Menebak Arah Muhammadiyah Ke Depan

Menebak Arah Muhammadiyah Ke Depan
Agam Fatchurrochman

 

Bagaimana arah Muhammadiyah ke depan, sebenarnya bisa dilacak dari pemikiran para pemimpinnya. Hanya karena Muhammadiyah kepemimpinnnya kolegial, maka corak pemikiran satu ketua umum misalnya, tidak akan berpengaruh banyak terhadap arah Muhammadiyah. Muhammadiyah sudah punya institutional ideology atau organisational culture yang kuat. Hanya branding yang bisa terpengaruh.

Sistem pemilihan PP Muhammadiyah sebenarnya cukup moderat, memadukan model pemilihan langsung, dengan memilih 13 formatur, yang dianggap berilmu dan berakhlak baik, yang kemudian 13 formatur tersebut memilih satu diantaranya sebagai ketua umum dan lainnya ketua (sepertinya ini primus inter pares, dituakan diantara yang setara). Tapi namanya ketua umum, pasti lebih bergengsi. Continue reading

Advertisements

Bunga Bank

Bunga Bank
Hasanudin Abdurakhman

 

Riba diharamkan dalam Quran dan hadist. Tak ada masalah soal itu. Pertanyaannya, apakah bunga bank itu sama dengan riba?

Ijtihad itu adalah usaha untuk mengisi ruang kosong, atau gap, antara kehidupan manusia di Arab, pada abad VII, dengan manusia masa kini. Kehidupan pada zaman itu masih sederhana. Maka hukum untuk mengaturnya pun sederhana. Belasan abad kemudian kehidupan menjadi lebih rumit, maka aturan yang dirumuskan pada masa itu tak lagi cukup. Kini diperlukan aturan-aturan tambahan yang baru. Maka dilakukanlah ijtihad.

Ada beberapa cara melakukan ijtihad. Salah satunya adalah qiyas, atau analogi. Sesuatu yang ada pada masa kini dicarikan padanannya pada masa lalu. Keduanya dianggap sama atau sebangun. Hukum ditetapkan berdasarkan kesamaan antar keduanya, dengan mempertimbangkan perbedaannya. Continue reading

Kaisha, Kenshu Genba

Kaisha, Kenshu Genba

Hasanudin Abdurakhman

Atasan di perusahaan tempat saya bekerja dulu adalah seorang lulusan SMA. Dia menjabat sebagai managing director yang bertanggung jawab atas seluruh operasi perusahaan di Indonesia. Presiden direktur yang berkedudukan di Jepang lebih banyak berfungsi formal saja. Sebelum ditugaskan ke sini jabatan dia di kantor pusat adalah deputy factory manager. Di kantor pusat sendiri seluruh kegiatan perusahaan dikendalikan oleh managing director, yang merangkap sebagai presdir anak perusahaan di Indonesia. Presdir di kantor pusat, yang sekaligus adalah pemilik perusahaan, hanya berperan dalam hal-hal yang sifatnya strategis saja.

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kabar bahwa managing director kantor pusat pensiun, dan akan digantikan oleh mantan atasan saya ini. Ini sebuah kejutan, karena ia menyalip beberapa orang lain yang sudah direktur ke posisi puncak, padahal ia sendiri selama ini belum menjadi direktur.

Continue reading

Selendang Nabi

– Selendang Nabi –

Bagi sebagian terbesar rakyat di negeri ini, agama adalah masalah keyakinan. Namun di lain fihak bagi sebagian kecil orang, agama merupakan bisnis yang sangat menguntungkan. Setidaknya itulah yang terjadi, ketika saya menyaksikan traksaksi yang sangat menggelikan di kantor client minggu kemarin. Salah seorang counterpart saya di organisasi itu, katakanlah Pak S, adalah penggemar batu permata kelas berat. Ia bukan sekedar kolektor, namun bahkan membeli bahan mentah dan menggosoknya sendiri dirumah.

Beberapa waktu lalu Pak S bertugas ke Ambon. Disana ia membeli sebongkah batu mentah yang disebutnya batu Bacan, seharga enam juta rupiah. Sesampai dirumah ia memotong bongkahan tersebut menjadi duapuluh bagian. Ada yang dibeli kawan-kawannya, seharga antara tujuh ratus ribu hingga satu juta per potong, ada pula yang digosoknya sendiri. Salah satu hasil gosokannya pagi itu ditunjukkan kepada saya di meja kerjanya. Teksturnya indah, warnanya aneh, kombinasi antara hijau, coklat gelap dan abu-abu. Continue reading

Menjadi Mahasiswa yang Belajar

Menjadi Mahasiswa yang Belajar
Hasanudin Abdurakhman

 

Banyak orang mengeluh sulit mencari kerja. Khususnya bagi lulusan baru yang tidak punya pengalaman kerja. Tidak sedikit yang melamar ke sana sini tapi tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Namun dari sisi sebaliknya saya merasakan hal yang juga tak enak. Dari sisi pemberi kerja (perusahaan), saya sering merasa kesulitan mendapat tenaga kerja sesuai dengan yang kami butuhkan.

 

Waktu memimpin sebuah perusahaan manufaktur kecil di Karawang saya punya kebijakan untuk memprioritaskan lulusan baru ketika merekrut karyawan. Pertimbangannya, saya ingin memberi kesempatan seluas-luasnya bagi lulusan baru.  Saya menyediakan diri untuk membimbing dan melatih karyawan, juga memberi kesempatan kepada mereka untuk belajar secara mandiri.

Apa hal terpenting yang saya perhatikan ketika saya menyeleksi calon karyawan? Kemampuan belajar. Prinsip saya, seorang karyawan yang baik dan bisa diandalkan adalah orang yang mampu belajar dan mau terus belajar. Perusahaan akan maju bila para karyawannya adalah orang yang cerdas, kreatif, dan penuh inisiatif. Tapi bagaimana bisa menilai semua itu dari suatu wawancara yang singkat? Meski tidak 100% akurat, hal itu bisa dilakukan.

Continue reading

200.000 SPBU Asing Katanya?

– 200.000 SPBU Asing Katanya? –

Dalam acara Security Summit SKK Migas – KKKS Migas di Nusa Dua Bali 20 November lalu, seorang pembicara bertanya secara blak-blakan dari atas podium. “Saya challenge anda-anda yang berasal dari perusahaan migas asing. Sanggupkah perusahaan anda berlaku seperti Pertamina, mendistribusikan BBM subsidi ke seluruh pelosok Indonesia, dan dibayar entah kapan oleh pemerintah?.”

Tak ada yang merespon tantangan tersebut dan tentu saja begitu. Mendistribusikan BBM di Indonesia bukan perkara mudah. Secara kasar saya sudah melihatnya di Pertamina selama tiga tahun terakhir, dalam perjalanan saya memberikan security awareness di unit-unit bisnisnya yang tersebar di berbagai penjuru tanah air. Jadi betapa menyedihkan jika ada yang percaya, bahwa akan ada 200.000 SPBU asing yang segera beroperasi di Indonesia. Mereka akan buka disini, iya. Jumlahnya banyak, memang. Namun 200 ribu unit?. Memangnya Shell mau, jika disuruh membuka SPBU di Rangkasbitung atau Pagar Alam?.

Perusahaan Migas asing pasti berfikir business oriented. Mereka, seperti pelaku bisnis lainnya, sangat pragmatis. Yang paling masuk akal adalah membuka SPBU di kota-kota besar padat penduduk, padat kendaraan bermotor dan murah dari sisi biaya distribusi. Dari sini saja sudah bisa diperkirakan barrier entry yang akan dihadapi : ketersediaan lahan, izin operasional dari Pemda setempat, Amdal, HO dan entah apa lagi.

Jadi 200.000 unit?. Barangkali seekor babi akan dapat terbang dalam waktu dekat ini, namun saya sangat meragukannya.

Sawangan, 1 Desember 2014

Hidup Boleh Sederhana, Pendidikan Jangan Sederhana

Hidup Boleh Sederhana, Pendidikan Jangan Sederhana

 

 

10830717_10152616968133978_8064159947472748289_oIbu saya tidak lulus SD, sekolah hanya sampai kelas 2, cuma bisa baca tulis dan berhitung. Ketika remaja, Ibu menjadi pelayan toko kain. Selama itu, beliau menabung gajinya dengan membeli emas. Setelah menikah dengan Bapak (katanya sih lulus SD, tapi kami tidak pernah melihat ijazahnya), Ibu menjual emasnya untuk modal buka toko. Bapak menjahit dan Ibu berjualan alat-alat jahit seperti benang, kancing, jarum.

Keluarga kami hidup sederhana. Kami tinggal di kios satu lantai. Saya tidur di kasur busa tipis yang digelar ketika toko sudah tutup. Kami tidak punya TV, kalau ada acara menarik (misalnya ketoprak TVRI), kami harus menonton di TV tetangga. Benda-benda mewah seperti kulkas dan sambungan telepon baru kami punya setelah saya lulus SMP.

Tapi Ibu tidak pernah berhemat untuk biaya pendidikan saya. SPP tidak pernah telat, buku-buku pelajaran terbeli semua. Meski saya harus puas menggunakan tas yang sama selama enam tahun. Saya sekolah di SMP terbaik di kabupaten. Lulus dengan nilai terbaik se kabupaten. Saya melanjutkan SMA di kota Yogyakarta yang jaraknya 20 km dari rumah. Setiap hari saya harus naik kendaraan umum sampai usia saya cukup untuk membuat SIM. Meski saya sempat sulit beradaptasi dengan gaya hidup remaja kota, saya lulus dengan nilai terbaik di SMA.

Ibu membiayai kuliah saya di UGM sampai lulus. Memang waktu itu SPP UGM masih cukup murah dibanding sekarang. Tapi bagi orang tua saya yang penjahit, membiayai kuliah anak di kota sampai lulus adalah komitmen panjang yang tidak semua orang sanggup. SPP dan uang praktikum saya tidak pernah telat. Uang untuk fotokopi buku juga selalu tersedia. Tapi uang saku saya tak pernah cukup sebenarnya. Saya harus mencari tambahan sendiri dengan berjualan sprei dan tas.

Ibu juga membiayai sekolah Adik saya yang lebih moncer. Hidup boleh sederhana, tapi pendidikan harus yang terbaik, mahal pun harus diusahakan. Adik saya sekolah di SMP elit di Jogja dan SMA terbaik di kota yang sama. Ibu tidak pernah mengeluhkan biaya uang gedung, meski kadang harus mengambil dari uang untuk kulakan benang dan kancing. Adik saya juga lulusan UGM dan sekarang bekerja di penerbit paling masyhur di Jogja.

Sekarang Ibu dan Bapak saya masih tinggal di desa yang sama. Masih hidup sederhana di rumah dengan listrik 450 watt, yang harus gantian kalau mau menghidupkan mesin cuci atau menyetrika. Ibu tidak mengenyam bangku sekolah, tapi dia tahu mana yang seharusnya menjadi prioritas dalam hidup. Entah bagaimana reaksi Ibu kalau sampai tahu ada orang-orang yang mempermasalahkan “gaya hidup sederhana kok menyekolahkan anaknya di sekolah mahal”. Mungkin beliau cuma gumun dan bertanya-tanya orang itu sekolahnya di mana.

Gaya hidup seharusnya sederhana, tapi pendidikan tidak boleh sederhana. Jangan terbalik