PNS, Hotel dan Garuda Indonesia

PNS, Hotel dan Garuda Indonesia

Umi Gita Nugraheni

satu hari ini saya dan beberapa teman kantor saya cukup asyik berdiskusi tentang isu alias gosip tentang adanya kebijakan bahwa PNS tidak boleh naik pesawat Garuda ketika melakukan tugas kedinasan di luar daerah. Selain itu PNS juga tidak boleh lagi melakukan rapat atau konsinyering di hotel. kalau ini sepertinya sudah bukan gossip lagi karena Menteri PAN dan RB sudah membuat
(walau belum ada edaran resmi nya). Kebijakan Menteri PAN dan RB ini (katanya) membuat banyak pengusaha
hotel protes.

“Industri dalam negeri kita mau dihancurin. Garuda mau dilemahin. tuh kan jokowow berpihak pada asing!” kata salah satu teman, sebut saja Andi.

“Banyak orang yang gak tahu kalau PNS konsi di hotel atau melakukan perjalanan Dinas itu memberikan multiplayer effect ekonomi. PNS melakukan konsi…anggaran masuk ke hotel dan hotel bisa merangkul tenaga kerja dan lain lain. begitu juga dengan melakukan perjalanan, pake garuda juga memberikan perputaran uang pada maskapai.” jelas teman yang lain, sebut saja Budi.

“Well…tapi mari kita lihat juga temuan BPK dimana banyak kasus perjalanan dinas dan konsinyering yang bodong.” ungkap teman lain lagi, sebut saja Cepi.

Aku pun nimbrung…”Sebenarnya efektif tidak sih kita melakukan rapat di hotel itu? jujur saja…enggak kan?!”

Entah saya cukup heran mengapa begitu pesimis dengan PNS tidak rapat di hotel? PNS tidak memakai Garuda? akan sebegitu bangkrutnya kah dua usaha itu dengan kebijakan itu?

Asal muasal ada kebijakan PNS rapat di hotel dan keluar daerah itu ketika tahun 2003an dimana industri pariwisata kita jatuh karena bom Bali. nah PNS dengan menggunakan Anggaran negara disuruh untuk rapat di hotel dan di luar daerah agar industri pariwisata bangkit. PNS jadi kail pemerintah.

Tapi sekarang industri pariwisata sudah pulih. kebijakan anggaran pun perlahan (dilakukan dari tahun 2013) telah mengarahkan agar PNS kembali rapat di kantor. Secara teknis, itu terlihat jelas dengan Peraturan menteri keuangan di standar biaya (SBM) yang mengatur segala jenis kegiatan yang dilakukan di instansi pemerintah. Terlihat jelas biaya untuk melakukan rapat di hotel diperkecil, dan dimunculkan biaya rapat dalam kantor.

apa sebegitu tergantungnya roda perekonomian Hotel dan Garuda Indonesia pada APBN? apa tidak ada customer lain selain para PNS? toh saat ini wisatawan banyak, begitu juga pengusaha. Dan apakah para pengusaha hotel dan maskapai itu tidak memiliki inovasi bisnis agar gak selalu menggantungkan diri dari APBN.

Kalau masalah tambahan kesejahteraan PNS mengapa tidak anggarannya untuk membuat merit system yang lebih baik. Untuk tunjangan kinerja yang lebih baik bagi PNS yang kinerjanya gemilang. Ini juga meminimalisir temuan BPK dimana masalah perjalanan dinas dan konsiyering sering fiktif.

Selain itu anggaran tersebut juga dapat dialokasikan untuk permasalahan yang lebih pelik yaitu pendidikan, kesehatan dan infrastruktur.

Ah…saya hanya seorang PNS kroco yang hanya mencoba melihat sisi positif apapun kebijakan yang dijalankan di negeri ini.

Dan diskusi itu diakhiri dengan pernyataan Andi, ” Gue generasi galon, gagal move on.”

Halaaaahhh

Advertisements

KV nampang di Sentilan Sentilun Metro TV

KV nampang di Sentilan Sentilun Metro TV
oleh Umi Gita 

Sabtu, 28 Januari 2012

Pagi pagi bangun pagi langsung ke Bunderan HI. Jam 6.30 ternyata kami sudah dijemput Metro TV buat nampang di acara Sentilan Sentilun. Sampai di Metro TV kami dapat sarapan pagi dan merchandise sabun susu kuda liar hasil karya dan usaha mbak Dhanti (kimia, 2000). Kami pun berkenalan masing masing walau sesaat kala waktu menunggu syuting dimulai. Kami berkumpul ada sekitar 25 orang dari berbagai fakultas, ada dari statistika, sosiologi, hukum, teknik, farmasi dan psikologi.

Jam 9 syuting dimulai. Tapi ternyata Butet belum datang, alhasil kami menunggu sembari bermain game dan berkenalan dengan penonton lain yaitu adik adik mahasiswa dari perguruan tinggi ilmu Al-Quran Ciputat. Juga kenalan dengan produser Sentilan Sentilun yang ternyata Kagama juga, namanya mas faisal (Geografi, 2000).

Akhirnya jam sebelas, Butet sudah datang dan syuting pun dimulai. Sesi pertama menghadirkan tokoh Bang Yos, pasti udah pada tau kan siapa beliau. Bang Yos banyak cerita tentang bagaimana mengatur transportasi ibukota, dia belajar dari Bogota dimana mengusahakan 5 jenis transportasi massal untuk menggantikan transportasi pribadi. Selain itu Bang Yos juga mengungkapkan konsep Megapolitan dimana ada simbiosis mutualisme antara Jakarta dan kota kota penyangganya.

Sesekali ketika ganti adegan, Sentilan (Slamet Raharjo) dan Sentilun (Butet) menyapa kami dan berkata “Liat kalian, aku jadi kangen jogja.”

Sesi kedua menghadirkan Prijanto, wakil gurbenur DKI yang mengundurkan diri. Dia bercerita banyak alasan mengundurkan dirinya karna tak dianggap ada sebagai Wagub. Semua kisah dan bukti surat surat dinas, ia jadikan buku yang judulnya “mengapa saya mundur dari wagub DKI JAKARTA.” yang pada hari itu ia berikan gratis pada penonton.

Ah, hari itu hari yang menyenangkan. Selain bisa berpartisipasi dalam acara Sentilan Sentilun yang kritis namun kocak abis, kami bisa ngumpul kopdar, dan belajar sedikit tentang pertelevisian. Saya cukup memperhatikan bagaimana para kru TV bekerja, ada sutradara, ada kameramen, penyelaras suara dsb. Tertarik juga dengan mas2 kameramen yang tanggap dan berkacamata, sayang, saya tidak berani berkenalan.

29 Januari 2012
Migit

Apakah Remunerasi itu Sebuah Jawaban?

Apakah Remunerasi itu Sebuah Jawaban?

Umi Gita

Ini hanyalah analisa dan hasil perenungan sederhana saya. Kalau kita melihat peraturan remunerasi Kementerian Keuangan (PMK Nomor 86/PMK.01/2010, terlihat jelas bagaimana SOP remunerasi yang dijalankan. Jadi logika gampangnya pegawai dengan grade tertentu mendapat tunjangan remunerasi misal 4 juta. Nah, ia dapat bersih 4 juta kalau dia dalam catatan tidak ada masalah. Apa masalahnya? Adanya pemotongan tunjangan tersebut kalau dia terlambat masuk, tidak masuk atau membuat pelanggaran disiplin. Besarnya potongan sesuai dengan lampiran PMK itu.

Dan pembayaran remunerasi itu terpisah dari gaji. Remunerasi bulan januari dibayar di bulan februari, karena perlu dihitung dulu potongannya bulan januari oleh biro SDM nya.

Kalau diteropong pakai teori psikologi SDM, ini yang diterapkan adalah punishment bukan reward. Padahal kita tahu, efek punishment  itu tidak begitu signifikan dalam pengubahan perilaku dibandingkan reward. Apalagi ini diterapkan pada orang dewasa, bukan anak anak.

Kog malah pemotongan ya? Bukannya kalo insentif atau bonus itu diberikan pada pegawai kalau dia berprestasi? Atau mencapai KPInya? Atau perusahaan dapat untung yang melebihi targetnya, sehingga marginnya boleh di share pada pegawai?
Bukannya begitu teori nya di kuliah psikologi SDM? Kalau gak salah namanya ‘Merit System’…

Nah teori itu mental kalau diterapkan di pemerintahan,sista!
Kenapa? Karena anggaran alias APBN kita yang tidak fleksibel. APBN itu besarannya tetap untuk tiap Kementerian/Lembaga di tiap tahunnya. APBN untuk tahun 2012 disahkan oleh DJA Kemenkeu dan Banggar DPR di 2011 (sekitar bulan september-oktober). Jadi misal kementerian X mengajukan pagu DIPA 450milyar. Kemudian dibahaslah di DJA dan Banggar dan diketok palu cuma dapat 425milyar.

Ya udah, buat operasional Kementerian X di tahun 2012 itu 425milyar. Itu meliputi akun belanja modal, belanja barang, belanja barang operasional, belanja perjalanan dinas sampai belanja pegawai yang isinya berupa gaji, tunjangan dan uang makan.

Karena pemasukan Kementerian cuma dari APBN yang sudah tetap angkanya itu makanya yang ada adalah perintah realisasi anggaran yang harus mencapai 100%. Karena perekonomian ini ditopang oleh realisasi APBN, dan paling efektif adalah akun belanja modal dan belanja barang karena itu sifatnya investment, sedang akun belanja pegawai itu sifatnya konsumsi.

Tapi gimana kalau ada PNS yang berprestasi? Masak gak ada penghargaan sama sekali?

Tenang Sista! Usut demi usut, mereka yang kinerjanya bagus, memenuhi bahkan melebihi standar KPI, diusulkan buat naik grade. Jadi ka nada tuh job grading yang dirumuskan sama Hay Groups sebanyak 27 tingkat seperti contoh dibawah ini:

Perkiraan Tabel Remunerasi Kementerian (Hay’s)

No Grade Tunjangan Gol/Ruang Eselon
1 27 46,950,000
2 26 41,550,000
3 25 36,770,000 IV/e Eselon I
4 24 32,540,000
5 23 24,100,000
6 22 21,330,000 IV/d Eselon II
7 21 18,880,000
8 20 16,700,000
9 19

12,370,000

IV/b Eselon III
10 18 10,760,000
11 17 9,360,000
12 16 6,930,000 III/d Eselon IV
13 15 6,030,000
14 14 5,240,000
15 13 4,370,000 III/b Eselon V
16 12 3,800,000 III/b Pelaksana
17 11 3,450,000
18 10 3,140,000
19 9 2,850,000
20 8 2,550,000 II/c Pelaksana
21 7 2,360,000
22 6 2,140,000
23 5 1,950,000
24 4 1,770,000
25 3 1,610,000 I/c Pelaksana
26 2 1,460,000
27 1 1,330,000 I/a Pelaksana

Wuidihhh…angkanya gede juga ya Sista?! Tapi kenapa masih ada orang yang korupsi macam si Gayus atau Polisi yang masih suka main tilang? Dan sistem remunerasi itu masih bagus buat diterapkan gak sih?

Wah Sista, itu bahasan selanjutnya yah.. yang nantinya terkait dengan proses reformasi birokrasi yang digawangi oleh KemenPAN dan RB.  Dan sebenernya sistem remunerasi itu mungkin masih bisa berpengaruh pada kinerja PNS, secara bagaimanapun sistem yang berbasis madzhab behaviorisme ini juga masih dipertimbangkan dalam perubahan perilaku. Cuman, mungkin bisa gak sih anggaran kita itu fleksibel? Atau penilaian kinerja buat naik grade itu benar-benar objektif? Itu tantangannya.

Satu lagi Sista, kalau bisa ya anggaran buat remunerasi jangan dari hutang lah. Negara boleh hutang asal buat investasi aja, biar tumbuh perekonomian kita dengan rasio antara hutang dengan pendapatan masih dalam tingkat kewajaran. Jangan sampai lah kita mengejar agar 4.708.330 PNS seluruh Indonesia ditambah  412.379 POLRI dan 464.340 TNI (data KemenPAN dan RB per Bulan Mei 2011) mendapatkan remunerasi agar kinerja bagus tapi malah hutang ke Luar Negeri yang berlebihan dan bikin negara kolaps.

Sekian cerita unek unek saya yang masih belum beraturan ini, hanya sekedar merenung saat hujan turun saja kog hahaha…

Umi Gita

Budaya kita untuk daya saing bangsa

Budaya kita untuk daya saing bangsa
Umi Gita

Dua hari saya dijejali materi pelatihan tentang ‘strategic management and corporate culture pada BUMN’. Yah, materi yang berat bagi saya untuk memahami itu. Sepertinya itu bukan ranah saya untuk saya kerjakan sehari-hari. Saya kan cuma kroco yang kerjanya teknis dan administratif. Namun,setidaknya ilmu saya bertambah dan siapa tahu di kemudian hari ilmu tersebut dapat berguna.

Di tengah masalah perubahan dan isu strategis yang dihadapi kantor saya, juga BUMN, ada hal yang menarik bagi saya dan menjadi perenungan saya.

Ketika kita bicara tentang ‘world class company’ tak dapat menampik bahwa suatu perusahaan atau organisasi harus siap dengan masuknya budaya bangsa lain dalam perusahaan tersebut. Disinilah tantangan muncul dengan terjadinya benturan budaya.

Pertanyaannya adalah budaya manakah yang akan dipakai? Secara managemen, perusahaan itu perlu membentuk budaya baru yang disepakati bersama dan menjadi perilaku sehari hari. Bisa jadi kita perlu menerima beberapa hal budaya dari bangsa lain yang menjadi partner kepemilikan saham perusahaan.

Namun,beranikah kita juga memunculkan budaya kita sendiri? Banggakah kita terhadap budaya kita untuk berkontribusi menjadi corporate culture? Bahkan budaya itu menjadi daya saing bangsa di kancah global.

Mungkin yang saat ini terfikirkan tentang budaya Indonesia hanyalah korupsi, jam karet, tidak tertib, malas berusaha dan hal hal negatif lainnya. Tapi mengapa itu yang bertahan di diri kita? Apakah kita tak memiliki hal hal yang positif dalam budaya kita?

Pikiran saya kembali melayang ketika saya kuliah ‘psikologi lintas budaya’ yang diajar oleh Prof. Djamaluddin Antjok. Saat itu pak Antjok bertanya,”Apakah orang timur termasuk Indonesia tidak lebih kreatif dibandingkan orang barat? Yang dibuktikan dengan kekayaan intelektual yang didaftarkan, begitu juga dengan penemu penemu teknologi?”
Saat itu saya bersepakat dengan kakak angkatan saya bahwa kekayaan intelektual orang timur khususnya Indonesia tidak bersifat individual. Namun sebuah hasil kebersamaan yang komunal, hasil masyarakat yang guyub dan rukun. Dan mulai saat itu, saya sadari bahwa itulah harta berharga bangsa ini. Itulah budaya kita.

Kita memang tak memiliki Edison si pecipta lampu, James Watt si pembuat mesin uap hingga Einstein yang merumuskan teori relativitas. Tapi kita punya kerajaan yang mampu membangun Borobudur. Kita punya sekelompok prajurit yang mampu menyatukan nusantara.

Kini, beranikah kita memakai budaya kita untuk dijadikan corporate culture dan membawa perusahaan itu menjadi perusahaan kelas dunia? Menggali kembali kearifan lokal tuk bersaing di era global? Sehingga perusahaan kita dapat diperhitungkan dalam percaturan dunia, masuk dalam Forbes, Business Week dan sebagainya.

Ya. Kita bisa.
Ya. Kita mampu.
Ditengah realita sistem negara yang bobrok, ijinkan saya untuk masih optimis.

Dan lagu ‘the power of the dream’ nya Celine Dion mengalun mengiringi tulisan ini,
There’s nothing ordinary
In the living of each day
There’s a special part
Every one of us will play
Feel the flame forever burn
Teaching lessons we must learn
To bring us closer to the power of the dream
As the world give us its best
To stand apart from all the rest
Its the power of the dream that brings us here

12 Oktober 2011
Dalam Garuda Denpasar-Jakarta
-gadis kecil dengan jutaan mimpi-

Apa yang kau cari wahai pemuda?

Apa yang kau cari wahai pemuda?

Umi Gita

(1928)

Apa yang kau cari, wahai pemuda? Di tengah sebuah negeri subur makmur, bagaikan sebongkah tanah surga turun ke dunia. Inilah negeri zamrud khatulistiwa yang dikaruniakan Tuhan. Maka kita pantas berbangga karena negeri kita menyilaukan mata dunia—mata kerajaan China, pedagang Gujarat hingga orang-orang Eropa.

Wahai Ibunda, pantaskah kita menyebut tanah ini adalah sebuah negeri kita? Mungkin kejayaan hanyalah milik Majapahit yang mampu mempersatukan Nusantara. Ataupun milik Sriwijaya yang menguasai seluruh Nusantara. Tapi kini….lihatlah kita tertunduk patuh pada koloni kulit putih bangsa Belanda. Kita berikan semua kekayaan alam kita dengan harga murah, kita kerjakan semua pekerjaan rodi dengan diam. Kita tunduk patuh dalam aturan mainnya. Inilah negeri yang terjajah!

Apa yang kau inginkan, wahai pemuda? Apa yang akan kau lakukan? Beribu-ribu perang hanyalah jalan yang tak berguna. Hanyalah meninggalkan nama-nama yang mati melayang begitu saja.

Wahai Ibunda, tak ada kemenangan tanpa persatuan. Dan tak ada pencapaian tujuan tanpa pengorbanan. Bukankah itu sudah termaktub dalam kitab akhir zaman? Bahwa Tuhan mencintai mereka yang berperang dalam barisan yang teratur. Sehingga tak ada kata lain, kita harus bersatu!

(…..rekaman sumpah pemuda)

——————-

(1945)

Apa yang kau cari pemuda? Mengapa kau mendesak tuk memerdekakan negeri ini? Para penjajah itu sudah berjanji tuk keluar dari Indonesia dengan sendirinya. Dan mereka akan memberikan kemerdekaan pada kita? Lihatlah perpolitikan dunia, bukankah Jepang sudah menyerah pada sekutu? Dan kita hanya tinggal menunggu waktu.

Wahai Ibunda, kemerdekaan itu adalah sebuah gerakan nurani. Bahwa tidak ada hukum apapun di muka bumi ini yang membenarkan penjajahan, lebih lagi penindasan manusia di atas manusia lainnya. Kemerdekaan bukanlah sebuah penantian. Dan bukan pula pemberian penjajah.

Apa yang kau inginkan wahai pemuda? Apa yang akan kau lakukan? Janganlah gegabah dengan tindakan. Janganlah sembrono dengan keputusan. Ini nasib seluruh rakyat Indonesia.

Ibunda,

merdeka saat ini atau tidak sama sekali!

(…..rekaman teks proklamasi)

—————–

(1998)

Apa yang kau cari lagi, pemuda? Di tengah negara yang kini sudah merdeka. Negara yang sedang membangun setiap jengkal tanahnya. Dan dipimpin seorang jenderal yang terus dipercaya hingga tiga puluh dua tahun lamanya. Negeri ini sudah lebih baik dari dahulu kala.

Wahai Ibunda, sesungguhnya negeri ini tidak baik-baik saja. Pembangunan infrastruktur yang tak dibarengi dengan suprastruktur masyarakat. Mental mental priyayi dan pengkultusan individu mewarnai tata pemerintahan yang membodohi rakyat. Biarkanlah kami bergulat dengan pemikiran kami. Biarkanlah kami mencari kebenaran yang hakiki. Bahwa keadilan harus tegak menghempaskan tirani. Bahwa kesejahteraan seluruh rakyat adalah hak yang pasti. Dan suara akan perbedaan tak layak tuk dibungkam di dalam jeruji besi.

Apa yang kau inginkan wahai pemuda? Apa yang akan kau lakukan? Pelajaranmu di kampus ini belumlah usai. Tak perlulah bersikeras dengan idealisme yang belum menyeluruh walaupun semangatmu tak tertandingi.

Ibunda tercinta, maka ijinkanlahh kami berjuang. Biarkan pemikiran hasil diskusi setiap malam-malam ini diletupkan di Ibukota-di gedung-gedung tempat bercokolnya hegemoni kekuasaan itu. Agar perubahan Indonesia yang tereformasi pasti terjadi.

Ibunda, maaf… aku pulang terlambat waktu.

(….rekaman kerusuhan 1998)

————–

(2010)

Kini, apa yang kau cari wahai pemuda? Setelah engkau berusaha menyatukan identitas atas nama ‘Indonesia’. Setelah engkau mendesak tuk proklamirkan kemerdekaan. Dan setelah engkau berjuang meruntuhkan kuasa yang absolut. Tapi kini…mengapa engkau terkapar tak berdaya di hadapan obat-obat ectasy, di hadapan majalah dan video porno juga gaya hidup yang konsumtif. Engkau puas dalam gairah cinta dan pesta di bawah lampu diskotik yang berkilat kilat dan dentuman musik disko. Engkau senang untuk mencari mati konyol melalui tawuran dan pertikaian konflik yang tak berujung.

(…..musik diskotik)

Kini lihatlah bangsamu, wahai pemuda. Lihatlah bangsamu bermental pengemis dengan mencari pinjaman luar negeri. Lihatlah bangsamu yang menjadi beringas dan pecundang, karena yang senang bertikai tak hanya rakyat tapi juga pejabat. Lihatlah kini bangsamu yang minim akan prestasi dunia, dari soal ekonomi hingga olahraga. Dan lihatlah bangsamu yang tak dapat menghargai putera-puteri terbaiknya, sehingga mereka rela menggadaikan kemampuannya untuk negara lain.

Apa yang kau cari pemuda? Mengapa kau hanya diam melihat ini semua? Dimana idealis mu yang selama ini kau agungkan? Dimana semangat perubahanmu yang selama ini kau banggakan?

Bangun pemuda…bangun! Karena ternyata perjuanganmu tak berakhir disini. Engkau masih perlu mengada untuk perubahan di setiap zaman.

 

By: Umi Gita

Yang Muda, Yang Galau

Yang Muda, Yang Galau
umigita@gmail.com

Anda muda? Dan anda mengalami galau? Itu wajar.

Waaah lagi galau ni…galau…ejek seorang remaja pada teman sebayanya. Begitu sering saya temui fenomena seperti itu di kalangan anak muda. Tapi tak memungkiri, sayapun juga pernah mengalami galau,bahkan mungkin sering.

Salahkah jadi galau. Terdiam dan resah? Ternyata tidak sepenuhnya salah. Mario Teguh bilang galau di orang muda itu tanda pertumbuhan dan di orang tua itu tanda kemandegan.

Orang yang galau itu sebenernya kreatif karena ia memakai imajinasinya untuk melebih lebihkan sesuatu. Sesuatu yang netral jadi terlihat buruk dan mencemaskan. Misal sms ke pacar trus gak dibales, telpon gak diangkat. Trus kita mikir wah dia gak sayang dan gak serius nih. Padahal emang pacar kita lagi sibuk atau pulsanya blum diisi ulang.

Tapi bukankah Einstein pernah berkata ‘imagination is more important than knowledge’?

Galau itu gak masalah karna ada perbedaan antara harapan dengan kenyataan. Tapi justru dengan gap itulah kita harus melakukan sesuatu agar melangkah maju dan mendapat kepastian.

Yang bermasalah adalah bila galau berkepanjangan dan membuat hidup jadi tidak produktif. Hello, although you’re in ‘galau’, you must still work!

Dan katanya,orang galau itu karna ia berharap selain padaNYA.

Jadi,beruntunglah bila anda orang muda dan galau. Itu tandanya anda harus bergerak, mencari solusi untuk mendapatkan kepastian menuju keadaan hidup yang lebih baik. Terakhir,terimalah dengan ikhlas hasil dari usaha. Bila gagal, bangkit lagi. Jadilah santai terhadap kegagalan. Karna gagal itu wajar. Yang gak wajar adalah bila gagal kemudian tidak mau berusaha lagi.

17 oktober 2011
-gadis kecil dengan jutaan mimpi-

Kamar Hotel dan Anggaran Negara

Lagi lagi saya terbangun di sebuah kamar salah satu hotel berbintang di jakarta. Melakukan sebuah ritual kebiasaan kantor saya;konsinyasi-yang mungkin juga ritual kebiasaan bagi institusi pemerintah.

Menyenangkan? Awalnya menyenangkan karena tidur di hotel, dijamu makanan enak walaupun harus berjibaku dengan rapat hingga malam.

Tapi kini membosankan.

Apa saya ini tidak bersyukur ya? Tapi saya tidak tahu mengapa harus ada kegiatan seperti ini di institusi pemerintahan? Mengapa harus di hotel? Dan itu ada petunjuknya di Standar Biaya Umum (SBU),pedoman biaya untuk merencanakan dan merealisasikan anggaran.

Dan makin lama,rapat semakin tak bermutu. Apalagi bila sudah menghadapi tiga bulan terakhir menuju akhir tahun. Seluruh kementerian berlomba lomba meningkatkan realisasi anggarannya. Yang penting penyerapan tinggi, soal content dan output nanti dulu. Yang penting setiap konsinyasi ataupun perjalanan dinas ataupun kegiatan ada laporannya.

Tapi hanyakah untuk kelengkapan administrasi realisasi keuangan? Apa imbas perubahan bagi kementerian itu sendiri? Atau yang lebih penting lagi adalah imbas untuk masyarakat luas?

Suatu hari saya dapat tugas untuk menghadiri workshop perencanaan kas kementerian di kementerian keuangan. Saat itu saya didogma bagaimana penyerapan APBN merupakan salah satu indikator ekonomi. Ekonomi negara ini ditopang oleh APBN,asalkan penyerapannya lancar,uang menjadi berputar,terutama yang akun belanja modal dan belanja barang.

Saya pun di dogma,betapa kementerian kementerian ini betapa masih kacaunya dalam merealisasi anggaran. Tiga bulan terakhir mesti grafiknya meningkat. Dan ada pula yang penyerapannya masih rendah seperti kantor saya itu. Padahal ketika setiap pengajuan RAPBN seluruh kementerian, uang negara tidak cukup. Alhasil kementerian keuangan ambil pinjaman luar negeri. Ternyata di akhir tahun, pinjaman itu tidak terpakai. Pinjaman kan juga ada bunganya. Anggaran yang tak terpakai namun bukan pinjaman pun hanya masuk ke Bank Indonesia menjadi SUN atau obligasi (mohon koreksi bila salah) yang juga tak menghasilkan bunga atau apalah.

Fiuhhh…ternyata anggaran negara itu rumit. Saya hanyalah kroco yang memainkan peran kecil sebagai staf PPK (pejabat pembuat komitmen). Namun, bila saya melakukan kesalahan, PPK saya bisa masuk penjara. Toh kasus kasus korupsi saat ini masih didominasi dengan persoalan pengadaan barang/jasa.

Kembali ke soal kamar hotel. Entah mengapa, senyaman nyamannya kamar hotel tetap lebih nyaman dan hangat di rumah. Dan bila tak terpaksa, saya selalu berusaha pulang ke rumah setelah rapat selesai. Ya, benar kata seorang kawan, pekerjaan itu tak akan ada habisnya. Mengutip kalimat dari novel Susanne Diary’s for Nicholas; dalam kehidupan kita bagaikan memainkan 5 bola sekaligus. 5 bola itu adalah integritas, keluarga, persahabatan, kesehatan dan pekerjaan. Hanya satu yaitu bola ‘pekerjaan’ yang merupakan bola karet, sedangkan lainnya adalah bola kaca. Ketika bola karet jatuh maka ia akan memantul. Sedangkan ketika bola kaca jatuh maka ia akan retak.

Kini kumengerti arti hidupku. Saya memang harus mengabdi pada negara sebagai pegawai. Namun, negara pun perlu dibangun dari keluarga yang kokoh, baik dari segi   ruhani dan intelektualnya.

Dalam SBU 2012 katanya tertera lembur atau rapat di kantor, uang hariannya lebih besar dibandingkan konsinyasi di hotel. Saya si seneng seneng saja. Tapi bagaimana nasib pengusaha hotel?
Ah,saya tidak dalam ranah tersebut hehehe

7 oktober 2011
-gadis kecil dengan jutaan mimpi-