Kopdar Syawalan KAGAMA Virtual JABODETABEK, Bekasi 7 Sept 2013

Kopdar Syawalan KAGAMA Virtul JABODETABEK
Bekasi 7 Sept 2013

oleh: Aroem Naroeni

Hari ini mungkin adalah rangkaian terakhir dari kegiatan Syawalan2 KAGAMA 2013. Syawalan KAGAMA VIRTUAL Jabodetabek terlaksana hari ini dengan penuh keakraban. Suasana kekeluargaan sebagai suatu keluarga besar sangat terasa. Menemukan kakak, adik, keponakan baru. Kegiatan ini dilaksanakan secara spontan setelah ada undangan dari mas Ryan Wuryanto dengan EO yang handal mba Lestari Octavia .

Dari seluruh penjuru Jabodetabek datang dengan beberapa rombongan dan konvoi dengan meeting poin masing-masing : Depok, Blok M, Benhil, Tangerang dll Acara dikemas dengan sederhana tapi makanan melimpah ruah dengan beraneka ragam potluck yang dibawa teman-teman . Para KVer junior otomatis mendapatkan teman-teman bermain baru dengan om, tante, pakdhe, budhe baru. Mba Iim (Imitiyaz) selaku MC memimpin acara dengan diawali sambutan tuan rumah yang merasa terkejut dan senang betapa KV sudah berkembang dengan banyak anggota. Mas Ryan dulu salah satu yang mengawali acara kopdar. Kemudian dilanjutkan dengan perkenalan para newbie (maksudnya yang jarang-jarang kopdar) : mas Dhim rudy, mba Atin, mba Arum K, masTaufiq elrahman, mas Adi,mba Krisma dll

Acara dilanjutkan dengan beberapa laporan kegiatan KV:
1. Beasiswa yang menurun mungkin karena jarang dipublikasikan lagi dan tidak ada “reminder”. Mungkin bisa dibuat reminder semacam sms
2. Adopsi tukik
3. HPKKH
4. Lomba cerpen
5. Dan kemungkinan kemungkinan kegiatan lain dengan terus menggali potensi-potensi KVers muda. Segera akan disusun kepanitiaan untuk acara Dies UGM yang akan datang.

Semoga semua kegiatan dapat berlangsung dengan baik dan tetap guyub rukun.

Dalam acara ini berhasil dikumpulkan uang sebanyak 2.480.000 untuk kegiatan beasiswa dan adopsi tukik. Acara diakhiri jam 14.00 dengan membawa kenangan masing-masing dan tentu saja bungkusan makanan masing-masing karena makanan berlebih 

Saya, karena sedang selaww menunggu acara nonbar lanjutan syawalan mencoba untuk mengabsen satu persatu, kalau ada yang terlupa atau karena saya tidak melihat, mohon ditambahkan :
1.Lestari Octavia
2. Mohamad Sholeh
3. Irvan Kristanto
4, Ryan wuryanto dan istri
5. Indarto dan istri
6. Puthut Gambul
8. Sopril amir
9. Hasannudin Abdurakhman dan istri
10. Hasannudin M K
11. Iwan Hermawan
12.Alfian Rasyid
13. Nur hatta luqman siddiq
14. Sagung Indriani Oka
15. Sagung Dwivandari Oka
16. Aroem Naroeni
17. Krisma Perwitasari
18. Hendri Bundrawan
19. Putri Rhenary
20. Yunus Tohir
21. Arianto Rizki dan istri
22. Dariah
23. Heni Yusuf
24. Milona sakantira
25. Arum Kusumaningtyas
26. Utty Damayanti
27. Taufik elrahman
28. Dhim Rudy
29.Katherine
30. Atin Khomariah
31. Ajianto
32. Sudarsono Martoyo
33. Retno Palupi
34.Imitiyaz
35. Jupriono
36. Saherman
37.Sinyo TW
38 Marriadi

Sampai jumpa di kegiatan yang akan datang!

Advertisements

Bertemu dan Berbagi Itu Sumber Energi

Bertemu dan Berbagi Itu Sumber Energi,

by Sopril Amir

“Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu”

begitu syair lagu “Yogyakarta” dari KLa Project itu mengalun, spontan kami semua tersengat bersemangat. “Aduh lagu ini bagusnya nanti saja, pas kita sudah selesai,” kata Heni H. Yusuf yang berdiri di dalam kelas, tengah menanti ibu-ibu warga Bukit Duri yang hendak mengambil bingkisan sebelum pulang.

Ya, kami saat itu tengah berbagi, dalam rangka reuni (untuk kesekiankalinya, hahaha) Kagama Virtual di SD Pendidikan Rakyat II di Bukit Duri. Pertemuan kami kali ini pada awalnya ingin ikut berbagi, membantu korban banjir Jakarta. Kebetulan banjir awal tahun ini tergolong meluap besar, termasuk tradisi banjir lima tahunan. Dari hasil berembug di rumah R Kristiawan Kristiawan, kami menyimpulkan bahwa bantuan pasti sangat banyak, jangan-jangan bantuan dari kami, yang tidak banyak dan jenisnya sama dengan lainnya, akan “kurang nendang”, seperti menggarami laut. Lalu terbetik ide, bagaimana kalau kita membantunya sesudah banjir saja? Ini mungkin melawan arus, ketika trend bantuan menyurut mengiringi banjir yang pulang, kami malah datang menghampiri, tapi tidakkah itu bagus juga? Lalu disepakati mencari lokasi yang sekiranya masih perlu bantuan setelah banjir, yang terpikir adalah sekolah. Karena bisa saja sanitasi sekolah itu rusak hanyut terseret banjir, sementara bantuan sedikit sekali mengarah ke sana.

Ketua panitia tertunjuk, Alfian Rasyid, rupanya type cukup rajin dan tangguh. Dia rajin menyisir tempat yang sekiranya layak dibantu. Singkat cerita, didapatlah Kampung Melayu Kecil di kawasan Bukit Duri ini. Tapi tunggu dulu, rencana bantuan kami ternyata tidak laku. Masyarakat di sini, sudah cukup akrab dengan banjir dan juga sudah sering mendapat bantuan terkait banjir. Karena itu, mereka ingin, kalau masih mau membantu, kami membawa bantuan jenis lain saja. Berupa apa? Warga bilang ada kenakalan remaja, kasus HIV/AIDS sudah pula muncul. Waks! Kami tak menyiapkan diri ke sana.

Tapi janji sudah terucap, operasi bantuan harus tetap digelar, meski tak langsung menjawab permintaan. Panitia kemudian memutuskan untuk membuat penyuluhan mengenai penanganan gizi anak dikala bencana dan membantu peringatan Hari Kartini di SD setempat.

Pengumuman dan undangan, serta press release dibuat dan disebar. Kami berkabar kepada sesama Kagama di Jakarta, online atau pun off line, bahwa akan ada pertemuan di sebuah titik di Jakarta. Tidak hanya bertemu, alias kopdar, tapi pertemuan itu akan jadi ajang berbagi dengan warga setempat.

Lalu jadilah.

Sebagian warga Kagama Virtual pun datang dan bercengkerama di halaman sekolah. Aku sendiri, datang agak telat, karena kesasar, hehe. Bersama Raisah Suarni dan bang Ujang Syafnir, kami berbagi cerita tentang pekerjaan dan kehidupan di Jakarta yang tak jauh dari minat kami bersama: kebijakan publik.

Mumpung masih sepi, sebagian warga Kagama sedang membantu peringatan hari Kartini, kami sempatkan diri untuk bertukar cerita dan, apalagi kalau bukan, photo bersama. Di sini aku ketemu lagi dengan Lei, Utty Damayanti dan pertamakali dengan Linda Tjhin. Ada bintang tamu impor dari Yogya, Milona Ilza Sakantira dan Eka Priastana Putra. Dipandu Aroem Naroeni, kami lalu berkenalan satu sama lain, sambil menulis lagu pesanan untuk dinyanyikan kelompok Klik Kustik, termasuk pula lagu Yogyakarta nan legendaris itu. Saat itu juga kami sempatkan untuk makan siang. Dan saat itu pula menyempatkan diri untuk menyapa dan menggoda pengantin “agak” baru, Imtiyaz dan Rio.

Pertemuan kami harus berakhir separuh jalan, karena ibu-ibu warga sekitar yang diundang penyuluhan telah mulai berdatangan. Kami persilakan para warga duduk di barisan kursi yang tersedia. Entah mantera apa yang disemburkan panitia, penyuluhan ini laris manis. Peserta membludak. Kursi di bawah tenda di tengah lapangan sekolah itu dengan cepat habis terpakai. Lapangan segera penuh sesak. Apalagi tak lama hujan pun turun, dari sedikit dengan cepat menjadi deras. Mungkin karena memang sudah akrab dengan hujan, tak tampak cemas di wajah ibu-ibu dan anak warga akan kedatangan hujan yang deras. Tenda tak tertutup sempurna dan atapnya tempias, tak membuat keceriaan di muka mereka pergi. Penyuluhan, meski harus bersaing dengan desau hujan dan genangan di kaki, berlangsung lancar.

Di tepi lapangan, pintu beberapa kelas terbuka. Di sana, panitia mengadakan lomba melukis pot untuk anak sekolah, temanya “Bumiku Emakku”. Entah karena sungkan atau gagal mendapatkan orang yang bersedia, panitia menyeretku untuk jadi juri dadakan. Dengan tampilan yang dibagus-baguskan, jadilah aku bersama ketua panitia, juri lomba lukis. Dilihat dari senyum malu tapi semangat beberapa anak, sepertinya penampilan kami berhasil.

Lepas dari juri dadakan, aku kembali bergabung dengan Heni dan Milona bersiap menyambut rombongan ibu-ibu warga yang menjemput bingkisan sebelum pulang. Bingkisan kecil itu berisi minyak, beras dan gula, volumenya tentu jauh dari sumbangan yang biasa diterima ibu-ibu itu, tapi kami berharap semoga itu tetap cukup membantu. Saat itulah, lagu Yogyakarta pesanan terlantunkan.

Semangat kami yang sudah mulai menurut menjelang akhir acara mendadak naik lagi. Yogyakarta, kota yang mempertemukan kami semua dan mungkin sekaligus jadi momen pembentukan karakter kami hingga seperti sekarang.

Pembagian bingkisan berjalan lancar. Kami berkumpul lagi di lapangan, lagu pesanan lainnya terus dinyanyikan, dan kami pun ikut berdendang. Kursi kami tumpuk, kami pun merapat. Lelah belum terasa, justru semangat keakraban yang terus bertambah. Kami terus bergurau dan bernyanyi hingga kami pulang. Mungkin inilah yang membuat kami ketagihan bertemu dan bertemu lagi. Dengan bertemu, bersama, berbagi tak membuat rugi, tapi malah jadi sumber energi.

Cari Satu Cinta di Antara Ribuan Orang, Yang Kutemukan Kegilaan, Receh, dan Persahabatan.

oleh : Cindy Silvia Hadi
                 Berawal dari event Pesbuk tentang reuni kagama, aku mulai merencakan untuk bisa rehat sejenak dari rutinitas. Aku mengajukan jadwal cuti hingga bulan Desember nanti, dan atasanku hanya berkata “its okey.” Yes! Teriakku dalam hati. Di kalenderku tak mengenal weekend, dan tanggal bisa mendadak menjadi “merah” (libur) ketika ada kata “it’s okey” dari pihak yang berwenang.
                Satu minggu sebelum hari kebebasanku, aku memantau info-info kegiatan melalui gadget. “besok ber-gangnam versi jowo style ya” membaca sambil melongo dan garuk2 kepala. Apalagi nie ya? “Hatchi!!” video kiriman mba Laely masuk di BBM. Ngakak sendiria liat video nya.
                   Kamis malam aku sudah tiba di Bekasi. Kacamata, okey. Kain sifon, okey. Baju merah, okey. Kupastikan tak ada yang tertinggal, karena aku malas mencari2nya lagi.
           Jum’at…
             Sabtu…
              Horee, hari Minggu!!! Ini pertama kalinya naik kereta sendirian, antara ragu dan was-was. Berbekal informasi yang didapat, tiba di stasiun Klender pukul 07.30 dan  aku tidak ketinggalan kereta. Entah kenapa, hari itu sepertinya dress code nya merah, banyak banget orang berlalu lalang menggunakan baju merah. Berharap ada salah satu diantara mereka yang berniat datang ke reuni Kagama. Sepertinya harapan itu hanyalah sebuah harapan. Ha ha ha, hanya kebetulan banyak yang menggunakan baju merah. Meeting point nya di stasiun kota. Menunggu Indri yang terlambat datang, akhirnya aku memutuskan untuk sarapan pagi terlebih dahulu.
Indri dan Ndari datang… lets go to Ancol and we will having fun!!
Tidak pake bingung , tidak pake kesasa, kami tiba di Ecovention Hall Ecopark, banyak orang dominan menggunakan baju merah. Kalau yang ini tak diragukan lagi, pasti mau reuni Kagama. Di sini aku bertemu dengan teman-teman yang kenal berawal dari social media. Setelah bercipika cipiki, dan say hai, kami diajak untuk gladi bersih tarian Jowo Style. Dibilang gladi bersih, tapi nggak seperti gladi bersih. Ada yang sibuk menyapa teman, ada yang hanya melihat latihannya, dan ada sibuk dengan kameranya. Gladi bersih selama 20 menit, dirasa sudah cukup dan siap membaur dengan teman-teman lainnya.
                Aku bertemu dengan senior yang juga partner kerja selama 1 tahun, memang sengaja kami janjian disini. Tapi dia memilih untuk resign dan meninggalkanku seorang diri menjadi baby sister untuk para nila-nila ku… >_<
           Alumni paduan suara menjadi pembuka acara reuni. Tiba-tiba “maju… maju!” Apa ya? Dan ngapain ya? Aku mengikuti teman-teman Kagama Virtual berdiri di depan panggung tanpa mengerti maksud dan tujuannya. Ternyata menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Gadjah Mada dan diperkenalkan sebagai panitia “Kagama Goes Green”.
          Kami menunggu jadwal aksi panggung sembari bercakap-cakap, menyapa teman lama, makan, bercanda. “pertunjukan kedua, Kagama Virtual” duo MC memanggil kami. Diawali salto dari Alfian kemudian diikuti teman-teman yang bermodalkan “nekat” untuk meramaikan dan menunjukkan kekompakannya. Lagu berdurasi 2 menit, ditutup dengan atraksi ngesot dari Mas Irvan.
            Setelah berganganam ria, rasa nya kaki, tangan, dan badan masih ingin digerakkan. Kami selalu meramaikan dan membuat penuh pelataran panggung. Dan mungkin merusak suasana penonton yang hanya duduk di bangku. Ada sebuah lagu, aku lupa judulnya, ada beberapa alumni ke depan panggung dan menarikan poco-poco. Rasanya gerakan poco-poco yang sudah dikombinasikan kurang familiar bagi kami. Kami tetap bertahan di depan panggung tetapi sudah mulai tangan dan kaki di goyang, ajeb-ajeb.
               Bintang tamunya Ikang Fauzy dan Sammy Simonangkir. “Saya Alumni dari MM UGM, jika rekan-rekan alumni kasian pada saya, silahkan beli album saya yang di jual di Stan Depan” kata Ikang Fauzy. PROMO !!!
                 Kita heboh di depan panggung ternyata dilihat oleh orang orang penting sekelas Anis Baswedan, Roy Suryo, Rektor Ugm dan Sekjen PP Kagama Pak Budi Wignyosukarto.Tapi cuek aja tuh! Lanjutin lagi ajeb-ajebnya mang!
                   “Tiba-tiba cinta datang kepadaku, saat kumulai mencari cinta. Tiba-tiba cinta datang kepadaku, kuharap dia rasakan yang sama”
Hm, aku menemukan sesosok yang menarik, mau kenalan tapi nggak pede. Cukup curi-curi pandang. Intermezo! Kalimat Mbak Laely (2012) berikut ini mewakili apa yang yang ada di hatiku, “Sebenarnya saya mencari satu cinta di antara ratusan atau ribuan orang itu, tapi yang kutemukan kegilaan, receh, dan persahabatan. “
           Hohoho.
           Saat yang ditunggu tiba, pengumuman lomba tari spontanitas. “Juara 2, Kagama Virtual mendapatkan Rp. 1.500.000 ” ujar MC. Yippyy… !!! Beberapa dari kami bersorak-sorak. Untuk merayakan kemenangan kami, maka reuni kali ini ditutup dengan Foto keluarga Kagama Virtual. Dan hadiah tersebut akan kami sumbangkan untuk Beasiswa Kagama Virtual.
              Bagiku, Reuni kali ini selain bertemu dengan teman-teman tetapi juga berolahraga dan menggalang dana untuk Beasiswa Kagama Virtual. Capek, seneng, dan pengen ikut lagi.
Menantikan Reuni “Kagama Goes Green” yang akan diadakan di Yogyakarta tanggal 8-9 Desember 2012. kalau kata mba Aroem “Aku tak lagi Virtual.

Terjebak Ikut Nari Gangnam Versi Nekat di Temu Kangen Kagama di Ancol

KAGAMA GATHERING at Ancol (Kagangnam Style)

oleh Hery Muhendra

Weekend, salah satu hal yang paling dinanti. Biasanya weekend diisi dengan full time relax, jalan jalan, kumpul keluarga atau sekedar nyuci2 baju kotor terus ngegelosor di lantai berjam jam. Apapun weekendmu, gunakan waktu dengan bijak, karena yang mau gw share ini adalah salah satu weekend gw yang cukup menarik. Ada yang ga biasa di weekend ini, ada satu agenda yang terus saja mengusik hati sanubari.

Berawal dari obrolan ringan di tempat karoke, beberapa minggu sebelumnya bersama beberapa anggota Kagama Virtual munculah ide untuk menghabiskan hari minggu tanggal 7 Oktober ini di Jakarta, ada acara KAGAMA gathering yang bertempat di Ecovention Hall Ecopark. Ide ini awalnya terdengar seperti basa basi, yak karena tempat kerja gw yang udah ga di Jakarta lagi tentunya membutuhkan waktu dan biaya klo harus ke Jakarta terlebih hanya untuk satu hari. Tapi seiring berjalannya waktu mendekati hari H, rasa kangen memuncak. Entah ada dorongan apa yang memaksa gw tetap harus kesana, mungkin that was called home. Setelah dipikir pikir, enggak lah ga mungkin masa gw anggep ancol home, emang gw badut ancol?? Terlepas dari alesan knapa gw ngotot ke Ancol, gw yakin satu hal, disana gw bakal disambut keluarga besar gw, KAGAMA family.

Pagi buta gw harus ngejer kereta terpagi dari Kota Cirebon, aneh karena bangun pagi itu sesuatu yang tabu dan sulit untuk di realisasikan buat gw. Terpaksa minta bantuan bidadari-bidadari untuk membangunkan, dan dengan susah payah kereta itu terkejar juga, tentunya terkejar dalam posisi masih di parkiran stasiun karena berhasil datang  5 menit lebih awal, prestasi. Perjalanan di kereta diiringi lagu lagu John Mayer dan Mr.Big menambah syahdu perjalanan ini, ga kerasa sampai dengan selamat di Stasiun Gambir yang suasananya Alhamdulillah macet total.

Stasiun Gambir adalah meeting point gw yang pertama karena disitu gw harus nunggu temen, si Diajeng DIY peringkat harapan dua yang gw tau tabiatnya aga unik. Hari itu nampaknya dia ga mandi, atau terlalu terburu buru mandi nampaknya, hahaha. Sebut saja Icha namanya. Macet yang terjadi di gambir disebabkan oleh pameran alusista yang diadakan oleh TNI dalam rangka merayakan ulang tahun TNI. Monas mendadak rame dan hal itu juga yang membuat si Icha harus jalan kaki cukup jauh, kita pun resmi ngaret.

Setelah berdiskusi cukup panjang dan alot mengenai keefektifitasan penggunaan busway atau ojek, akhirnya kita memilih taxy sebagai jalan tengah. Dengan harapan macet ini pasti berlalu,dan harapan itu walau tipis menjadi kenyataan. Sampai pintu Ancol kita hanya menunjukan poster yang gw print asal asalan, ternyata langsung diperbolehkan masuk. Masuk, definisi masuk disini adalah masuk ke area Ancol yang besar dengan segala nama tempatnya, sang supir give up dengan mengangkat tangannya, kita Cuma bisa geleng geleng sambil nutup idung tanda ga tau juga. Akhirnya kita nemuin satpam yang dengan baiknya memberi tau arah, belok kanan mentok ke kiri dan luruuus. Karena terlalu banyak belokan ke kanan ataupun yang ke kiri, kami resmi menghabiskan 15 menit tour di dalam ancol mencari alamat.  Baru pada satpam yang ketiga, akhirnya kami dapat menemukan gedung convention hall ecopark. Dan kegembiraan baru saja dimulai.

Indoor, satu hal yang aga missed dari perkiraan gw. Mana mungkin bisa bebas berekpresi, disuasana indoor yang kaku dan pengap, lampu gelap dan yang pasti fokus penonton semua akan ke depan. Tapi hal itu bukan lah sesuatu yang menjadi masalah buat kita, kita dalam hal ini melingkupi seluruh serdadu lengkap Kagama Virtual, baik om om senangnya, tante tante enerjiknya, atau pemuda pemudi tanggung penuh pesonanya, fyi gw masuk golongan yang terakhir. Baru masuk pintu, senyum senyum ramah langsung menyambut dan gw larut dalam obrolan, seketika ditarik ke depan untuk berbaris menghadap ribuan penonton, tanpa tau tujuannya apa gw nurut aja, di barisan depan penonton sudah berjejer orang orang penting sekelas Anis Baswedan, Roy Suryo, Rektor Ugm dan Sekjen PP Kagama Pak Budi Wignyosukarto. Mati gaya, sangat. Namun entah kenapa bersama sama semua itu terasa menyenangkan.

Kreatif, acara terbilang cukup menarik karena dari awal kita sudah dituntut untuk berinteraksi sesama alumni ugm. Untuk memfasilitasi tujuan tersebut panitia membuat beberapa lomba dan salah satunya adalah lomba dance secara spontan, dengan berbekal pemegang juara tahun kemarin Kavir berencana untuk perform dengan thema gangnam style versi jawa. Dance satu ini memang sedang populer sekali walaupun menurut gw gerakannya ga lebih dari njatilan versi korea yang terkena dampak globalisasi. Jauh jauh hari gw udah nolak untuk ikut karena takut ngerusak, emang dance kayanya bukan specialisasi gw dengan badan yang kian berat hari demi hari badanku tak selincah dulu lagi. Apa daya, dengan sedikit tarikan dan dorongan gw sukses terjebak ikut nari gangnam style versi jowo, dikutip perkataan mba laeliyatul bukan versi jawa  tapi versi nekat.

Di awali dengan koprolan maut mas Alfian Rasyid, diikuti dengan gerakan gerakan gangnam yang spontan tapi (mudah mudahan) menghibur, diiringi saweran saweran receh dan ditutup oleh formasi aneh mas Puthut dan Mas Irvan. Kombinasi yang super unik menurut gw, ga bakal ada yang mendefinisikan indah mungkin, tapi lebih di definisikan superr seruu dan supeer spontan. Jempol buat semua serdadu kavir yang memutus urat malunya sesaat kemarin. Sayangnya moment kagangnam style tidak banyak yang mengabadikan, penonton semua sibuk melongo, tertawa atau menutup muka saking malunya. Gw juga ga pernah nyesel ikut terlibat di dance itu, pengalaman yang cukup aneh tapi selalu lucu dan menghibur jika diingat.

Acara temu kangen kagama tersebut dibuat bukannya tanpa bintang tamu, beberapa artis ibu kota seperti Ikang Fauzy dan Sammy Simonangkir turut andil menghibur. Rocker dari warga Kavir sendiri lebih atraktif lagi membuat serdadu kavir tumpah riuh ke depan stage. Lagu lagu berbeat kencang dan lagu lagu melow bergantian menghibur. Sepanjang acara serdadu kavir jingkrak jingkrak, ada yang sibuk foto foto, ada yang sibuk loncat loncat, ada juga yang sibuk foto sambil loncat loncat. Acara itu ditutup dengan pengumuman pemenang lomba, dan Kagangnam Style versi kavir mendapatkan juara II. Jangan tanya alasannya, aga berbau magic dan mukjizat kita bisa menang juara dua! Hahaha. Doanya kuat mungkin, semoga acara acara selanjutnya akan tetap seperti ini, dengan khas dari keluarga kavir, penuh semangat, hangat dan gak biasa. We are Kavir family, and im proud of it.

Kopdar Ngumpulin Tanda Tangan

Photo by Novian Wijaya

“Mas pernah pacaran dengan kembang kampus?” tanya seorang perempuan memulai perkenalan dengan laki-laki yang sedang berdiri di antara kerumunan. Perempuan itu sembari menyodorkan selembar kertas dan pena, sekaligus minta tanda tangan. Apa nggak ada topik lain ya, mulai perkenalan kok dengan pertanyaan seperti itu? Tunggu dulu, ini bukan perkenalan biasa. Acara ospek? Hm, ikuti dulu lanjutannya.

“Diantara kolom ini ada yang sesuai dengan njenengan, Mbak?” pertanyaan kali ini untuk perempuan berjilbab yang sedang duduk di halaman bertenda. Seorang yang bertanya itu masih dengan kertas berkolom dan pulpen untuk mengumpulkan tanda tangan.

Di teras bertenda, Komplek PJA DPR RI, D3-300

“Oh, aku cinlok dengan Mas Ganjar saat KKN,” jawab mbak Atik, istri tuan rumah sembari menandatangani sebuah kolom. Mereka, sekitar 70 orang yang berkerumun pernah menjadi mahasiswa di kampus UGM Yogyakarta. Saat itu, Ahad 16 September 2012, bukan sedang kegiatan ospek, melainkan acara reuni Kagama Virtual sekagus syawalan di kediaman Mas Ganjar Pranowo di komplek Perumahan Anggota DPR RI, Kalibata, Jakarta Selatan.

Para tamu yang hadir adalah alumni UGM dari berbagai angkatan dan berbagai fakultas, jadi tidak semua saling kenal. Makanya perlu dibuat perkenalan khusus untuk memudahkan saling mengingat. Setiap peserta dibagi satu lembar kertas yang berisi 25 kotak. Masing-masing kotak berisi keterangan khusus, diantaranya “pernah pacaran dengan kembang kampus”, “memakai kaos Kagama Virtual”, “pernah cinlok saat KKN” dll. Mereka saling mencari tanda tangan teman yang sesuai dengan keterangan kolom.

Beginilah ruang tengah rumah dinas anggota DPR RI. 🙂

Selanjutnya acara agak berbeda dengan reuni-reuni Kagama sebelumnya. Karena Mas Ganjar baru saja mendaftar calon Gubernur Jawa Tengah, dalam sambutannya tak bisa dihindari muncul muatan politik. Mas Ganjar menyinggung tentang pengelolaan pajak bangsa ini yang belum optimal. Juga hal-hal yang bisa dikonstruksikan dalam konteks kepemimpinan. Selain itu anggota DPR Komisi IV dari fraksi PDIP ini mengaku memiliki strategi gerakan khusus, namun tidak bisa diungkapkan saat itu. Lhoh kenapa? Saat itu kebetulan dia menjawab pertayaan dari teman kader PKS. “Strategi tidak akan saya kasih kecuali PKS juga akan mendukung saya hari ini! “ sahutnya. Gelak tawa teman-teman pun pecah di ruang tamu. Suasana makin seru dan hujan banyolan lantaran kehadiran senior Mas Puthut Gambul, Mas Hasto, dan Mas Irvan yang punya sejuta komentar. Membuat acara tambah gerrr.

“Ssst.. ssst…sst..” bisik-bisik, awas inteligen dimana-mana.

                Saat makan siang dan waktu ibadah, mereka menikmati acara bebas. Yang di dekat pintu sedang ngobrol soal pekerjaan, yang di kursi makan sedang nostalgia jaman kuliah, yang di teras ngobrol ngalor ngidul, yang di pojokan sedang curhat masalah gebetan, dan yang di ujung tenda samar-samar terdengar nama Jokowi disebut-sebut. Ah iya, sekian hari lagi pemilihan Gubernur DKI. Jokowi sebagai kandidat DKI 1 sekaligus keluarga alumni UGM, tentunya tidak mengherankan jika punya pendukung dari kalangan teman-teman sealmamaternya. Pantas saja sejumlah orang berbaju kotak-kotak hadir di sana. Entah penyusup atau memang Kagama juga ya? Hihi. Juga, penulis buku tentang Jokowi, yang juga anggota Kagama, hadir di sana.

Duh, nyanyinya jangan keras-keras Mbak, Mas. Khawatir didengar produser rekaman. Khawatir ditolak! :p

Meski acara diwarnai nuansa politik, jangan pikir acara ini lantas membosankan. Buat yang tidak tertarik politik pun, punya ruang untuk hal lain. Bahkan, karaoke di teras bertenda sampai sore. Dengan suara pas-pasan, dan lebih banyak yang fals, diiringi organ tunggal, mereka nyanyi lagu-lagu lawas. Ini karena menyesuaikan yang pegang alat musik, koleksinya hanya lagu-lagu lama. Maklumlah, yang bersangkutan angkatan senior. Untunglah, ada satu lagu yang familiar oleh semua generasi. “Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu. Masih seperti dulu, tiap sudut…” lagu Yogyakarta ini membawa mereka kembali ke masa kampus. Merekatkan kembali kenangan-kenangan yang mungkin hampir retak. Termasuk kenangan seperti yang tercantum di salah satu kolom lembar perkenalan, kenangan bagi mereka yang pernah memiliki cerita dengan kembang kampus.

Nur Laeliyatul Masruroh

Depok, 17 September 2012.

Kebersamaan itu indah…

Kebersamaan itu indah…  
oleh: Aroem Naroeni

Berawal dari acara buka bersama di Taman Ismail Marzuki, mas Ganjar Pranowo menyampaikan undangannya untuk semua anggota KV untuk halal bihalal di rumah beliau. Akhirnya hari ini Minggu 16 September 2012, terselanggara acara halal bihalal keluarga KV. Diawali dengan permainan yang dipimpin Mba Umi Gita untuk saling mengenal dengan hadiah yang uhuyyyyyyyy!!:-). Kemudian dilanjutkan dengan acara diskusi tentang membangun jiwa kepemimpinan KAGAMA. Bagaimana kita bisa membangunnya untuk bangsa dan negara. Mungkin kesempatan untuk generasi perubahan belum ada tetapi kita harus memulainya.

Selanjutnya adalah acara makan bersama dan nyanyi bersama.:-)  

O yaaa mas Novian sempat membuat slide kegiatan KV yang dimulai dari sejarah berdirinya UGM, masa-masa kuliah yang unyu-unyu sampai kegiatan KV yang berawal dari berapa gelintir orang, berkembang dengan berbagai kegiatan KLC, KV Inc, Beasiswa,KPK, Hutan Pendidikan dan Konservasi Kusnadi Harjasumantri (HPKKH) dll.Mas Ryan dan mas Sinyo bercerita, dulu awalnya kita cuma berempat berkumpul sekarang sudah seperti sekarang. Banyak rencana-rencana bermunculan dari lomba foto, bedah buku, diskusi lanjutan dengan mas Ganjar….dll. Semua penuh antusias, penuh energi…..semoga semangat dan energi ini tertularkan ke yang lain dan setidaknya 1000 orang akan berkumpul di Merapi bulan Desember ini…………… SEMOGAAA!!    

Terima kasih untuk mas Ganjar Pranowo dan Mbak Atik….. Dan semua rekan yang membantu acara ini.

Berikut daftar hadir tetapi belum semua mengisi…. Sepertinya lebih dari 80 orang…. Terima kasih sudah datang. Dan maaf tidak bisa menyapa satu persatu , semoga di lain waktu bisa saling dekat.

  Daftar hadir :
1. Ganjar Pranowo
2. Atik
3. Aroem Naroeni
4. Irvan Kristanto
5. Indarto
6. Ryan Wuryanto
7. Heni Yusuf
8. Tri Harso S
9. Puthut Gambul
10. Novian Wijaya
11. Imitiyaz hawan
12. Sandya Yudha
13. Nur hatta luqman S
14. Cyndi Silvia
15. Alfian WS
16.Nur laeliyatul masruroh
17. Sinyo TW
18. Bima
19.Fadil
20.Mustofa
21.Engga kebaca
22.Rudy Umbara
23.Ulfia Mutiara
24.Lestari Octavia
25.Swandita adinata
26.Umi Gita
27 Raisah Suarni
28. Hendi Noor Irawan
29. Ajianto Dwi Nugroho
30. Utty Damayanti
31. Alief Afrian bargayu
32. M. Budi Santoso
33.Fajar Suryagama
34.Wied W winakto
35. Ujang Syafrir
36. Listiya manggiasih
37. Agus dwi praptana
38. Nara
39. Wira
40. Irawan
41.Ririn
42.Afif
43. Tisna
44. Yan
45. Nurul amri
46. Agus S
47. Iwan Hermawan
48.Ahmad fajar
49.Firda
50. Dewi nur cs
51. Putri kharisma
52.Yogaswara t g
53. Indah permata
54. Nita
56. Yunan novaris
57. Iwan manasa
58. Pendhi
59.Mayadi
60. Demo
61. Emelia Ratna Sari Dewi
62. Adhi Setyo
63. R. Agung wibowo putro
64. Andri Firsa
65. Dian Hidayat
66.Deny Purwo sambodo
67. Taufiq
68. Niken
69. Wibowo Arif
70. Andi Rahmah

Foto-foto bisa dilihat di : Kopdar Syawalan Kagama Virtual jakarta 1433 H

Kopdar Jepret, KVers Bersama Arbain Rambey

             Mengasah skill tentu saja penting bagi setiap orang. Ketrampilan apapun itu, jika seseorang mengusainya, dia akan menjadi yang terbaik di bidangnya. Atau, setidaknya bisa menunjang pekerjaannya. Atau, untuk having fun saja juga boleh. Termasuk fotografi. Jika dulu kemampuan fotografi hanya dimiliki kalangan tertentu seperti jurnalis foto atau fotografer studio, kini dimana-mana orang bisa memotret. Sebagian dari mereka mungkin tidak puas dengan hanya bisa jepret, tetapi ingin tahu lebih dalam bagaimana ilmu jepret itu. Berangkat dari itulah teman-teman Kagama Virtual (Kvers) di Jabodetabek berkumpul belajar motret di ODPS (Occi Digital Photography School), Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Sabtu 1 September 2012.

           Peserta yang awalnya ditargetkan 35, ternyata melebihi kuota hingga 40 orang. Mereka dari Jabodetabek, bahkan ada yang dari luar itu. Sebenarnya daya magnet apa yang membuat mereka bersedia meluangkan waktu ke sana? Padahal Jakarta yang macet dan jalanan ruwet seringkali bikin malas orang-orang untuk bepergiaan. Apalagi hanya untuk belajar motret. Bukankah cukup utak-atik sendiri fitur-fitur kamera di rumah? Tentu mereka punya alasan sendiri. “Dari SMA aku sudah minat foto-foto je. Kalau aku ikut kegiatan ini karena acara Kagama, jadi wajib dateng hukumnya, silaturahmi.” demikian alasan Alfian Rasyid, alumni Geofisika fakultas MIPA.

         Lain dengan Alfian, Sofyan Khoirul Anwar, alumni Teknik Geodesi, beralasan “Bukan karena tertarik fotografi, namun karena ingin bertemu teman-teman dan mempererat silaturahmi.” Lhoh!? Sofyan ini tinggal di Bekasi, menuju Jakarta Utara tentu saja bukan jarak yang pendek. Ditambah sepanjang jalan lalu lintas padat merayap dibalut terik matahari yang begitu menyengat. Namun, dia bela-belain datang.

          Sedangkan Mbak Utty Damayanti juga punya alasan sendiri. Selain ingin tahu tentang fotografi, secara umum/sedikit teknisnya, katanya juga ingin, “ketemu temen-teman dan bonus foto-foto yang fun!”

         Oke deh. Apapun alasannya, belajar sesuatu yang dikemas dengan acara berkumpul dengan teman-teman sealmamater memang bisa menjadi alasan penting untuk mengalahkan kendala. Termasuk kendala macet dan malas keluar rumah. Di sana bukan hanya berkumpul belajar fotografi, tetapi menemukan keluarga kedua. Teman-teman yang aman dan nyaman untuk berbagi. “Bukankah Rasulullah bersabda, siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diperbanyak rezekinya hendaknya ia memperpanjang silaturahmi.” tambah Sofyan mempertegas alasannya. Hoho.

Arbain Rambey mengenakan kaos Kelompok Fotografi Kagama buatan KVers. Photo by Eka Novianto N.

Apapun judul acaranya, ketika Kagama Virtual mengadakan “kopi darat” konon memang punya daya tarik tersendiri. Anggotanya terus bertambah. Kegiatannya makin variasi. Suasananya pun makin hangat. Lain waktu jika diadakan pelatihan membuat jamu, pesertanya pun mungkin akan banyak. Ups! Tapi kali ini tentang belajar motret dulu. Pematerinya nggak tanggung-tanggung, kami mengundang fotografer profesional, Arbain Rambey. Redaktur foto Kompas ini jurnalis yang memiliki keahlian dalam fotografi dan penulisan sekaligus.

                Melalui layar proyektor, sore itu Mas Arbain menunjukkan bagaimana mengatur komposisi objek alam dalam pemotretan. Seperti tajuk pohon, perahu sampan, dan sungai dalam satu frame. Gambar yang diambil dengan meletakkan perahu berada di bagian kanan, tentu hasilnya berbeda ketika motret dari angle lain. Arah datangnya cahaya matahari juga akan mempengaruhi hasil foto. Satu obyek alam bisa dipotret dengan berbagai sudut pandang. Keuntungannya, “Bisa dijual ke dua pihak yang berbeda,” ujar mas Arbain.

            Selain itu dibahas juga tentang bagaimana memotret objek manusia dengan latar belakang  alam ataupun bangunan. Menurut Arbain, saat pemotretan, objek manusianya bukan malah menjauh ke belakang mendekati bangunan, tetapi justru maju hingga separuh badan saja yang nampak dengan latar belakang bangunan yang penuh.

            Setelah mendapatkan sekian materi teknik fotografi, lalu mau diapakan hasil jepretan kita? Untuk koleksi pribadi dong atau dipajang di Facebook! Oh, kalau itu wajib. Selain itu, bisakah agar bernilai daya jual? Bagaimana caranya? Arbain mengatakan, seringlah untuk mengunggah hasil jepretan kita di internet, terutama situs yang memang memberi ruang fotografi. Di sana akan membuka peluang foto jepretan kita dilirik untuk kemudian dibeli. Bahkan, Arbain mengaku hidupnya 100% dari fotografi. Dia juga bercerita pernah diundang ke Eropa lantaran seorang nun jauh di sana tertarik dengan karyanya hingga ingin menggunakan keahlian fotografinya.

Tadaaaaa! Inilah salah satu hasilnya. ;-). Photo by Alfian Rasyid.

Meskipun tema acara kali ini “Travelling Photography” namun tidak terbatas hanya soal itu. Peserta boleh bertanya apa saja tentang fotografi dalam kategori apapun. Termasuk fotografi jurnalistik dan studio. Acara diakhiri menjajal praktek fotografi di studio dengan pencahayaan lampu. Seperti biasa, lebih banyak yang dipotret daripada yang motret. Hu-ha, dimaklumi. Oh ya, Arbain sempat menyinggung singkat mengenai sejarah narsis. Berawal dari seorang pemuda bernama Narcissus yang sering bercermin di air karena begitu mencintai dirinya sendiri sehingga tidak bosan melihat wajah sendiri. Jadi, “Foto narsis itu syah!” kira-kira begitu kata Arbain. Baiklah, siap? Satu dua, jepret! 😉

Nur Laeliyatul Masruroh

Depok, Minggu 2 September 2012.