Nobar Galang Dana Beasiswa

Bersenang-senang, belajar, dan bermakna. Begitulah semangat kegiatan Nonton Bersama film “Banda” yang diselenggarakan oleh Kagama Virtual, sebuah komunitas alumni UGM. Kegiatan diselenggarakan di bioskop megah Episentrum XXI Jakarta pada Minggu, 30 Juli 2017.

Film “Banda The Dark Forgotten Trail” bercerita tentang sejarah asal mula pulau-pulau di Nusantara ditemukan. Riwayat Kepulauan Banda melintasi peristiwa-peristiwa penting. Suara narator Reza Rahadian mengajak kita menembus perjalanan dari abad 17 hingga 21. Mulai dari pentingnya buah pala di Banda, perang rebutan tanah berempah, jalur perdagangan dunia, dan tempat pengasingan Mohammad Hatta yang di sana ia memikirkan konsep nasionalisme.

Tanah Banda pernah diperebutkan dengan tumpahan darah lantaran kaya buah pala, komoditas yang nilainya saat itu lebih dari harga emas. Namun, kemudian pulau ini ditinggal terbalut sunyi. Banda memiliki akar multikulturalisme, dengan penduduk beragam etnis, seperti Jawa, Cina, dan Arab hidup berdampingan secara harmoni. Namun, usai reformasi turut terkena dampak konflik sektarian.

Film ini muncul bertepatan dengan peringatan 350 tahun pertukaran pulau Rhun dan Manhattan. Selain itu, ulang tahun Kagama Virtual yang ketujuh. “Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka merayakan beberagaman dan mengenal sejarah bangsa. Juga, untuk penggalangan dana beasiswa mahasiswa UGM yang kurang mampu,” ungkap ketua penyelenggara Andreas Maryoto, alumnus Teknologi Pertanian UGM.

Nobar Banda KVBelajar sejarah dari medium visual menjadi satu daya tarik penonton. Sebanyak 264 penonton hadir berpartisipasi. Uang yang dibayar guna beli tiket, disalurkan untuk dana beasiswa ratusan mahasiswa UGM. Selama ini beasiswa sudah berjalan dan dikelola secara profesional. Dana yang berhasil terkumpul dari Nobar ini sebanyak Rp 13 juta.

Film “Banda” akan tayang secara resmi perdana di bioskop pada 3 Agustus 2017. Kagama Virtual mendapatkan kesempatan menonton duluan berkat kerjasama dengan rumah produksi Lifelikes. Produser Sheila Timothy menyampaikan ide film ini muncul ketika ekspedisi jalur rempah di jalur sutra. Menurutnya, ini penting memberikan semangat, jadi tahu asal muasal sejarah kita.

Film disajikan dengan cita rasa bangsa sendiri, dengan semua kru orang Indonesia. Dalam proses pembuatan, sutradara Jay Subyakto mengaku tidak mau menonton film dokumenter apapun, agar tidak terpengaruh. Selanjutnya akan dikembangkan komik agar sejarah tidak hanya dikenal orang dewasa, tetapi juga anak-anak. “Ini garis besarnya saja, dari film ini mentriger orang menggali sejarah lebih dalam lagi,” harap Jay.

Belajar sejarah menjadi sarana melihat diri kita yang sesungguhnya. Dan, penggalangan dana beasiswa menjadi sarana berbagi menemukan makna.

Laeliya,

Jakarta, 31 Juli 2017

Advertisements

Hal Positip Dalam Trading Saham

Serial Belajar Teknikal # 4 Hal – Hal Positip Dalam Trading Saham

Rachmat Kurniawan

Banyak org beranggapan investasi/trading saham adalah rumit, njlimet dan mengerikan. Padahal setelah kita mengetahui seluk – beluk investasi sahamternyata mengasikkan dan menarik.

Apa hal positip yang bisa kita dapat dari investasi/trading saham. Pada kesempatan kali ini saya tekankan pada aktifitas trading saham.

Kalo profit ato loss adalah hal yg biasa dari aktifitas trading, tetapi ada hal lain yang bagus bisa kita dapat.

Ini dia hal positip yg bisa kita dapat.
1. Disiplin
Ketika membuat trading plan, kita sudah menentukan entry ataupun exit point. Maka ketika muncul signal tersebut, maka sebagai trader yang baik dan patuh pada trading plan maka kita harus melakukan eksekusi berdadarkan trading plan. Jangan melanggar aturan yang sudah dibuat, kalo melanggar maka bisa berakibat fatal (baca potensi loss besar).

2. Belajar ikhlas
Ikhlas disini dalam artian menerima profit ataupun loss karena memang sesuai dengan trading plan. Jangan galau kalo saham yang barusan cut loss tiba2x terbang tinggi…masih ada hari esok, bursa masih buka. Cari kesempatan pada saham lainnya.

3. Berani jujur
Hal ini terutama terjadi ketika menyentuh harga stop loss, kita harus jujur ke pribadi kita utk mereview kembali trading plan yg sdh dibuat, apakah sudah sesuai atau belum atau perlu ada perbaikan lagi kedepannya supaya lebih baik lagi.

4. Sabar
Sabar dalam menunggu signal buy, bisa berhari2x, atau mingguan utk sebuah saham yg kita amati. Kita bisa belajar dari filosofi laba2x, bagaimana sabarnya dia ketika menunggu mangsanya, dia buat perangkap dan ditungguinnya entah smp kapan…yg jelas dia yakin suatu saat dpt mangsa.
Dalam tradingpun spt itu..kita harus sabar menunggu dan menunggu…harus tahu diri bahwa kita adala retail….

Apa lagi ya……

Moving Average

Support dan Resisten

Seri Belajar Saham # 03 – Analisa Teknikal

Support dan Resisten

Rachmat Kurniawan

Support dan Resisten merupakan paramater kunci dalam melakukan analisa teknikal. Kedua paramater membantu trader untuk menentukan batas harga tertinggi dan terrendah dalam jangka waktu tertentu, terutama pada saat fase konsolidasi.

Jika kita bisa melakukan identifikasi level Support dengan benar maka kita dengan mudah dan sederhana dapat membuat sebuah sistem trading plan dengan baik.

Apa sih Support dan Resisten ???
Support adalah area nilai tertentu yg menahan harga, sehingga harga akan memantul kembali keatas. Karena pada area support dirasa harga sudah “murah” maka trader semakin banyak membeli akibatnya harga akan naik.

Resisten adalah area tertentu yang menahan harga naik lebih tinggi, sehingga pada area ini menjadi batas atas harga. Pada kondisi tersebut buyer banyak melakukan profit taking, karena sehingga harga akan kembali turun.

Pergerakan harga biasanya berada dalam kisaran support dan resisten.

Point penting dari support dan resisten adalah sbb :
1. Harga akan “cenderung” naik apabila berhasil menembus keatas (breakout) resisten.
2. Harga akan “cenderung” turun apabila menembus kebawah (breakdown) support.

2 point diatas yang selalu saya percayai sehingga saya membeli suatu saham yang ketika berhasil menembus resisten.

Dedikasi Tim Dokter Gigi Kagama untuk Karimun Jawa

Oleh: drg Fitri Arini

Dedikasi Tim Dokter Gigi Kagama untuk Karimun Jawa

Setelah berdiskusi panjang lebar akhirnya wacana tersebut dapat terealisasikan. Sebuah kegiatan sosial pun tercetus dan terlaksana pada medio November 2015. Karimun Jawa pun dipiliha, dikarenakan wilayah tersebut yang cukup terpencil, sangat membutuhkan bantuan dan bisa diakses relatif mudah oleh teman-teman KAGAMA. Pengda Jateng, Kagama dan Kagama Virtual akhirnya turun tangan buat program seperti: Konservasi terumbu karang, Pelayanan Kesehatan dan Pengembangan pariwisata.

12243565_10205310427982026_6072935521756326360_n

“tim dokter Kagama”

Acara Kagama “Goes to Desa“ ini didukung banyak pihak. Diantaranya ialah, Bapak Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah dan selaku ketua dari Kagama. Diikuti pula oleh Sekda Propinsi Jateng, Pangdam Diponegoro, Danlanal, Kapolda, Bupati Jepara, Muspida setempat berpartisipasi semua.

12278821_10205310426221982_2559422436355852838_n

“Gubernur Jawa Tengah sekaligus ketua Kagama, Bpk Ganjar Pranowo”

Salah satu program bakti sosial di karimun jawa ialah Bakti Sosial di bidang Kesehatan. KAGAMA mengirimkan Tim Kesehatan lumayan lengkap yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Karimun Jawa. Tim Medis UGM ini dipimpin oleh Dr Cahyono SpOG (K) yang terdiri dari:
Tim Pasukan Dokter spesialis kandungan dan kebidanan 2 orang
Tim Pasukan Dokter spesiakis THT 1 orang
Tim Pasukan Dokter gigi 10 orang
Tim Pasukan dokter umum 2 orang

Cerita bagaimana Tim Pasukan Dokter Gigi KAGAMA membangun gugus kendali mutu kerja dalam bakti sosial ini membekas di perasaan saya secara dalam yang ingin saya share di tulisan ini:

Gugus Kerja Tim Pasukan Dokter Gigi dibagi 2 yaitu Tim Dental Observation dan Tim Dental Treatment.

Tim Medical Observation ini terjun ke lapangan langsung ke dua SD di Karimun Jawa. Tim Dental Observation melakukan penyuluhan kesehatan gigi pada siswa-siswa di Karimun Jawa. Setelah itu ratusan anak-anak sekolah berbaris mengantri untuk di-observasi dengan cepat. Koordinator tim ini adalah Drg. Yayik Gayatri kakak angkatan sayaxsaat kuliah dibantu adek2 kagama: drg Aziz Pratama, drg Rifky, drg Novi dan drg Evi Rosmawati alumnus UMY kebetulan bekerja di klinik saya “Maxilla Clinic dan Apotek”.

12279183_10205310429582066_5735458736339904559_n

“Merawat Pasien”

Bagi yang membutuhkan tindakan ringan maka langsung diselesaikan di tempat itu juga (lokasi ada di SD 1 dan SD 2 Karimun Jawa) misalkan dengan pencabutan gigi susu. Bagi yang membutuhkan tindakan khusus maka segera dikirim ke Puskesmas dimana disana telah menunggu Tim Dental Treatment.

Di Puskesmas yang menjadi Markas Komando Tim Pasukan Dental Treatment berjibaku bekerja. Kiriman pasien benar-benar berlimpah ruah seperti air bah dikarenakan memang daerah ini cukup minim fasilitas pengobatan dan tindakan atas kesehatan gigi. Kebetulan saya berada di Tim ini bersama Drg. Budi dari Pati, drg Agus Ramli dan Devi perawat gigi puskesmaa Karimun. Selain itu, Drg. Mayu yang ahli dalam dikajian Kesehatan Gigi menjadi supporting system dan advisor-nya yang kebetulan riset PhD-nya dulu di Jepang relevan dengan hal ini.

Pencabutan Gigi Susu, Pencabutan Gigi Tetap, Scaling (Pembersihan Karang Gigi), Filling (Tambal Gigi), juga termasuk pengarahan kepada perawat gigi yg bertugas di sana untuk mengatasi komplikasi pasca pencabutan gigi seperti dry socket treatment, penanganan infeksi serta pendarahan, dll.

Para Dokter Gigi dari Tim Pasukan Dental Treatment berjibaku sampai gigi-gigi terakhir si pasien bisa diobati. Tapi dasar pasiennya tahu betul ini pengobatan gratis maka bukannya malah berkurang, malah makin tambah panjang saja antriannya. Lah karena biaya pengobatan gigi amat mahal disini. Untuk cabut gigi misalkan kadang harus ke Jepara. Biaya transport ke Jepara 400 ribu, biaya akomodasi selama di Jepara bisa 300 ribu, biaya cabut gigi dan tindakan lainnya bisa 200-300 ribu. Total Jenderal bisa 1 juta sendiri.

11221769_10205310428862048_1113942428033743_n

“Berkumpul”

Hari ini ada Tim Pasukan Dental Treatment KAGAMA memberi pelayanan gratis. Yah sudah berebut datang bahkan ada minta kedua giginya yang rusak (memang harus dicabut), minta dicabut keduanya sekaligus saat itu juga karena tahu ini tindakan medis gratis. Lah karena yang antri untuk dapat tindakan banyak sekali terpaksa Tim Dentist cuma bisa layani hanya beberapa pasien saja yg cabut langsung 2 gigi. Terlalu kewalahan dengan banyaknya pasien yg harus dilayani, apalagi kursi gigi hanya satu dengan bur saja dan belum lagi lampu yang mati. Disini pengalaman dan jam terbang dokter-dokter gigi KAGAMA benar-benar diuji dalam tantangan kasus riil di lapangan: pasien.
Tetapi tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Setelah seluruh barisan pasien selesai dikerjakan. Dari wajah-wajah desa nan polos mereka tersenyum ucapan tulus terima kasih yang benar-benar maknyus lega di hati yang menerimanya. ”Maturnuwun Bu Dokter”, ”Maturnuwun Pak Dokter”, terucap polos yang membuat hati bahagia mendengarnya. Kepala puskesmas dr Dino juga mengapresiasi tim drg kagama ini dan berharap kegiatan ini rutin dilakukan

Akhir dari bakti sosial ini ditutup dengan menikmati keindahan Kepulauan Karimun Jawa.

Pantai Karimun Jawa, 20 November 2015

Bakti Kami: Kepedulian Alumni UGM untuk Karimunjawa

Bakti Kami: Kepedulian Alumni UGM untuk Karimunjawa

 

IMG_7591.2
Foto: Harits Yunan

Pengurus Pusat Keluarga alumni Universitas Gadjah Mada (PP Kagama), Pengurus Daerah (Pengda) Jawa Tengah, Pengurus Cabang (Pengcab) Jepara, Pati, dan Blora serta KAGAMA Virtual pada tanggal 13-15 November 2015 mengadakan acara bakti sosial yang dikenal dengan “Bakti Kami untuk Karimunjawa”. Acara diikuti oleh 86 peserta. Kegiatan dimulai dengan keberangkatan peserta dari Pelabuhan Kartini Jepara menuju Karimunjawa pada Jumat 13 November 2015.
Panitia acara adalah Satuan Tugas (Satgas) Kagama untuk Karimunjawa yang dikukuhkan dengan SK dari PP Kagama. Program kepedulian ini akan berjalan selama tiga tahun. Program tersebut berupa konservasi terumbu karang, pelayanan kesehatan, dan pariwisata di wilayah Karimunjawa. Acara ini mendapat dukungan dari UGM dan beberapa sponsor seperti PT KMI Wire and Cable, Perhutani, Brantas Abipraya, PT Sinergi Media Lestarindo, Bank Jateng, dan Jimmy & Associates.
Ganjar Pranowo, selaku ketua Kagama sekaligus Gubernur Jawa Tengah, membuka acara secara simbolik dengan pemukulan gong di Puskesmas Karimunjawa.
“Harapan kita agar Karimunjawa dapat dijadikan wilayah wisata yang maju tetapi juga tidak seperti daerah lainnya yang kurang memperhatikan budaya setempat. Wisata di sini harus tetap memperhatikan sopan santun lokal yang tetap harus dijaga,” Ganjar penuh semangat menyampaikan kepada peserta bakti sosial.
Selanjutnya, sambutan oleh Bupati Jepara H. Achmad Marzuki SE dan dilanjutkan sambutan ketua pelaksana Satgas, Heri Kustanto ST yang menjelaskan tentang latar belakang acara.

IMG_7560
Foto: Harits Yunan

Setelah itu Ketua Kagama dan peserta mengunjungi para pasien yang sedang dirawat di Puskesmas, lalu ke lokasi pantai untuk melepas beberapa penyu ke laut. Berdasarkan PP no 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa, penyu merupakan hewan yang dilindungi. Penyu yang berada di darat ini awalnya karena terjerat jaring pukat nelayan, kemudian Balai Taman Nasional menyitanya. Atas inisiatif Satgas Karimun Kagama, penyu-penyu tersebut dilepas di laut bebas dan diberikan tanda/taging sesuai prosedur yang ada.
Untuk program konservasi terumbu karang, Ketua Kagama bersama tim selam UGM dan pemandu lokal yang berpengalaman, menyelam untuk melihat terumbu karang yang telah ditanam sejak 28 Oktober oleh tim selam UGM. Tujuan konservasi adalah memindahkan karang yang sudah ditanam ke nursey ground-nya, pemindahan ruang/tempat pembesaran, atau pemeliharaan karang yang sudah ditransplantasi.
Karimunjawa merupakan daerah kepulauan yang dikelola dengan manajamen Taman Nasional dan diatur berdasarkan zonasi, secara konservasi bisa disebut lahan basah (wetland) berupa hamparan hutan Mangrove. Selain konservasi terumbu karang, tim selam juga melatih peserta bagaimana cara menyelam yang benar sesuai dengan prosedur.
Untuk program kesehatan, Satgas Kagama memberikan pelayanan kesehatan secara gratis ke masyarakat di sekitar Karimunjawa. Tim kesehatan terdiri dari 10 dokter gigi, 2 dokter umum, 2 dokter kandungan, dan 1 dokter THT. Mereka melakukan penyuluhan dan bakti sosial kesehatan. Dalam sehari total pasien sebanyak 215 orang. Untuk yang periksa gigi sebanyak 54 orang, THT 9 orang, kebidanan dan kandungan 37 orang, dan periksa kesehatan umum sebanyak 17 orang. Untuk pemeriksaan gigi juga dilakukan di Sekolah Dasar yang diikuti oleh 300 orang dan yang dilakukan tindakan sebanyak 150 orang. Terkait dengan kebidanan dan kandungan diadakan edukasi dan pemeriksaan ibu-ibu hamil dengan risiko tinggi.
Untuk program pariwisata, diselenggarakan dialog dengan warga tentang pentingnya menjaga kelestarian Karimunjawa dan mempertahankan kearifan lokal yang baik sebagai nilai penting pariwisata. Selain itu, diselenggarakan pelatihan tata kelola homestay dan dialog dengan operator tur lokal untuk menciptakan paket pariwisata yang inovatif. (Aji)

Satu Hari yang Menyenangkan

Saat pulang dari Syawalan Kagama Virtual di rumah makan Kampung Nirwana, Cisauk, kami berempat menuju stasiun untuk kembali ke tempat masing-masing. Salah seorang dari kami bertutur, “semua orang yang pernah kuliah di Jogja selalu punya kenangan khusus. Selalu ingin kembali ke Jogja dengan perasaan sentimentil. Gitu kan? Kok aku sama sekali nggak.”

Kok bisa? “Mungkin karena selama 5 tahun kuliah aku nggak pernah punya pacar,” lanjutnya mencoba mengurai. Entah penjelasan itu serius atau cuma bercanda.

“Nggak harus punya pacar kali untuk memiliki kenangan khusus. Misal pergi sama teman-teman, nongkrong minum kopi jos di angkringan dekat stasiun, saat-saat nggak punya uang cuma makan gorengan di Warung Burjo, foto-foto di depan Tugu, jalan merem di alun-alun, atau apalah kenangan khusus khas Jogja sama teman-teman, masa nggak ada berbekas?” selidik saya.

“Nggak ada yang benar-benar berkesan, semua biasa saja,“ sahutnya, dia yang oleh teman-teman dijuluki Putra Altar (alumnus fakultas Teknologi Pertanian, angkatan 1980an akhir, silakan tebak nama aslinya! Yang bisa menebak paling cepat dengan benar, dapat doorprize dari Komp*s. :D).

Itu satu contoh alumnus mahasiswa Jogja yang tidak biasa, tidak merasakan romantika Jogja. Uh, sayang sekali. Sangat berbeda dengan saya, yang melihat lampu Jogja dari balik jendela kereta saja sambil membatin “Jogja sweeeeet bangetlah”. Banyak kenangan manis, asam, asin yang tak terlupakan di kota itu.

Dan saya yakin banyak yang sama dengan saya, punya kenangan khusus tentang Jogja yang istimewa. Ketika di tengah acara Syawalan, saat MC Komandan Hasto Atmoko membagikan doorprize, sebelum melemparkan pertanyaan-pertanyaan ke peserta, berkisah terkait kampus UGM dan sekitarnya. Setiap peserta punya kenangan kuat yang berbeda di zamannya. Misalnya kenangan terkait Yu Darmi di era 1980an, kenangan perjuangan para aktivis menurunkan Soeharto di era 1990an, dan kenangan disidak Ustad Maulana di era 2000an. 🙂

Lalu, muncul seorang asing, di luar peserta, menghampiri dan bertanya, “apakah ini alumni UGM? Saya kebetulan sedang bersama keluarga di sini, samar-samar mendengar Jogja dan UGM disebut,” ujarnya. Dia alumni Fakultas Pertanian angkatan 80an, sempat memeriksa presensi untuk mengetahui apakah ada teman yang dikenalnya. Keterikatan yang kuat tentang Jogja membuat sinyalnya langsung nyala.

Syawalan KV Jabodetabek pada Sabtu, 01 Agustus 2015 kali ini diselenggarakan di Cisauk, tempat yang bagi sebagian kami, jauh nggak ketulungan. Namun, jarak tidak menghalangi untuk datang. Di Cisauk atau di manapun, tetap rasa Jogja. Menurut salah salah seoarang peserta, “Di acara ini aku senang karena akrab. Menunjukkan ciri khas UGM, sederhana.” Andreas Maryoto, Teknologi Pertanian, angkatan 1989. Acara dihadiri oleh sekitar 60 peserta, lintas angkatan, lintas jurusan. Mulai dari angkatan 70an hingga 2010an. Sebagian besar dari kami sudah saling kenal di reuni-reuni kecil sebelumnya, tapi belum tentu kenal saat di kampus dulu. Ya iyalah, kan banyak yang beda zaman. Semua saling terhubung melalui grup Kagama Virtual di Facebook.

Acara dimulai pukul 10.00, dibuka dengan perkenalan masing-masing. Selanjutnya permainan, pembagian doorprize sambil makan siang, dan bebas bercengkrama. Satu hal yang selalu dilakukan dalam pertemuan terencana KV adalah tiap peserta diberi tagname untuk memudahkan mengingat nama. Perlu disebut “pertemuan terencana” karena banyak sekali pertemuan/kopdar KV yang spontan. Dan, salah satu hal yang menyenangkan dari komunitas ini adalah interaksi yang setara, tidak memandang status dan jabatan, tidak ada Almukarram ataupun Yang Terhormat, kalau yang Tergila mungkin ada (silakan cek foto-foto acara!).

Kali ini ada game-game seru. Sekitar 22 orang terlibat aktif dalam permainan yang dipandu Mbak Istiqomatul Hayati, yang kece badai. 🙂 Permainan dibagi menjadi 3 kelompok, sebagian dari mereka pasangan suami istri. Tetapi yang pasangan tidak boleh dalam satu kelompok. Permainan tersebut di antaranya tutorial jilbab oleh pria untuk pria, merias wajah pria, mencari koin dalam tepung pakai mulut, dan origami ala-ala anak TK. Lhoh alumni UGM kok mengadakan permainan nggak penting kayak gitu? Haha. Baiklah, terserah kita mau memandang ini seperti apa. Ini waktu berkualitas bersama-sama teman-teman untuk menciptakan kenangan manis yang tak terlupakan. Dalam acara yang penuh canda tawa yang lepas lebih meninggalkan kenangan manis daripada diskusi ndakik-ndakik dalam seminar kan? Haha. Para alumni ini juga orang-orang yang profesional di bidang masing-masing, diajak diskusi ndakik-ndakik juga bisa. Namun, untuk kali ini lupakan itu semua, mari bersenang-senang. Jika ingin kenal mereka lebih dalam, sebenarnya acara-acara kopdar KV bukan sekadar senang-senang, ada penggalangan dana beasiswa, membantu sesama, diskusi, donor darah, dll. Bagi para perantau seperti saya, tinggal di kota asing, menemukan teman-teman yang terikat oleh sejarah yang sama, pernah sekolah di tempat yang sama, dengan ikatan persaudaraan yang erat adalah sebuah kebahagiaan.

Salah seorang peserta yang terlibat permainan membagi kesan. “Tadi asyik, tapi panas karena pas jam 12. Tapi nggak papa sih. Menyenangkan, tapi masih ada yang malu-malu, ada yang baru. Lain waktu, semoga lebih banyak lagi yang datang,” ujar Krisma Perwitasari, Teknik Sipil 2008.

Peserta yang tidak ikut permainan di taman, ngobrol di sejumlah meja. Nah, kalau di sini ada ngobrol santai tema serius terkait perkembangan baru di berbagai bidang. Ini bukan diskusi yang terarah, tapi dari berbagi pengetahuan lewat obrolan macam ini, itu sudah sesuatu. Di sini ada komandan tentara, pengacara, dosen, peneliti, tim sukses presiden (eh), pemangku kebijakan dalam satu meja, dan perakit bom (ups, yang terakhir canda!). Mereka bisa ngobrol tingkat tinggi sampai gojek kere. Bahkan ada yang datang ke acara macam ini karena sebelumnya tertarik dengan obrolan santai  semacam ini, “Tadinya saya bolak-balik mikir mau datang nggak, tempatnya jauh banget, tapi saya ingin nyoba kereta (Commuterline). Saya ikut ngobrol gabung sama bapak-bapak di meja. Saya dapat informasi baru yang menarik dan aktual. Tentang sumber-sumber yang bisa didaulat. Dari acara  ngobrol seperti ini, tahu informasi terbaru sudah sesuatu yang bagus, ” tutur Mbak Ino Von Kiara, Elektro 1980.

Acara syawalan ini bukan hanya untuk muslim, melainkan buat siapapun alumnus UGM. Teman-teman yang hadir dari berbagai latar agama dan kepercayaan. Memperat tali pertemanan dan persaudaraan dengan berbagi keceriaan. Di era isu keragaman keyakinan seringkali bisa memicu perselisihan, kerukunan seperti ini akan dirindukan. Saya kira, Tuhan juga senang melihat kebersamaan indah ini. Secara keseluruhan acara berjalan lancar. Meskipun demikian, ada beberapa catatan yang disampaikan peserta, yaitu “Acaranya kurang terstruktur, konsepnya kurang,” ujar Meri Kurniawan, Ekonomi 1992. Selain itu, “Tahun depan agar lebih rapi. Gamenya lebih seru, kali ini anak-anak kurang terlibat, lain kali lebih dilibatkan,” pesan Mbak Dariah Suhaedi, Kimia 1992. Baiklah, itu mungkin bisa menjadi catatan untuk panitia acara selanjutnya.

Untuk acara syawalan santai seperti ini ketua panitia acara, Arwan Kurniawan (Pertanian 2005) menyampaikan, “Di acara seperti ini, diharapkan Kagama bisa bersatu, tidak terkotak-kotak lagi setelah pemilu presiden. Halal bil Halal ini  menjadikan kita semakin akrab, saling mengenal satu sama lain. Hubungan akrab dalam bisnis maupun kekeluargaan”. Saat interaksi di media sosial, beberapa di antara kami memang ada saja yang terlibat berdebatan dengan sedikit berlebihan, termasuk saat menjelang kampanye Pilpres maupun sesudahnya. Kopdar seperti inilah yang kemudian bisa mencairkan. Terima kasih untuk satu hari yang menyenangkan.

Depok, Agustus 2015

Laeliyaa