Di dapur sudah ramai orang. Enaknya tempat seperti ini, selalu ada ruang-ruang sosial tempat untuk bertemu dengan orang baru. Karena rasanya memang hostel seperti ini hidupnya komunal. Kamar tidurnya beramai-ramai, dapurnya juga beramai-ramai. Kalau mau masak, bisa memakai dapur. Tentu saja bukan masakan yang terlalu serius. Tetapi kalau mau sarapan yang super cepat, tinggal makan apa yang ada di dalam kulkas. Dua potong roti bakar dengan selai buah serta segelas teh, cukup bagiku.

Selesai sarapan aku pergi ke bar hostel. Karena aku lihat banyak orang di sana. Dan ternyata, seperti yang aku duga, orang yang aku cari ada di sana.

“Kamu siap?” tanyamu.

“Ya, lima menit. Aku ambil tas ke kamar dan kita berangkat. Oke?”

“Oke.”

“Kamu bilang tadi malam kamu memiliki ketakutan dengan ketinggian,” katamu ketika kita sudah di dalam kereta menuju Pantai Jūrmala.

“Aku bilang padamu seperti itu?”

“Ya. Mungkin kamu mabuk tadi malam, jadi sekarang sudah lupa.”

“Hahaha… itulah salah satu sebabnya aku suka alkohol. Ya, entah kenapa aku punya acrophobia itu.”

“Tak usah khawatir, banyak orang seperti itu. Aku tahu sebuah menara di Pantai Jūrmala. Kita akan ke sana dan naik tangga sampai ke puncak.”

“Oh, aku takkan melakukan itu. Itu cari penyakit namanya.”

“Bukan. Tetapi kamu harus melawan ketakutanmu.”

“Ah, tidak perlu. Aku bisa menyimpan ketakutan itu dan membawanya bersama dalam hidupku. Aku percaya semua orang punya trauma dalam hidupnya dan selalu menyimpannya. Seperti lelaki yang selalu menggenggam luka.”

“Ya, itu betul. Tapi kamu juga bisa melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Melihat ketakutanmu sebagai tantangan. Kalau kamu menyimpan ketakutan, selamanya ia akan merongrong dari dalam. Dan sekali kamu melawannya maka kamu akan terbiasa, dan mungkin tak akan takut lagi menghadapi hal yang sama.”

Aku cuma diam mendengar kata-katamu. Di luar jendela aku lihat beberapa bangunan tua yang sudah retak-retak. Wajah Latvia yang aku suka. Terlihat berbeda dengan ibukota yang disolek. Sedikit keluar dari ibukota, negeri ini menampakkan wajah aslinya. Cuaca yang dingin dan berkabut di luar sana menambah abu-abu suasana.

Aku sadari bahwa gerbong kereta di Latvia ini sangat lebar. Dan menjadi terlihat lebih lebar karena tidak banyak orang di dalamnya. Entah mengapa mereka mendesain gerbong kereta selebar ini. Sebuah cerobong asap yang menjulang tinggi terlihat berlalu di balik jendela kaca. Sempat kulihat asap membuih keluar dari muncungnya di atas sana. Dalam hati aku berkata, ternyata hidup masih berjalan di negeri ini. Pemadangan-pemandangan dengan wajah abu-abu Latvia berganti-ganti di balik jendela. Rumah kayu dengan jendela kaca. Apartemen dengan kaca retak dan terlihat tanpa penghuni. Stasiun kereta kecil dengan satu dua penumpang yang naik kala kereta berhenti. Orang-orang terlihat memakai jaket. Belum terlalu tebal memang, kelihatannya baru dua atau tiga lapis. Mungkin di musim dingin mereka akan pakai baju empat atau lima lapis. Kereta terus melaju. Hingga akhirnya sampai di stasiun bernama Majori. Setidaknya itu nama yang aku lihat tertulis di papan nama di atas stasiun.

“Kita turun di sini,” katamu.

Dan aku cuma ikut saja. Sekitar tiga menit berikutnya kereta sudah berlalu. Aku baru sadar bahwa ternyata stasiun ini terletak di tepi sebuah danau. Tadinya pemandangan ke danau tertutup oleh kereta. Kabut terlihat memutih di atas air danau. Tidak sampai seratus meter jarak pandang. Aku kira. Air danau terlihat tenang, hampir tanpa gerakan. Tak ada angin tak ada perahu. Oh, susana ini bahkan akan sanggup membunuh sepi.

Aku hanya mengikuti langkahmu. Meski sudah tua, aku lihat kamu masih berjalan tegap. Kita berjalan melewati rumah-rumah tua yang kelihatan masih tertutup. Satu dua pelancong yang juga menuju Pantai Jūrmala di Teluk Riga terlihat berjalan. Tak terdengar banyak percakapan atau tawa. Dingin memang hampir membekukan segalanya. Aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa tempat ini di musim dingin bersalju yang tak lama lagi akan datang.

“Itu dia menaranya,” katamu menunjuk ke kejauhan, “kamu siap?”

Dari balik pepohonan yang mulai meranggas dengan batangnya yang coklat, di ujung sana aku lihat sebuah menara berdiri.

“Kita bisa naik tangga sampai ke puncak.”

“Apa tidak ada lift di sana?”

“Hahahaha… kamu ini benar-benar mau mudahnya saja. Naik tangga adalah bagian dari tantangan itu. Bagus buat kita. Membakar kalori tubuh di cuaca dingin.”

Oke. Aku akan coba, batinku. Tetapi aku tidak mau melihat puncak menara. Aku cuma akan naik naik dan naik tangga.

“Santai saja dan nikmati,” katamu.

Aku cuma diam. Kita berjalan berjejeran di atas jalan yang disemen dengan warna merah tua. Hutan kecil ini sebenarnya cukup bagus. Di salah satu sudut aku lihat sebuah taman bermain. Ada ayunan, titian keseimbangan, dan beberapa jenis tempat bermain lainnya. Warna yang cerah merah hijau kuning sangat kontras dengan lanskap sekitar yang berwarna coklat didominasi oleh batang-batang pohon yang mulai meranggas dan dedaunan yang sudah gugur di atas tanah.

“Selamat berjuang. Lawan ketakutanmu anak muda!” katamu memotivasi ketika kita mulai naik tangga. Kamu di depan dan aku di belakang.

Baru satu set tangga dan akan berbelok ke tangga berikutnya, aku sudah mulai gemetar. Bah! Mungkin karena tahu sedang dalam ujian, membuatku malah lebih tertekan. Oke, aku akan sampai di puncak, batinku ketika berbelok ke tangga kedua. Aku memilih berjalan di sisi kanan tangga karena tangga selalu berbelok ke kanan. Dengan demikian aku tidak berada di tepi menara, tetapi di bagian tengahnya. Pelan aku pastikan langkah sambil terus berpegang ke besi pegangan di pinggir tangga. Besi itu putih. Mengkilat. Dan dingin. Aku rasakan telapak tanganku yang tanpa sarung mulai kedinginan. Dalam hati sedikit menyesal mengapa tidak mempersiapkan sarung tangan sebelumnya. Tapi penyesalan itu datang terlambat. Sekarang aku harus berjuang dengan apa yang aku punya. Naik terus.

“Jangan melihat ke bawah terus, nanti kamu bisa semakin ketakutan,” aku dengar suaramu dari atas sana. Aku lihat ke atas. Karena tangga dibuat dari jejaring baja, maka aku bisa melihat bahwa kamu sudah beberapa putaran di atasku. Dan aku juga bisa melihat ke bawah, langsung ke dasar menara. Bangsat desainer menara ini. Mengapa dia tidak merancang anak tangga dari plat baja yang padat? Mengapa harus jejaring baja? Apa dia memang berniat iseng terhadap orang-orang yang takut ketinggian seperti aku? Oke, tak ada waktu untuk mengutukinya.

Entah sudah berapa putaran tangga. Aku naik terus. Telapak tangan terasa semakin dingin. Terutama karena aku terus-terusan berpegangan pada besi putih pegangan di samping kanan. Sekali waktu aku lihat ke luar, sekarang di kejauhan sudah terlihat Teluk Riga yang merupakan bagian dari Laut Baltik. Itu artinya aku sudah lebih tinggi sekarang dari pepohonan. Sekilas aku lihat pucuk-pucuk pohon yang meranggas. Hampir saja aku teruskan pandanganku ke bawah. Tidak. Lihat ke atas saja.

Setelah beberapa putaran, aku berhenti sejenak. Memandang ke kejauhan Laut Baltik. Beruntung kabut mulai berkurang jadi jarak pandang lumayan jauh. Tak satupun kulihat kapal di sana. Bah, laut macam apa ini?

“Ayo, teruskan. Jangan kalah sama orang tua sepertiku,” aku dengar suara dari atas sana.

Aku lihat ke atas, dari balik tangga baja yang menjeruji aku lihat kamu tersenyum. Sekarang senyummu terlihat berbeda. Satu kali terlihat memotivasi. Lain kali terlihat mengejek. Kurang ajar juga orang tua satu ini, batinku. Oke, aku takkan menyerah.

Tiupan angin mulai terasa, tetapi aku rasakan dengan pasti keningku berkeringat. Mungkin karena aktivitas tubuh atau juga karena ketakutan. Atau karena dua-duanya. Dingin di tangan sudah tak terasa. Langkah terasa semakin berat. Kini aku mulai menyesali mengapa aku datang dengan sepatu hampir seberat satu kilogram ini. Coba kalau sepatu yang lebih ringan, mungkin bebanku tidak akan seberat ini. Tetapi, lagi-lagi tidak ada waktu untuk menyesal. Aku lihat ke atas, sekilas sepertinya aku sudah akan segera sampai di puncak menara. Pada saat yang sama aku mulai merasa pusing. Mungkin karena gerakan naik tangga yang terus berputar di satu sumbu pusat. Apa boleh buat, sekarang mata harus dipejamkan sejenak.

“Ayo, minum sedikit lagi semuanya akan beres,” tiba-tiba aku dikejutkan suara asing persis di hadapanku. Aku buka mata. Ada orang lain yang bergerak turun. Bukan cuma kita berdua di menara ini ternyata.

“Terima kasih,” jawabku pendek sambil tersenyum. Orang itu juga tersenyum dan membuat gerakan seperti bertepuk tangan tetapi dalam irama yang sangat cepat. Dan diapun berlalu ke arah yang berlawanan.

Kepalaku terasa semakin pusing. Dan dunia mulai berputar. Tak ada jalan lain, aku harus duduk di tangga sekarang. Naik atau turun tampaknya sama saja, efeknya paling cuma rasa pusing yang akan semakin sangat. Hampir lima menit aku memejamkan mata.

“Aku mau turun saja, sudah cukup,” teriakku ke arah atas.

“Hahaha.. kau ini anak muda. Kamu telah memulainya. Jangan tinggalkan sesuatu terbengkalai dalam hidupmu,” aku dengar balasan. Kali ini aku tak melihat ke atas atau ke bawah. Cuma terus memejamkan mata. Karena lama duduk, aku mulai merasa kedinginan.

“Aku kedinginan. Aku bisa mati di atas sana.”

“Kamu cuma butuh lima putaran lagi untuk mencapai puncak.”

“Lima putaran itu sangat banyak.”

“Terserah. Tetapi penting mungkin aku katakan padamu. Dulu aku mengawali jadi penulis fiksi. Tetapi aku tidak melanjutkannya. Aku tidak menuntaskan pekerjaan yang sudah aku awali. Akhirnya aku sekarang berakhir begini, menjadi penulis buku-buku sampah.”

“Jangan bilang begitu. Apa yang kamu tulis itu bukan sampah. Toh buku-buku informasi juga ada gunanya.”

“Hahaha…, kita sama-sama tahu kalau kamu cuma basa-basi.”

Aku diam. Benar juga dia, karena tadinya aku mengatakan itu untuk membesarkan hatinya.

“Ya, memang mungkin ini tidak ada hubungannya dengan kehidupanmu nanti. Ya, cuma naik menara dan melawan ketakutanmu. Kamu bebas memilih. Mau kembali turun atau teruskan naik. Toh, dalam segala hal pada akhirnya kamu harus memilih.”

Dalam dingin tiba-tiba sebuah potongan memori datang dengan jelas di dalam kepalaku. Masa kecil di kampung di Bukit Barisan sana. Segerombolan anak-anak sedang memanjat pohon. Hanya seorang anak kecil yang tidak memanjat pohon dan melihat dari bawah.

“Ayo naik,” begitu teriakan dari atas pohon.

“Tidak. Aku di bawah saja.”

“Kamu harus naik. Nanti bagaimana kalau datang babi hutan yang mengamuk? Dia bisa menyerangmu.”

“Aku bisa lari berbelok-belok. Babi hutan kan cuma bisa berlari lurus.”

“Ayolah. Coba sekali. Pohon yang banyak cabangnya lebih mudah.”

“Lalu, bagaimana?” Tiba-tiba suara dari atas membuyarkan layar memori dari dalam kepala.

“Oke, aku datang!” sahutku.

Aku langsung membuka mata dan berdiri. Menatap ke atas. Sekarang aku dapat melihat puncak menara. Dengan berpegang ke besi putih pegangan aku terus bergerak berputar. Sekarang aku bisa mendengar gelombang lemah Laut Baltik. Sangat lemah. Sayup-sayup hinggap di telinga.

“Ayo, tinggal dua putaran lagi,’ kembali aku dengar suara dari atas. Kali ini semakin keras, mungkin karena jaraknya semakin dekat.

“Ya, aku tahu. Jangan teriak-teriak lagi. Diam saja.”

Dan aku terus bergerak. Dingin, suara gelombang, lutut gemetar, sepotong imaji masa kecil di tengah hutan tropis Bukit Barisan, sekarang semuanya bercampur aduk tak tentu. Aku terus bergerak. Ya, tak ada yang bisa menghentikanku sekarang, batinku. Tidak ketakutan. Tidak dingin. Tidak suara lemah gelombang Laut Baltik. Tidak gemetar. Dan tidak bayang-bayang masa lalu. Tidak. Aku terus merengsek naik. Tak peduli dengan putaran dan semua.

Hingga akhirnya samar aku lihat bayangan seseorang berdiri di depanku dengan latar belakang Laut Baltik yang memutih di kejauhan sana. Aku merasa hangat. Orang itu memelukku.

“Selamat. Kamu berhasil melawan ketakutanmu sendiri.”

Aku hanya diam. Masih dalam tatapan yang nanar aku tersenyum. Suara gelombang itu sekarang, meski perlahan, terdengar sangat jelas.

Leuven, November 2011

Tiga Malam di Budapest

Tiga Malam di Budapest

Oleh Bosman Batubara

***

Di atas kereta yang membawa kita dari Bratislava ke Budapest, secara tidak sengaja kita bertemua dua orang sahabat baru. Adalah sebuah kebetulan. Kita naik kereta dari Hlavná Stanica, Bratislava. “Kamu harus memanjangkan pengucapannya kalau ada hurup a dengan tanda koma di atasnya,” katamu suatu ketika mengajariku. “Oke, harus memanjangkan pengucapan kalau ada hurup a dengan bunga di atasnya. Hlavnaaa Stanica,” jawabku. Kita berada satu ruangan dengan Mario dan Mohammed. Mario berasal dari Hungaria, dia tinggal di sebuah kota kecil di dekat Budapest. Sementara Mohammed berasal dari Irak. Tetapi sebagian besar usianya yang hampir 60 tahun dia habiskan di Amerika Serikat.

Pada awal kita di ruangan itu, agak sedikit canggung. Mario dan Mohammed sudah bercerita ke sana kemari. Yang sempat aku dengar mereka berbicara mulai soal demokrasi, krisis finansial yang melanda Eropa, hingga soal Islam di Timur Tengah. Seru sekali kedengarannya. Sementara kita berdua, seolah terpukau menyimak omongan mereka, cuma diam terpaku. Sesekali kamu memberikan bungkus coklat yang kamu pegang padaku. Aku ambil satu bongkah, aku berikan lagi kepadamu. Berganti-ganti. Hingga akhirnya coklat sebungkus itu habis kita makan, dan aku sudah tak tahan lagi untuk tidak bergabung dalam obrolan mereka. Sepertinya kamu juga demikian, aku bisa rasakan itu dari tatapan matamu.

Boleh aku gabung dalam obrolannya,” akhirnya aku meledak. Pada awalnya Mario dan Mohammed melihat ke arahku dengan tatapan aneh. Tetapi tak lama kemudian Mario menetralisir suasana, “tentu saja. Kamu dari mana?” tanyanya.

Aku dari Indonesia. Dan Katka dari Slovakia,” jawabku. “Dan anda darimana?” Dan sejak itulah es di ruangan jadi mencair. Obrolan pun mengalir seperti sungai-sungai berair deras di Bukit Barisan. Tak putus-putus. “Kalau kalian lebih lama di Budapest, ada baiknya mengunjungi kastel itu,” kata Mario suatu waktu sambil menunjuk ke luar jendela kereta yang sedang melaju. Di kejauhan, di puncak sebuah bukit terlihat sebuah kastel tua berdiri anggun dengan latar depan Sungai Danube yang mengalir tenang seperti tak bergerak.

Ketika akhirnya sampai di stasiun kereta di Budapest, Mario menemani kita untuk membeli Budapest Card di salah satu kios kecil di dalam stasiun. Sebelumnya dia juga merekomendasikan beberapa tempat di Budapest yang wajib dikunjungi oleh para pelancong. Dan tentu saja tak lupa pula Mario menyarankan kita untuk mencoba Pálinka, katanya itu salah satu minuman terbaik Hungaria.

Setelah menukarkan uang Euro yang kita miliki ke Forint Hungaria, kita pun keluar dari stasiun kereta Keleti Pályaudvar. “Sebatang rokok di luar sana sepertinya menarik dan kita bisa sedikit mempelajari peta dan buku ini,” katamu sambil mengangkat buku panduan bagi turis di Budapest dan Peta Resmi kota yang baru saja kita peroleh sebagai bagian dari paket Budapest Card.

Hari sudah menjelang malam ketika kita keluar dari stasiun kereta. Di jalanan terlihat orang-orang yang bergegas. Dari bawaannya kelihatan bahwa mereka adalah orang kantoran. Kita terus bergerak. Dan akhirnya menemukan kursi-kursi di tepi jalan raya dengan sebuah gedung berwarna kekuningan di depannya. “Sepertinya aku bakal suka kota ini,” kataku ketika kita duduk di kursi panjang.

Ya, aku kira kota ini cocok sekali denganmu,” sahutmu.

Kok kamu bisa mengatakan begitu?

Hmmm aku belum terlalu jelas sebenarnya mengapa. Cuma aku merasa bahwa kota ini sangat cocok untukmu. Sekilas aku lihat agak tidak tertib. Seperti hidupmu. Di lain waktu aku lihat sedikit eksotik dibandingkan dengan kota-kota yang lain di Eropa. Ada nuansa masa lalu. Perhatikan warna kota yang seperti karat. Penuh nostalgia. Persis seperti kamu.

Jadi menurutmu aku ini eksotis?

Kok kamu malah cuma menangkap bagian eksotisnya? Berapa kali aku katakan padamu bahwa kamu ini eksotis? Atau kamu hanya ingin agar aku mengulang-ulang mengatakan bahwa kamu ini eksotis? Coba lihat sekelilingmu, semua orang berambut pirang, kamu mungkin satu-satunya yang berambut hitam. Apa itu tidak esksotik namanya? Coba kamu lihat, semua orang berkulit putih kemerahan, kamu berkulit coklat. Apa itu tidak eksotik namanya?

Hahahaha…Kalian ini orang-orang Eropa, menganggap orang lain eksotis. Tapi wajar sih, andai kamu di Indonesia kamu juga akan menjadi eksotis. Mungkin kamu akan dengan mudah jadi bintang film di Indonesia. Orang-orang memang selalu begitu ya. Paling senang dengan apa yang tidak dia punya. Aku pikir ini bukan cuma soal rambut, kulit, atau yang fisik-fisik begitu, tetapi juga menyangkut pekerjaan dan sebagainya.

Ya, bisa jadi.

Oke. Cukup soal eksotisme. Sekarang kita buka peta,” kataku memutus pembicaraan soal eksotisme.

Hostel kita berada di sekitar statiun metro Astoria. Jadi menurut peta ini kita butuh melewati satu stasiun metro dan kemudian turun.

Dan ternyata bukan hanya sebatang rokok yang kita habiskan di kursi panjang. Sebatang rokok diikuti oleh satu porsi kentang goreng untuk berdua yang kita beli di dekat stasiun. Satu porsi kentang goreng diikuti sebatang rokok yang lain. Satu batang rokok yang lain diikuti pula oleh satu botol bir. Dan pada akhirnya kita tidak naik metro ke Astoria, tetapi memilih berjalan kaki.

Dengan berjalan kaki kita akan melihat kota lebih banyak,” katamu. Dan aku cuma mengangguk-angguk setuju.

Agak kseulitan untuk menemukan Hostel Budapest Centre, karena ternyata dia hanyalah sebuah hostel yang sangat kecil. Apalagi pada malam hari. Belakangan kita tahu bahwa Hostel hanya dikelola oleh beberapa orang mahasiswa yang sepertinya bekerja paroh waktu. Pada awalnya kita sempat terkejut, karena menemukan Hotel Budapest Centre yang lumayan besar. “Aku pikir ini bukan hostel yang kita pesan,” kataku.

Tapi lihat, tulisannya Hotel Budapest Centre,” sambungmu sambil menunjuk-nunjuk ke arah papan nama Hotel Budapest Centre.

Tapi itu kan Hotel Budapest Centre, bukan Hostel Budapest Centre,” sambungku. Dan ternyata kali ini aku benar, begitu kita tanya resepsionis di Hotel Budapest Centre dia menerangkan kepada kita dimana letak Hostel Budapest Centre. Dan begitu kita keluar dari lobi hotel, setelah beberapa jarak, kita bertatapan dan kemudian tertawa bersama. Dan setelah masuk ke sebuah jalan kecil yang masih di seputaran stasiun metro Astoria, akhirnya kita menemukan sebuah kertas di tembok yang bertuliskan Hostel Budapest Centre.

Dan kembali kita bertatapan dan tertawa. Dan malam itu, kita tertawa tanpa berhenti karena semua kejadian yang kita hadapi seolah-olah sudah diset.

Begitu kita sampai di meja resepsionis Hostel Budapest Centre, seseorang langsung menyambut kita dan menegur dengan sangat ramah, menyalami kita dan kemudian mulai berbicara soal tetek bengek menginap di Hostel. Sebuah kamar kecil, akan tetapi membuat kita terkejut bukan kepalang karena ternyata setelah kita hitung-hitung di kamar kecil berukuran sekitar lima kali enam meter itu ada sebanyak dua belas colokan listrik. Siapa yang tidak tertawa menghadapi situasi begitu? “Aku merasa orang itu mengucapkan ‘selamat, sudah menemukan tempat ini’ ketika menyalami kita,” katamu ketika kita sudah selesai merapikan barang-barang bawaan di lemari kecil di pojok kamar. Dan kembali kita tertawa tanpa kontrol.

Dan malam itu kita tutup dengan memeriksa peta kota dan mulai merencanakan tempat-tempat yang mesti dikunjungi di Budapest. Dalam beberapa trip yang kita lalui, kita memang tidak pernah merencanakan sesuatu sebelumnya. Biasanya hanya pergi, cari peta dan jalan kaki. Beberapa kali tersesat, “tapi kan tersesat itu bagian paling indah dari sebuah perjalanan,” kataku suatu ketika.

Kita bangun pada pagi yang benar-benar terlambat. Mungkin karena terlalu capek. Tetapi kita sepakat menyalahkan kamar yang hampir tidak ada sinar matahari masuk. Aku sudah tidak ingat pasti pukul berapa, tetapi kita memulai hari dengan sarapan sekaligus makan siang di salah satu restoran di seputaran Astoria. Dari sana kita bergerak ke arah Király utca, melewai Dohány Synagogue yang konon merupakan synagoge terbesar kedua di seluruh dunia.

Kamu mau masuk ke Synagoge?” tanyaku.

Tidak. Aku ingin ke Galeri Seni acb di Király utca,” dan kita pun meneruskan langkah setelah beberapa menit mengamati gedung Synagoge yang terususun dari bata kemerahan.

Seperti yang tertulis di peta, tidak sulit bagi kita untuk menemukan Galeri Seni acb. Cuma kita berdua pengunjung galeri itu. Karena memang ternyata galeri itu bukanlah sebuah galeri yang besar. Di sana kita disambut oleh seorang perempuan yang sudah tidak muda lagi, tetapi masih terlalu muda untuk dipanggil ibu. Mungkin umurnya sekitar 30an tahun. Dia terlihat anggun dan matang. Katalin, demikian perempuan itu memperkenalkan diri. Karena memang tamunya cuma kita berdua, maka dia punya banyak waktu untuk menunjukkan galerinya kepada kita.

Dari Katalin kita tahu bahwa ternyata mereka sering mengadakan pameran-pameran para seniman muda yang masih mencari jati diri. Para seniman seperti itu biasanya belum terlalu komersial. “Aku suka yang ini,” kataku ketika kita berdiri di depan sebuah lukisan kaset yang dengan jelas memperlihatkan pita yang putus.

Apa yang dapat kamu ceritakan dari lukisan ini,” tanya Katalin.

Aku merasa bahwa kaset ini berisi sesuatu cerita yang penting. Tetapi ada orang yang tidak ingin cerita penting ini terdengar, maka dia memutus pita kaset. Dan si seniman berhasil menangkap itu dengan sangat bagus,” jawabku.

Katalin tersenyum dan kemudian menjelaskan bahwa pelukisnya berusia 30 tahun. Dua jam lebih kita berputar-putar di dalam galeri kecil itu sambil beberapa kali berhenti di depan lukisan dan mendengarkan Katalin menjelaskan lukisan satu per satu.

Kamu tahu, sebenarnya aku ingin menjadi kurator,” katamu ketika kita sudah berada di luar galeri sambil bergandengan tangan di sepanjang jalan Bajcsy Zsilinsky. Di salah satu sudut ada sebuah mural yang sangat bagus yang memperlihatkan aktivitas kelas pekerja dan membuatku bercerita tentang Diego Rivera.

Tapi kan kurator tidak berkarya, hanya mengomentari karya orang lain,” pada akhirnya aku menanggapimu setelah memborbardirmu dengan Diegor Rivera.

Justru itu, karena aku tidak bisa melukis, makanya aku ingin jadi kurator saja,” jawabmu.

Oke, do’aku semoga kamu jadi kurator hebat,” sahutku sambil tersenyum ke arahmu.

Hari mulai terlihat gelap. Belum malam sebenarnya. Baru sekitar pukul lima. Tujuan kita berikutnya adalah Restoran Firkáz Café di di Tátra utca. Karena kita tahu, berdasarkan infromasi dari buku panduan, setiap malam di sana pemenang kontes piano untuk musisi yang bermain di bar-bar di Budapest memperlihatkan kebolehannya di resotoran itu.

Restoran Firkáz Café di sekitar Tátra utca tidak terlalu besar. Tetapi penuh dengan nuansa.  Di sana kita minum sebotol anggur putih dan makan goulash. Katamu itu salah satu makanan khas Hungaria. Dan yang lebih menyenangkan adalah, meskipun terkesan restoran formal dan berkelas, ternyata harganya tidak mahal dan di dalamnya boleh merokok. Pianis itu terus bermain. Beberapa lagu telah sudah. Setiap kali dia selesai, pengunjung yang hanya sekitar sepuluh orang langsung bertepuk tangan. Karena dia memang bermain baik sekali.

Dari sana kita bergerak ke arah Sungai Danube. Oh ya, menurut Mario, di Hungaria orang menyebut Sungai Danube dengan Duna, sebuah nama yang sudah menyesuaikan diri dengan lidah orang Hungaria. Berjalan pelan di bawah lampu-lampu di tepi Sungai, melewati mulut Margit Hid dan Gedung Parlemen Hungaria yang tersohor itu, pada akhirnya kita masuk ke stasiun metro Kossuth tér. Sepertinya hidup memang sudah diset, karena begitu kita sampai di jalur yang menuju Astoria, di sana sudah ada metro menunggu. Sedikit agak mempercepat langkah, kamu masuk duluan ke dalam metro. Tetapi apa daya, begitu aku mau masuk, pintu metro tertutup. Secara refleks aku menarik badan dan tidak jadi masuk. Dari balik jendela pintu kaca metro yang sudah mulai bergerak, aku lihat bibirmu yang tipis terbuka mengucapkan sesuatu seperti “Astoria”.

Apa boleh buat, aku harus menghabiskan beberapa menit tanpamu menunggu metro berikutnya. Dan ketika aku turun dari metro di stasiun Astoria, kamu sudah ada di sana. Kita langsung berpelukan seolah-olah kita tidak bertemu berabad-abad lamanya.

Hari kedua kita habiskan dengan berjalan kaki di seputar Kastel Buda di puncak bukit. Dari sana kita bisa melihat kota Budapest di bagian bawah sana. Termasuk gedung parlemen yang terlihat manis di tepi Sungai Duna. “Ternyata metro lewat di bawah Sungai Duna,” katamu ketika kita melihat peta dan menemukan bahwa jalan metro memotong Sungai Duna.

Oh, pantas eskalatornya turun jauh sekali, aku pikir mereka harus membangun terowongannya berpuluh-puluh meter di bawah Sungai Duna,” sahutku.

Aku benar-benar jatuh cinta dengan Budapest,” kataku ketika kita berada di Pulau Margaret keesokan harinya. Pulau Margaret sebenarnya hanyalah sebuah gosong sungai di tengah-tengah Sungai Duna, tetapi tangan-tangan kreatif mengubahnya menjadi sebuah taman yang indah.

Apa yang membuatmu jatuh cinta?

Aku tidak tahu persis, cuma rasanya kamu benar bahwa kota ini memang cocok untukku. Aku merasakan aura kota yang hampir sama dengan Yogyakarta, sebuah kota di Indonesia. Di Yogyakarta aku merasa nyaman sekali. Rasanya kota berupa gudang orang-orang kreatif yang selalu ingin mencipta. Tadinya aku pikir Prague adalah kota terbaik, tetapi sekarang aku jatuh cinta pada Budapest.

Ah, kamu itu. Selalu jatuh cinta pada kota baru.

Ya, dan rasanya aku selalu mencinta dengan sepenuh hasrat.

Hahaha… kamu memang intense lover,” katamu, dan aku rasakan hangat kedua telapak tanganmu di mukaku.

Forever,” jawabku sekenanya.

Dari Pulau Margaret kita melanjutkan menyeberangi Sungai Duna melalui Margit Hid. Hari menjelang sore. Lagi-lagi, seperti sudah diset, kita persis berada di seberang Gedung Parlemen ketika mereka mulai menyalakan lampu-lampu di Gedung itu. Pada awalnya, ketika lampu belum dinyalakan, gedung itu terlihat berwarna putih kemerahan. Tetapi tatkala lampu-lampu dinyalakan dan hari mulai gelap, gedung itu berubah menjadi berwarna keemasan yang membias pada Sungai Duna. Sepasang turis dengan aksen Amerika lewat di depan kita dan menawarkan diri untuk mengambil foto kita dengan latar belakang Gedung Parlemen dan Sungai Duna. Tentu saja.

Dan pada akhirnya tak terasa, hari ketiga di Budapest usai sudah. Di kereta menuju Bratislava, kembali kita mendapatkan seorang kenalan baru. Kali ini seorang Pemuda Perancis. Lagi-lagi mulutku tidak tahan untuk tidak mengajaknya berbicara. “Kami punya dua botol Pálinka, kamu mau minum bersama kami?” tanyaku membuka percakapan.

Tentu saja,” jawabnya. Dari obrolan kita jadi tahu bahwa dia berasal dari Paris dan sedang dalam liburan di Eropa Tengah. Katanya dia sedang dalam perjalanan menuju Prague untuk bertemu pacarnya yang tinggal di sana. Dua botol Pálinka habis sudah. Hlavná Stanica sudah di depan sana. “Oke kita sampai,” katamu.

Kita, sudah di Hlavnaaa Stanic?,” tanyaku sambil mengambil tas dan melambai kepada si Pemuda Perancis.

Ai ai ai…, kamu mengucapkannya dengan sempurna baby,” jawabmu sambil melangkah ke luar ruangan di gerbong kereta. Suaramu terdengar sangat indah dan aku rasa penuh dengan kebahagiaan. Dan sekilas aku lihat Pemuda Perancis itu tersenyum. Mungkin dia juga merasakan keindahan dan kebahagiaan dalam suaramu itulah.

Leuven, November 2011

Señorita

Señorita

oleh: Bosman Batubara

Kita bertemu di sebuah pesta. Seorang teman mengenalkanmu padaku, dan sebaliknya. Lucia, katamu singkat waktu memperkenalkan namamu. Dan aku pun menyebutkan namaku. Kita bersalaman dan bertatapan sebentar. Hanya itu. Berikutnya kita kembali larut dalam suasana pesta. Berbincang dengan teman. Tertawa, dan sesekali meneguk bir.

Menjelang tengah malam pesta di ruangan hampir usai. Rencana berikutnya adalah bergerak ke arah Oude Markt, persisnya ke Mechelsestraat 51, di sana ada sebuah cafe tempat orang-orang Latino berdansa. Villa Ernesto, demikian namanya. Sedikit keluar dari Oude Markt. Tidak semua orang pergi ke Villa Ernesto. Hanya bagi orang-orang yang tertarik saja.

Aku sendiri, pada awalnya tidak terlalu suka berdansa. Apalagi meliuk-liuk bergoyang salsa. Bagiku itu adalah barang baru. Risih sekali rasanya bergoyang seperti itu. Dulu, sewaktu di kampung, jangankan membayangkan suatu ketika akan bergoyang salsa, berjoget di pentas dangdut saja aku jarang sekali. Bisa dihitung dengan jari. Malu rasanya berjoget mengikuti irama dangdut di atas pentas.

Tapi itu beberapa tahun yang lalu. Dan semua sudah berubah sekarang. Sejak tinggal di Leuven aku mulai familiar dengan suasana ini. Sekali dua terasa risih. Maklum, tak ada tradisi seperti itu melekat di badan. Tetapi ketiga, keempat dan seterusnya, sudah biasa saja. Dan tentu saja ditambah dengan meningkatnya kemampuan salsaku. Kadang-kadang, selain menerima training khusus dari teman-teman cewek yang berasal dari Amerika Latin, aku juga menambah jam belajar salsaku sendiri dengan menonton video-video teori salsa di You Tube. Terima kasih untuk teknologi yang telah menyediakan You Tube. Entahlah siapa nama penemunya.

Rumah tempat pesta agak jauh dari Mechelsestraat 51. Butuh sekitar waktu setengah jam berjalan kaki. Oh ya, belakangan ini kalau malam biasanya kami lebih suka berjalan kaki. Bukan apa-apa, tetapi kadang-kadang kalau naik sepeda malah bikin masalah. Katakan saja misalnya masalah parkiran dan kehilangan sepeda. Pada malam hari, seringkali parkiran sepeda penuh. Jadi tidak ada tempat untuk mengunci sepeda pada parkiran yang statis. Maka diparkirlah sepeda di sembarang tempat tanpa terkunci ke parkiran statis. Meski sepeda sudah dikunci, tetapi kadang-kadang tetap hilang. Ada saja orang mabuk yang sedang iseng memindahkan sepeda ratusan meter dari tempat dia diparkir. Susah sekali kan malam-malam harus mencari-cari sepeda? Karena itu belakangan kalau keluar malam hari, biasanya teman-teman lebih suka berjalan kaki. Leuven hanya kota kecil, dalam kurang dari setengah jam kita sudah sampai di pusat kota.

Sepanjang perjalanan, kebetulan kamu berada di dekatku. Adahal sebuah dosa besar tak mengajak perempuan di sebelah kita berbicara. “Jadi kamu dari Kolombia?” tanyaku memulai. Karena sebelumnya dari perbincangan di tempat pesta aku sedikit mendengar bahwa kamu dari Kolombia. “Ya,” jawabmu singkat. “Dari kota mana?” sambungku. “Bogota.” Kamu menjawabnya dengan menyebutkan Bogota sedikit tidak biasa rasanya bagiku.

Kamu darimana?” demikian kamu balik bertanya. “Aku dari Indonesia.” Kembali diam. Cuma dari percakapan pendek itu aku langsung sadar bahwa Bahasa Inggrismu tidak terlalu baik, logat Spanyolnya sangat terasa di telinga. Memang demikianlah sepertinya para penutur Bahasa Spanyol. Dengan cepat dapat diidentifikasi andaikan tidak ditanyapun berasal darimana. Terutama dari caramu menyebutkan Bogota, terdengar benar-benar lain.

Sebenarnya aku sedikit mabuk pada waktu itu. Pesta, tentu saja penuh dengan alkohol. Dan sekarang ada perempuan Kolombia di samping. Amboi…

Apa kabar Sungai Magdalena?” tanyaku asal menyambung pembicaraan.

Aku tahu pada waktu itu kamu melihat ke arahku dengan reaksi terkejut. Tentu saja aku pura-pura santai dan terus berjalan. Pasti kamu sedikit terkejut karena aku tahu soal Sungai Magdalena. Sambil tetap menatap lurus ke depan dengan kedua tangan kumasukkan ke dalam kantong sweaterku di bagian perut. Agak lama, baru kemudian aku dengar kamu malah balik bertanya.

Jadi kamu tahu Sungai Magdalena?

Yeah… aku cuma tahu Sungai Magdalena lewat novel. Aku belum pernah ke sana. Tetapi rasanya aku sangat akrab dengan Kolombia.

Novel apa?

Kamu tahu Gabriel Garcia Marquez?” sekarang aku yang balik bertanya.

Tahu. Aku baca bukunya yang, aduh aku tak tahu dalam Bahasa Inggris apa terjemahannya, agak susah.

Kamu bisa menyebutkannya dalam Bahasa Spanyol,” jawabku sambil terus berjalan tanpa merubah posisi.

Cien años de soledad.

One Hundred Years of Solitude?” sambungku.

Yaaaa…Jadi kamu baca juga?

Ya, aku baca banyak buku karangan Marquez. Tapi aku paling suka yang Living to Tell the Tale.”

“Oh ya, mungkin Vivir para contarla,” sambungmu sambil menyebutkan judul buku itu dalam Bahasa Spanyol.

Yeah, aku tidak tahu Bahasa Spanyolnya.

Begitulah semuanya dimulai. Kita terus berjalan ke arah Villa Ernesto. Meski sudah malam, tetapi itu Cafe tetap padat dengan pengunjung. Di dalam musik Latino membahana. Cafe penuh dengan orang yang bergoyang. Kita bersalsa ria sebentar. Aku tidak terlalu pandai bersalsa, katamu suatu ketika. Ah aku tak percaya, tidak mungkin rasanya ada perempuan Latino yang tidak bisa bersalsa. Memang terbukti benar dugaanku. Meski kamu bilang tidak terlalu pandai bersalsa, tetapi toh kayaknya badanmu tetap saja bergerak-gerak mengikuti irama musik.

Tidak sampai setengah jam kita bersalsa. Lantai dansa penuh sesak. Mahasiswa memang paling senang dengan tempat ini. Dansa suka ria. Tertawa. Bir. Sesekali ciuman. Uh, seharusnya hidup memang begitu. Tidak terlalu banyak memikirkan permasalahan sosial seperti kelaparan dan krisis air. Apalagi politik taik kucing. Tapi apa boleh buat, tidak mungkin juga selama hidup semuanya adalah pesta kan? Semuanya itu membuat kita memutuskan pindah ke lantai dua. Di sana bukan tempat dansa. Ada kursi-kursi dan meja-meja untuk duduk dan mengobrol. Setelah memesan masing-masing satu gelasStella Artois, akhirnya kita menuju lantai dua.

Di bawah remang cahaya lampu cafe, aku menyadari bahwa kamu memiliki wajah yang khas. Aku tidak tahu seperti apa, tetapi begitu melihatmu aku langsung saja teringat sama Remedios. Ah, mungkin memang otakku ini sudah sepenuhnya diinvasi oleh Gabriel Garcia Marquez. Apapun yang berhubungan dengan Kolombia, aku sudah susah keluar dari bingkai yang dibangun Marquez. Kurang ajar. Tetapi, wajahmu memang khas Latina. Sumpah!!!

Ceritakan padaku tentang Kolombia.

Apa yang kamu mau tahu dari Kolombia.

Ya, apapunlah.” Sebenarnya aku cuma mau memberikan ruang padamu untuk berbicara. Sebab aku pernah merasakan pada awal-awal di Leuven dulu soal betapa susahnya hidup ketika Bahasa Inggris kita hanya pas-pasan. Aku yakin, alkohol akan membuatmu lebih santai dan tak terlalu peduli dengan bagaimana kamu ber-Bahasa Inggris. Hidup seperti terpenjara, apalagi langsung terjun dalam pergaulan internasional yang menuntut itu. Meski aku pada waktu itu sudah melewati prasyarat mengenai Bahasa Inggris, tetapi tentu saja aku butuh waktu untuk bisa berekspresi dalam Bahasa ini. Toh dia bukan bahasa ibuku. Dan, karenanya aku tahu persis posisimu ketika itu. Kamu hanya butuh banyak mempraktikkannya. Cepat atau lambat, masalah itu pasti selesai juga. Jadi aku tahu kalau kamu butuh pendengar yang budiman.

Pada akhirnya, dugaanku tidak meleset. Aku dengar sendiri kamu berbicara. “Aku masih kesulitan dengan Bahasa Inggris. Di Kolombia tidak banyak orang yang ber-Bahasa Inggris. Semuanya dalam Bahasa Spanyol.

Tidak usah khawatir. Hampir semua orang mengalami hal itu. Aku juga kesusahan kok dulu pada awalnya. Tetapi cepat atau lambat kamu akan menyesuaikan diri. Paling-paling butuh waktu dua atau tiga bulan,” sambutku berusaha meyakinkanmu. “Toh, Bahasa Inggris bukan bahasa ibumu.

Ya, aku harap demikian.

Ternyata pengakuan itu meruntuhkan semua batas. Atau mungkin alkohollah yang bekerja. Dengan lebih lancar kemudian kamu bercerita banyak hal soal Kolombia. Soal Sungai Magdalena yang sekarang mengalami pencemaran. Soal transportasi bus bernama Trans-Millenia di Bogota yang aku rasa mengilhami pembangunan proyek Trans-Jakarta. Dan, hingga akhirnya sampai arsitektur. Ya, ketika kamu berbicara tentang arsitektur, semuanya seperti hidup. Soal bangunan. Soal isme dalam arsitek mulai dari yang dari jaman capek hingga yang kontemporer. “Yeah… Lucia, kamu memang Sang Arsitek,” kataku suatu ketika. “Aku benar-benar ingin pergi ke Lille, sebab aku pernah punya tugas di kampus dulu soal Lille.

Dan malam itu dengan berjalan kaki kita pulang ke asrama. “Jadi kesepakatannya adalah, aku belajar Bahasa Inggris dari kamu, dan kamu bisa belajar Bahasa Spanyol dariku,” katamu suatu ketika pada sepanjang jalan. “Oh jelas, kenapa tidak?” jawabku. Dan malam itu kita berpisah di depan gedung asramamu, karena kita tinggal di gedung yang berlainan. Satu ciuman palsu mengakhiri. Aku sebut ciuman palsu karena ciuman itu memang palsu. Suara cup keluar dari bibir, sementara yang bersentuhan cuma pipi. Buenos noches Señorita. Gracias.

***

Beberapa hari kemudian aku menerima sms darimu, “hola, aku tidak melakukan apa-apa seharian. Aku baru saja putus dengan pacarku.

***

Upssss!!!

[]

Leuven, Oktober 2011

Harimau Sumatra

Harimau Sumatra

oleh Bosman Batubara

***

Taing membuka pelan jendela dapur yang terbuat dari kayu. Udara segar beraroma hutan tropis langsung menerpa masuk ke dalam rumah. Sedikit gerimis rasanya. Ia dapat merasakan kelembaban udara dan beberapa butir semburan air mendarat di mukanya. Seperti biasanya ia berada di dapur lebih dulu dari Ibunya yang memiliki zikir yang panjang di surau. Sementara ia, begitu sholat Subuh selesai, maka setelah do’a yang tidak begitu panjang, segera kembali ke rumah.

Membuka jendela yang menghadap ke arah Bukit Barisan di belakang sana, menikmati kesegaran udara dingin hutan tropis di pagi yang masih remang, adalah menunya hampir tiap pagi. Begitu ia membuka jendela, berhenti sejenak, memandang keluar sana, selalu ia lakukan. Termasuk pagi itu. Gadis itu sangat antusias memandangi pagi remang di luar sana. Setengah berharap setengah takut.

Dalam satu bulan ini ia sudah kehilangan dua orang yang ia cintai. Pertama, ia kehilangan Bapaknya yang meninggal karena sakit tua, dan kedua ia kehilangan Anak namborunya yang telah menjadi temannya sejak kecil. Bagi gadis-gadis Mandailing, anak namboru adalah salah satu bagian dari hidup mereka. Anak namboru adalah anak laki-laki dari saudara perempuan bapak. Dalam posisi Taing, maka anak namborunya itulah yang kemungkinan besar akan jadi jodohnya. Dalam tradisi Mandailing, seorang gadis yang menikah dengan anak namborunya adalah baik belaka, karena dengan demikian mereka dapat merekatkan kembali hubungan kekeluargaan.

Tidak seperti meninggalnya sang Bapak yang relatif mendadak dan jelas kejadiannya, maka hilangnya sang Anak namboru sedikit misterius. Tidak ada yang tahu kapan dan kemana dia persisnya pergi, kalau memang ia pergi; kapan persisnya ia meninggal, kalau ia memang meninggal. Tidak ada kuburannya. Masih misteri.

Taing sendiri tidak percaya, tetapi gosip yang beredar adalah Anak namborunya itu hilang karena dimakan harimau. Dia mendengar gosip itu dari salah seorang temannya ketika mereka mandi di Sungai Batang Gadis. Menurut si teman itu, sudah beredar kabar dari mulut-kemulut di Kampung mereka tentang hal itu.

Adapun detailnya, setelah si Bapak meninggal, karena masih penasaran, maka arwahnya kembali ke dunia. Tetapi tidak dalam bentuk manusia, melainkan dalam bentuk harimau. Dan orang-orang menyebutnya harimau jadi-jadian. Si Anak namboru menghilang karena dimakan harimau jadi-jadian itulah.

Meskipun tidak percaya, Taing hanya diam saja. Tidak ada gunanya membantah gosip pikirnya. Biarkan saja, toh sebaliknya, tidak terbukti juga kebenaran bahwa si Anak namboru telah dimakan oleh harimau jadi-jadian yang merupakan jelmaan Bapaknya itu.

Angin dingin disertai butiran gerimis pelan menerpa mukanya. Kesegaran merasuk seketika. Ia memandang keluar sana. Cahaya mulai datang. Gelap malam masih tersisa walau tak sepenuhnya lagi menguasai cakrawala. Meski masih kabur, Taing sudah dapat melihat bayangan-bayangan di dalam remang pagi itu.

Di kejauhan di bawah pohon karet di tepi hutan, ia melihat sebuah bayangan bergerak di dalam gelap. Antara ingin tahu, sedikit takut, dan mungkin karena terpengaruh oleh gosip yang sedang beredar, ia mengikuti gerakan bayangan itu. Sesosok tubuh besar bergerak pelan, melengos masuk ke arah hutan, dan kemudian menghilang di balik gelap hutan dan lebat semak-semak di bawah pohon-pohon karet itu.

Sesaat ia bengong, tetapi karena bayangan itu telah hilang, Taing melanjutkan aktivitas paginya dengan potongan memori tentang bayangan tubuh besar yang melengos di kegelapan pagi menari-nari di dalam imajinasinya. Ia mulai menyusun kayu bakar di tungku batu. Mengambil serat-serat batang karet hasil deresan. Serat-serat itu sangat bagus untuk memancing nyala api karena bercampur dengan getah yang telah mengering. Hanya dengan satu batang anak korek api, maka serat-serat kayu yang terekatkan dengan getah itu akan menyala dengan cepat, dan menjadi pemantik yang sangat bagus untuk menyalakan api yang lebih besar pada kayu bakar di tungku batu. Ia siapkan panci besar dan mulai menjerang air. Seperti lazimnya tiap pagi.

Panci penuh berisi air sudah terjerang di atas tungku. Ia mengambil jepitan kawat yang tergantung sekira satu meter di atas tungku batu. Beberapa potong daging yang mereka dapatkan pada hari raya Kurban beberapa hari sebelumnya kelihatan terjepit dengan posisi sederhana di antara kawat-kawat. Daging-daging itu mulai mengeras. Mungkin karena terkena asap dan suhu panas di atas tungku selama beberapa hari. Meski mengeras, tetapi baik bagi-daging-daging kurban itu, karena kalau tidak diletakkan di sana, maka ia akan membusuk digerogoti bakteri. Panas dari perapian serta asap kayu bakar telah mengawetkannya dan membuat daging-daging kurban itu bertahan agak lama.

Ia ambil satu potong daging dari jepitan, dan kembali melangkah ke arah jendela kayu yang masih terbuka. Di dalam remang pagi, ia kembali mencari-cari. Berharap akan melihat lagi bayangan sosok besar yang tadi sudah melengos pergi. Harapannya terkabul, karena matanya langsung tertumbuk pada sepasang bola mata yang terlihat seperti lampu di remang pagi. Itu dia, pikir Gadis itu.

Ia lemparkan potongan daging itu ke luar jendela. Dan sesaat kemudian sosok tubuh besar terlihat bergerak di dalam remang menuju ke arah potongan daging. Karena posisinya yang sudah semakin dekat dengan jendela, sekarang Gadis itu dapat melihat dengan lebih jelas. Tubuh belang itu terlihat gagah berjalan di pagi hari. Gerimis agak turun merapat, tetapi tubuh besar itu tidak terlihat basah. Atau mungkin karena pagi yang masih terlalu remang sehingga Taing tidak dapat melihat bulu-bulu belangnya yang agak basah. Semoga tidak kedinginan di luar sana, batinnya.

Harimau itu sekarang sudah berada persis di depan keratan daging Kurban. Gadis itu mengamatinya dari jendela. Di depan keratan daging ia berhenti, dan menatap ke arah si Gadis. Tatapan mereka beradu. Oh, aku mengenal sorot mata itu, pikir si Gadis. Tetapi ia bukan sorot mata milik Bapakku seperti yang banyak digosipkan orang. Bukan. Bukan. Dia bukan jelmaan Bapakku. Tetapi sorot mata siapa? Rasanya akrab, tetapi aku tak tahu itu milik siapa.

Di remang pagi yang gerimis, si Gadis melihat sekilas. Harimau diam hanya gerakan tipis di sekitar kumis. Matanya terlihat sedikit memicing, tidak mengurangi rasa kagum si Gadis. Mata itu begitu bening ternyata. Seakan pemiliknya seperti mau mengatkan sesuatu. Andai mata bisa bicara, mungkin ada seribu kata yang akan menghambur dari mata bening Harimau itu. Si Gadis diam memandangi. Harimau itu menyeringai, taringnya yang runcing terlihat kuat. Dan sesaat kemudian ia memagut keratan daging kurban dari tanah. Mengunyahnya sekali dua, kemudian berbalik badan. Dan kali ini bukan melengos, tetapi menghambur ke dalam hutan. Berlari. Seperti anak-anak yang menghambur ke pangkuan ibunya dan hendak mengadukan sesuatu. Hilang di balik pohon-pohon karet dan lebat belukar. Dan pagipun berjalan sewajarnya bagi si Taing.

***

“Duduklah!”

“Ya Tulang.”

“Aku merasa umurku sudah tidak akan panjang lagi,” demikianlah lelaki tua itu memulai percakapan. Di kursi di depannya seorang anak muda duapuluhan terlihat menyimak. Seolah tidak mau melewatkan satu patah kata, atau satu gerakan tubuh pun dari orang tua yang ada di depannya.

“Tulang akan mengajarkan dua hal padamu. Ini adalah rahasia kaum laki-laki keluarga kita. Aku mendapatkannya dari mendiang kakekmu. Ibumu tidak tahu hal ini.”

Diam sesaat.

“Kita sekeluarga punya kawan dekat. Dia selalu menjaga kita. Menjaga padi-padi kita dari serangan babi hutan. Menjaga kolam ikan di sawah dari serangan berang-berang dan para pencuri. Dan menjaga agar kandang ayam-ayam kita di kebun tidak didatangi oleh musang.”

Tak ada reaksi dari pemuda dua puluhan. Lelaki tua itu kemudian meneruskan, kau harus selalu membaca mantra-mantra ini pada bulan purnama di batu loncatan yang menghubungkan dua tepi sungai di hilir kampung kita. Salah seorang laki-laki dalam keluarga kita harus melakukannya. Kalau tidak kawan ini akan berbalik menyerang kita. Karena saat ini akulah yang mengemban tugas ritual ini, maka kalau nanti aku mati dan tidak ada penerus, maka ia akan memakan si Taing, satu-satunya darah dagingku sendiri.

Bersilalah di batu besar di bibir sungai menghadap ke batu besar di seberang sana sambil membaca dua mantra ini. Mantra pertama kau lafalkan lebih dulu, baru kemudian mantra kedua. Jangan terbalik atau hanya melafalkan mantra pertama.

Batuk yang kering menghentikan Lelaki tua itu. Setelah batuknya mereda, ia meneruskan, apakah kau ada pertanyaan sejauh ini?

“Apa yang akan terjadi kemudian di batu loncatan? Apakah aku akan meloncat dari seberang sini ke seberang sana?”

“Aku tidak bisa menjelaskannya padamu. Ada banyak hal yang tidak bisa kita jelaskan di atas dunia ini, dan seseorang hanya akan mengerti kalau ia mengalaminya. Termasuk tradisi keluarga kita. Dulu aku memiliki pertanyaan yang sama terhadap mendiang kakekmu. Dan jawaban yang seperti kusampaikan kepadamu ini pulalah yang aku terima. Dan setelah mengalami sendiri apa yang terjadi kemudian, aku dapat mengerti lebih jelas tentang semua ini.”

Si anak muda duapuluhan diam. Kali ini ia hanya menatap berharap. Seperti memelas malah. Inilah mantra pertama, lanjut si Lelaki tua dan kemudian ia mengangkat tangan mengisyaratkan agar si anak muda mendekatkan telinga ke mulutnya. Mereka duduk merapat. Lelaki tua itu membisikkan mantra pertama ke telinga si anak muda duapuluhan.

Batuk yang lebih kering menyerang lagi. Dan kali ini jauh lebih kering terdengar daripada sebelumnya. Tubuh tua itu tergoncang-goncang oleh  batuknya sendiri. Ia menarik tubuhnya. Punggungnya terlihat mencari sandaran kursi. Anak muda duapuluhan mencoba memeluknya, dan mengarahkan punggung tua itu menemui sandaran kursi dengan posisi baik.

Mereka saling bertatapan. Anak muda itu merasakan tubuh tua itu agak menengang. Dan sesaat kemudian, dengan mata yang masih menatap ke arahnya, dia merasakan tubuh tua itu mengendur. Semakin mengendur. Dan akhirnya tidak ada aktivitas sama sekali. Tidak ada denyut nadi. Lelaki tua itu meninggal dalam pelukannya. Tinggallah ia kini memikul tanggungjawab. Harus bersemedi di batu loncatan pada bulan purnama yang akan datang. Dengan hanya satu mantra di dalam kepalanya.

Leuven, Maret 2011

Dekují Nicol

Dekují Nicol

Oleh Bosman Batubara

***
“Jadi namamu Nicol?” tanyaku setelah melihat sekilas ke badge yang tergantung di bajumu.

“Ya.”

“Kamu belajar apa?”

“Ekonomi dan Bisnis.”

Sambil diam aku amati gerak-gerikmu yang menyuguhkan bir dalam gelas besar di meja di hadapanku. Sore itu secara random, setelah mengunjungi Museum Nasional di seputaran Wenceslas Square, aku berhenti di Café Svatého Vácalava di Václavské Nám. Ini adalah hari kelimaku di Republik Ceko. Badan sudah terasa sangat capek setelah empat hari sebelumnya kuisi dengan sebagian besar berjalan kaki. Aku sudah kehilangan moral dan semangat untuk berjalan kaki lagi. Betis rasanya sudah mau meledak. Suatu ketika pernah kuraba, keras sekali. Mungkin betis para pemain bola sekeras itu.

Sehabis meletakkan gelas bir berukuran setengah liter di hadapanku, kamu menatap sambil tersenyum. Tipis sekali senyuman itu. Aduhai, aku percaya tatapan dan senyuman itu akan membuat semua laki-laki jatuh cinta tanpa alasan. Merasa mendapat angin, aku lanjutkan.

“Besok aku akan pulang ke negeriku. Aku tidak kenal kamu. Tapi aku suka melihatmu. Maukah kamu membagi alamatmu buatku? Nanti akan kukirimi kartu pos dari negeriku.”

Diam sejenak.

“Tapi malam ini kamu masih di Prague?”

“Ya.”

“Oke. Dua jam lagi waktu kerjaku habis. Kita bisa jalan-jalan seputar kota kalau kamu mau.”

“Serius?”

“Ya.”

“Oke. Sehabis bir ini aku akan pergi ke Museum Komunis. Tapi dalam dua jam berikut, aku akan ada di tempat ini lagi.”

Kembali tersenyum, kali ini lebih lebar, dan bergerak masuk menuju restoran. Dengan tatapan aku ikuti langkahmu, hingga hilang ditelan pintu restoran. Kuangkat gelas setengah liter dan meneguk bir tak henti, hingga hampir tinggal setengah saja. Ketika meletakkan gelas besar di meja kayu, aku jadi teringat seorang teman dari Vietnam. Katanya mereka punya tradisi campancan, begitu dia menyebutnya, entah aku menulisnya secara benar atau salah, karena rasanya setiap kata dalam Bahasa Vietnam selalu saja tak masuk akal antara bagaimana ia ditulis dan bagaimana ia diucapkan. Campancan adalah meneguk apa yang ada di gelasmu dengan sekali angkat. Hingga ludes. Tapi aku bukan orang yang terlalu kuat minum bir. Apalagi ini di Prague dengan gelas setengah liter yang legendaris. Mustahil orang seperti aku melakukan campancan. Tidak apa-apalah. Sebut saja setengah campancan. Dan sekitar lima menit berikutnya, setengah campancan yang lain membuat gelasku jadi kosong.

Setelah membayar bir, aku kenakan kaca mata hitam yang tadinya aku cantolkan di kaos oblong, dan meneruskan berjalan sepanjang Václavské Nám. Prague di musim panas ini ramai sekali. Di atas trotoar pecahan Granodiorit persegi yang ditata apik, para pejalan seperti tak pernah putus. Dari Václavské Nám, aku berbelok ke kanan, menuju Na Pŕíkope nomer 10, karena di sanalah Museum Komunis berada.

Aku ingin menulis soal Prague dengan tema Museum Komunis inilah. Rasanya ide ini agak menggelitik. Karena di negara yang dulunya penganut komunis, sekarang komunis telah dimuseumkan. Jadi mungkin sudut pandang itu akan menarik untuk dicermati.

Hampir dua jam aku habiskan di Museum Komunis, mengambil beberapa foto, membaca beberapa keterangan yang tersedia, dan tentu saja tak lupa meminta tolong kepada pengunjung yang lain untuk mengambil fotoku sendiri di bawah simbol palu-arit yang terletak di ruang interogasi di dalam museum.

Bergegas aku kembali melangkah menuju Václavské Nám, karena sudah dua jam lebih sejak kamu bilang dua jam lagi waktu kerjamu habis.

Di kursi yang aku tempati sebelumnya, kulihat kamu duduk begitu saja dan tersenyum melihat kedatanganku.

“Oke, aku datang.”

“Aku ambil tas dulu ya.”

Sesaat kemudian kamu bergerak ke dalam restoran, dan sekitar lima menit sesudahnya keluar dengan ransel kecil di punggung. Kamu mendekat,

“kamu mau kemana?”

“Aku tidak punya ide lagi, rasanya aku sudah menyinggahi tempat-tempat yang menurut orang bagus di Prague, dan kamu kan yang tahu kota ini, jadi aku ikut sajalah.”

“Besok pesawatmu jam berapa?”

“Jam enam lewat sepuluh pagi.”

“Wah, berarti kamu harus ke bandara tengah malam, karena kamu tidak akan mungkin mengejar pesawat sepagi itu dari kota. Tram pertama besok sepertinya sekitar pukul lima,” begitu kamu menjelaskan sambil mulai melangkah di trotoar.

“Oke,” kataku sambil juga mengayun langkahku mengikutimu.

“Jadi bagaimana dengan Museum Komunis?”

“Ya, lumayan lengkap. Ada banyak benda-benda yang berhubungan dengan kelas pekerja dipajang di sana.”

“Oya?”

“Ya, ada sekop, ada sepeda tua, dan juga fragmen mesin-mesin tua.”

“Kenapa kamu pergi ke Museum Komunis? Kan ada banyak Museum di Prague?”

“Karena aku mau menulis soal itu. Lagipula aku sudah mengunjungi Museum Nasional. Aku suka Museum itu, terutama blok Paleontologinya. Ada banyak binatang yang diawetkan. Dan fosil besar yang digantung di langit-langit itu bagus sekali.”

“Jadi kamu penulis?”

“Sebutan yang terlalu megah sebenarnya. Aku bukan penulis profesional. Hanya menulis ketika aku suka. Aku masih kuliah, sama seperti kamu. Cuma kalau aku tertarik sesuatu, biasanya aku menulisnya.”

“Kamu tertarik dengan Komunis?”

“Ya, sebagai pelajaran sejarah sangat menarik, meski pada akhirnya sama saja.”

“Sama saja, maksudnya?”

“Nicol, menurutku komunis dan kapitalis sama saja. Yang berkuasa tetap lupa kepada mereka yang tak berdaya. Mungkin ada bedanya, meski sangat tipis.”

“Apa?”

“Rezim komunis ingin menyulap semua orang jadi produsen, sementara rezim kapitalis mau menjadikan kita semua sebagai konsumen.”

“Wah, aku tak tahu. Apa yang kamu tulis? Artikel?”

“Ya, sebagian besar. Sekali dua menulis cerita pendek.”

“Kamu tahu, Museum Komunis itu ide awalnya datang dari seorang seniman Amerika. Aku tidak tahu siapa namanya, seseorang mengatakan kepadaku seperti itu.”

Aku diam sesaat mendengar penjelasanmu. Kita terus melangkah. Di kejauhan terlihat atap gedung National Theatre Prague yang berwarna kuning emas.

“Ceritamu membuatku kehilangan semangat untuk menulisnya.”

“Hahaha,.. Kamu masih bisa menulis sesuatu yang lain. Banyak yang bisa ditulis soal Prague.”

“Yah, mudah-mudahan aku menemukan tema yang lain. Atau mungkin aku akan menulis tentang kamu saja.”

“Wow… akan menulis tentangku?”

“Ya, mungkin saja. Sebuah cerpen tentangmu untuk mengenang Prague dan perjumpaan kita.”

“Amazing!!! Jadi aku bakal jadi karakter dalam cerita itu?”

“Kenapa tidak Nicol?” sambutku, sambil melirik langsung ke matamu. Aku lihat bola mata kebiruan itu berbinar.

“Dekují.”

“Prosim.”

“Kamu bisa Bahasa Ceko?”

“Cuma dua kata itu, terima kasih dan terima kasih kembali. Bahasa kalian terlalu patah-patah. Aku punya beberapa teman dari Ceko dulu, setiap kali mereka berbicara dalam Bahasa Ceko, bagiku semuanya hanya bla bla bla… Oh ya, aku tahu satu kata lagi, Slivovicé. Dulu seorang teman membawakan oleh-oleh Slivovicé buatku. Kadar alkoholnya tinggi sekali. Katanya lebih dari 50 persen.”

“Hahaha… aku pikir tiga kata itu cukup buatmu.”

Aku cuma melirikmu sambil tersenyum. Kita terus melangkah. Kali ini berbelok menyusuri Sungai Vltava. Sekilas kulihat air sungai yang berwarna sedikit kehijauan. Paling-paling mengalami eutrofikasi, terlalu banyak alga karena nutrient yang melimpah di Sungai ini. Di kejauhan lampu-lampu di Charles Bridge mulai terlihat. Tandanya malam mulai turun, meski hari masih terlihat terang. Sekilas aku lihat di jam yang menggantung di salah satu tiang lampu, waktu sudah hampir pukul sepuluh.

“Aku tahu sebuah pub yang bagus di tepi Sungai. Cuaca sedang bagus. Kalau hujan mereka tutup, karena tempat itu terbuka tanpa atap.”

“Oke, ikut saja.”

“Di depan sana,” katamu sambil menunjuk sebuah ke depan, ke arah menara Vyśehrad.

Di tengah langkah aku sempatkan mengambil foto Charles Bridge dari kejauhan. Beruntung kamera pinjaman ini lumayan bagus, jadi aku bisa mengambil foto dari jauh.

“Bagus sekali,” kataku sambil menunjukkan foto yang baru saja kuambil kepadamu.

“Beberapa tahun yang lalu mereka mengganti batu-batu pada jalan di jembatan itu, jadi batu yang ada di jembatan itu bukan batu asli lagi.”

“Tidak apa-apa. Tetap bagus,” sahutku. Menjelang menara, kita berbelok dan turun ke bantaran Sungai.

“Mengapa kamu mau menemaniku?” tanyaku ketika kita sudah duduk di kursi pub yang menghadap ke Sungai Vltava.

“Karena kamu terlihat lelah.”

“Apa hubungannya?”

“Karena kamu lelah maka tenagaku pasti lebih kuat, andaikan kamu mau berbuat jahat.”

“Jadi kamu curiga aku akan berbuat jahat padamu?”

“Tidak. Karena selain karena kamu terlihat lelah, alasan berikutnya aku percaya kalau kamu orang baik.”

“Dekují Nicol.”

“Prosim.”

“Na zdravie,” kataku sambil mengangkat gelas besar setengah liter.

“Aha, ternyata kamu tahu kata yang lain.”

“Ya, tiba-tiba saja jadi ingat. Mungkin karena bir Ceko…,”

“Bagaimana bisa?”

“Bisa saja. ,…dan juga mungkin karena ada cewek Ceko. Kata orang semua kemungkinan bisa terjadi di Prague.”

“Hahaha… oke, aku sebut kamu sekarang mahir berbahasa Ceko. Dan, ceritakan padaku soal negerimu.”

“Yah… di Indonesa kami punya belasan ribu pulau, aku tidak tahu berapa persisnya.”

“Wah, di sana pasti seperti liburan setiap hari. Apakah itu dekat Bali?”

“Hahaha… Bali itu salah satu pulau di Indonesia.”

“Oh ya, maaf. Aku baru tahu. Na zdravie buat Indonesia.”

“Na zdravie buat Ceko,” dan gelas kembali beradu di udara.

“Tunggu sebentar,” katamu begitu meletakkan kembali gelas setengah liter, “aku mau pesan lagu buatmu.”

Aku cuma diam, dan melihatmu melangkah mendekati musisi yang dari tadi telah membawakan beberapa lagu. Beberapa saat, kamu kembali datang. Gitaris itu melirik sekilas ke arah kita. Tersenyum. Aku balas dengan senyum, meski tak tahu artinya. Ah, barangkali memang kita tak perlu tahu arti senyum. Cukup secara sederhana dibalas dengan senyum saja. Aku melirikmu. Dan kamu tersenyum. Aku lihat rambut pirangmu sedikit bergerai tertiup angin yang datang dari arah Sungai Vltava. Gitaris itu mulai memainkan gitarnya. Petikan melodi mengalun. Aku tahu nada itu. Dan dia mulai bernyanyi, “Times have changed and times are strange, here I come but I ain’t the same, Mama, I’m coming home…,” Kita diam hingga Mama I ‘m Coming Home-nya Ozzy Osbourne itu selesai.

“Oh, Dekují…Nicol, kamu menyentuh hatiku.”

“Enjoy Prague man,” balasmu sambil tersenyum.

“Yeah, cuma satu jam lagi aku harus ke bandara. Waktu seperti berlari di sini.”

“Itu karena kamu punya waktu yang indah.”

“Sangat. Satu gelas lagi.”

“Oke,” katamu. Sambil melambai ke arah pelayan kamu mengacungkan tanda victory.

Sekira tiga menit, pelayan bar datang dengan dua gelas bir. Tak butuh waktu lama, gelas kita sudah sama-sama kosong. Dan setelah membayar minuman secara terpisah, kita sudah kembali ada di trotoar, bergerak menuju statiun tram yang kelihatan di ujung sana. Di kejauhan Charles Bridge terlihat cantik sekali dengan latar belakang Prague Castle.

“Aku suka kota ini Nicol. Kamu beruntung tinggal di Kota secantik ini. Menurutku lebih cantik dari Paris. Apa sih artinya Prague?”

“Kata temanku Prague artinya langkah memasuki sesuatu. Kalau ada pintu, di lantai biasanya ada garis bekas pintu dimana kita bisa mengenali batas antara dalam dan luar. Nah, langkahmu melewati garis itulah Prague.”

“O, jadi sekarang aku sedang berada pada langkah memasuki sesuatu?”

“Persis.”

“Aku harap semua di depan sana lebih baik. Minimal aku punya titik tolak yang indah malam ini. Kamu tahu Lailatul Qadar?”

“Tidak.”

“Di tempatku orang percaya ada satu malam dalam setiap tahun yang lebih baik dari seribu malam. Bagiku kebaikanmu adalah Lailatul Qadar.”

“Jadi aku lebih baik dari seribu malam?”

“Ya.”

Kembali kulihat kamu tersenyum. Kali ini matamu sedikit menyipit, hampir terpejam.

“Itu tram datang.”

“Oke Nicol, sekali lagi Dekují,” dan satu kecupan di kening menutup perjumpaan kita. Di belakangku tepat tram telah berhenti.

“Tulis cerita tentangku.”

“Pasti,” dan aku pun seperti meloncat memasuki tram. Tidak banyak penumpang di stasiun ini. Pintu tertutup perlahan, seperti tram yang juga mulai bergerak perlahan. Dari balik kaca jendela aku lihat kamu melambaikan tangan.

Leuven, Juli 2011