Sepenggal Kisah Perjalanan

KEULETAN SEORANG PEREMPUAN DI RUMAH MAKAN

Oleh Hirmaningsih Rivai
Medan, 19 Februari 2012

Sebenarnya ini kisah lama, sebuah kisah yang ku dapatkan sewaktu perjalanan mengitari Sumatera Utara di ujung tahun 2010 yang lalu. Beberapa orang teman datang dari Pekanbaru untuk berwisata mengitari Sumatera Utara. Berkaitan dengan keterbatasan waktu, maka kami membuat rencana tempat-tempat apa saja yang dikunjungi beserta urutannya. Tentunya tidak semua tempat yang kami kunjungi, sehingga tempat-tempat yang akan didatangi haruslah disepakati oleh semua orang.

Ada satu tempat yang sangat ingin kami datangi yaitu Hill Park di Sibolangit. Disana ada aneka permainan yang penuh tantangan. Kami berangkat dari Medan Shubuh sekali sehingga ketika sampai di sana, Hill Park belum buka. Kami melanjutkan perjalanan ke air terjun Si Piso-Piso di desa Sitongging. Air dari air terjun ini akan mengalir ke Danau Toba. Jalan menuju ke air terjun merupakan jalan setapak menurun seperti anak tangga dan  sangat curam. Butuh satu jam lebih untuk turun dan 1,5 jam lebih lagi untuk naik kembali. Kami pun terengah-engah, lebih tepatnya saya deh yang kepoyoh-poyoh. Setelah makan siang, kami pergi mandi di pemandian air panas Sibayak. Tentunya selama perjalanan kami berhenti untuk foto-foto di setiap tempat yang indah dan juga makan jagung di daerah Brastagi. Perjalanan pulang ke Medan, kami singgah lagi ke Sibolangit ternyata Hill Parknya sudah keburu tutup. Kami memang selalu kembali ke Medan, karena teman-teman maunya menginap di Medan. Jadi perjalanan selalu dimulai Shubuh.

Teman-teman masih penasaran dengan Hill Park. Padahal esok hari agendanya adalah ke Prapat ke Danau Toba melalui Siantar. Dalam perjalanan ke Medan kami berembug dan memutuskan malam ini ke  Prapat melalui Siantar. Kami berharap pagi sudah menikmati Danau Toba dan ke Pulau Samosir. Siang harus balik ke Sibolangit melalui jalan Brastagi. Kebetulan sopir dari mobil yang kami sewa mengetahui ke dua rute  jalan yang berbeda itu. Jadi pukul 22.00 malam kami meluncur ke Prapat. Sampai sekitar pukul 2.30 dini hari. Istirahat di penginapan yang murah namun bersih. Pagi kami sarapan dan mencari kapal yang ke Samosir. Sayangnya kapalnya tidak kunjung penuh sehingga sejam lebih kapalnya mondar-madir mencari penumpang. Target waktu jadi berantakan. Di Pulau Samosir hanya sebentar. Di kapal kami memutuskan akan memesan nasi kotak saja agar bisa makan di mobil. Hal ini untuk menghemat waktu dan mengejar agar bisa sampai sebelum Hill Park tutup. Ketika kami sampaikan ke Pak Sopir, ia menyatakan ok pada rencana kami dan belumlah terlalu lapar.

Kami singgah ke sebuah rumah makan melayu di Prapat. Memesan nasi kotak untuk 7 orang. Anak muda yang melayani kami  memanggil seorang bapak yang relative masih muda juga, mungkin sekitar usia 40 tahunan. Anak muda tersebut menyampaikan ke si Bapak  bahwa kami pesan makanan yang dikotak. Si Bapak serta merta mengatakan tidak bisa. Bisanya cuma dibungkus saja. Saya mengatakan cuma untuk 7 orang, karena kami mau makan di mobil. Jika dibungkus maka akan sulit menyantapnya. Bapak itu tetap menggelengkan kepalanya dan mengacuhkan kami. Saya mengucapkan terimakasih dan mengatakan: “Maaf tidak jadi.” Tiba-tiba seorang Ibu yang usianya relative sama dengan si Bapak yang sebelumnya melayani pembeli yang lain menghampiri dan menanyakan ke keperlunya berapa kotak.  Ketika di jawab cuma 7 kotak, ia tersenyum sembari berkata oh cuma 7 kotak saja ya. Ia mengatakan maukah kami menunggu sebentar. Lalu ia bergegas masuk ke ruangan lain mengambil kertas bahan untuk pembuat kotak, meminta orang yang pertama melayani kami merangkai kotak itu, lalu mengisi kotak tersebut sesuai dengan pesanan kami. Si Bapak yang tadi langsung pergi dari hadapan kami dan cuek saja. Nampaknya si Ibu yang ramah dan gesit tadi adalah istrinya.

Di mobil kami memperbincangkan perilaku si Bapak dan si Ibu tadi.  Rumah makannya memang cukup besar, rapi bersih dan ramai. Si Ibu memperlakukan si pembeli dengan ramah, berusaha memenuhi kebutuhan pembeli walaupun cuma 7 kotak. Bahkan menyarankan pilihan lauk dan sayur yang mudah untuk disantap selama perjalanan. Memang situasi saat itu sedang ramai sekali. Mungkin bagi si Bapak kehilangan 7 kotak pesanan tidak menjadi masalah. Bagi si Ibu mungkin setiap pembeli adalah rezeki buatnya. Entahlah. Kami hanya merasa si Ibu lebih gesit dan bersungguh-sungguh dalam usahanya. Bahkan salah satu teman perjalananku berujar, mungkin usaha mereka maju dan berhasil lebih karena sikap dan keuletan istrinya. Bisa Jadi.

Advertisements

Adakah Cinta Dalam Kerak Nasi?

ADAKAH  CINTA  DALAM KERAK NASI?

Hirmaningsih Rivai

+++++++++++++++++++++++

 INTIP,… aku bingung kenapa diberi  nama intip. Dari kecil aku cuma menyebutnya kerak. Ya.. ya kerak, kerak nasi. Aku tidak asing dengan kerak nasi. Nenek-nenekku menanak nasi dengan kayu, ibuku dulu bahkan sampai sekarang sebenarnya lebih suka dengan kompor. Katanya aroma nasi dan rasanya lebih enak  dimasak dengan cara tradisional itu daripada dengan peralatan elektronika yang serba modern dan serba cepat saji.

Aku pikir benar juga. Apalagi kalau berasnya berasal dari beras mudik ataupun beras Solok dari Sumatera Barat. “Bareh Solok” , kami menyebutnya. Ada lagu yang melantunkan  bahwa jika makan dengan bareh Solok betapa nikmatnya, “indak tantu mantua lalu.’ Maksudnya gak sadar atau gak tahu kalau mertua nya lewat. Ha ha ha ha demikianlah penggambarannya tentang bareh Solok. Sesungguhnya pun aku memang lebih suka bareh mudiak  atau barek Solok. Nasinya badarai tapi indak kareh,. Du du maaf,.. maaf… Maksudnya nasi dari beras mudik atau beras Solok berderai tapi gak keras. Kalau beras-beras di Jawa, kesanku bergetah alias agak-agak menyatu. Waduch.. aku susah menjelaskan perbedaan ini. Bagi yang tinggal lama di Jogja atau di Jawa dan pernah juga tinggal di Sumatera terutama Sumbar dan Riau tentu taulah perbedaannya.

Nah, kembali lagi ke kerak nasi, maka itu adalah panganan dan camilanku sehari-hari. Tentu saja dengan cara memasak nasi dengan kayu yang bara apinya di kurangi sedikit demi sedikit atau kompor dengan cara apinya dikecilkan sedikit demi sedikit maka tetap akan ada keraknya. Aku masih jago loh masak dengan cara tradisional ini. Dibutuhkan keterampilan sendiri agar keraknya tidak banyak. Jika keraknya sedikit, biasanya ku makan saja langsung ketika memindahkan nasi dari periuk ke tempat nasi. Tapi kalau tebal keraknya maka diletakanlah ke dalam “piriang kanso yang laweh”. Piring kanso yang laweh artinya piring besar dari seng. Nah jika ada mentari langsunglah dijemur. Setelah kering  digoreng, dan disantaplah. Para ponakanku juga suka.

Susahnya jika mentari tidak bersahabat, mendung atau hujan melulu. Nasib si kerak nasi tadi berjamur karena tidak cepat kering dengan sempurna. Biasanya itu jadi santapan ikan-ikan di kolam ikanku. Ho ho ho aku berpikir begitu alam mengatur keseimbangannya. Tetap ada jatah untuk ikan-ikan,.. gak perlu beri makanan ikan khusus.

Berkaitan denga kerak nasi itu, aku melihat banyak cinta di sana. Inilah kisah-kisahnya yang ku temui Cerita pertama berkaitan dengan ponakanku yang suka makan kerka nasi. Adik dan adik iparku sangat telaten menjemur kerak-kerak itu, karena meraka tahu para ponakanku sangat suka. Kalau hari hujan, kayaknya kerak itu yang diselamatkan terlebih dahulu baru pakaian yang dijemur.

Aku punya seorang tetangga, usianya sebaya dengan mama. Waktu dua orang adikku menikah, maka menantu mamaku turunnya dari tante tersebut. Menantu-menantu ibuku semuanya dari luar kota. Jadi harus dicarikan rumah dan keluarga sebagai tempat ia turun. Ia sangat suka intip Jogja. Saking sukanya ia menitipkan agar aku membeli Intip Jogja dan yang paling besar katanya. Walah demi keinginan si tante itu, ku membelikan yang paling besar dan bulat. Hebatnya  aku naik pesawat yang mesti transit. Intip yang hanya kerak nasi juga ikutan naik pesawat. Dan yang lebih hebatnya lagi, kerak itu sampai ke tangan tante dengan bulat utuh. Kenapa bisa begitu, karena aku memangkunya sepanjang perjalanan. Dan aku senang sekali lihat mata tante yang bersinar  melihat intip yang besar bulat utuh. Ha aha ha. Bisa bayangkan Jogjakarta – Pekanbaru dengan membawa intip yang tetap utuh. Kenapa aku memangkunya. Karena sebelumnya ada yang mengirimi si tante intip dari Jogja, pas sampai di Pekanbaru dalam keadaan remuk. Nah aku lihat sedikit kekecewaannya ketika gak melihat intip yang remuk itu. Kayaknya sensasinya beda. Ha ha ha ahah

Cerita yang menarik lagi tahun lalu, ibu kostku terpaksa membongkar lemarinya mencari periuk nasi. Gara-gara sudah sangat lama periuk itu disimpan. Ia akan menanak nasi dengan periuk dengan kompor. Apa yang terjadi ternyata… ho ternyata… si Anak dan mantunya yang tinggal bertahun-tahun di Aussie akan pulang dan jauh-jauh hari sudah pesan agar disediakan kerak nasi sebanyak-banyaknya. Ibu kostku yang berusia 70 tahun itu tertawa aja ketika ia bolak-balik menjemur kerak nasi tersebut. Ia mengatakan “permintaan yang aneh, sudah lama di negera asing, pulang-pulang minta kerak nasi”.  Andai di Medan banyak yang jualan kerak nasi atau intip di Jogjakarta. Tentu beliau tidak terlalu repot mengadakannya.  Ketika aku usulkan agar pesan di Jogjakartanya aja. Ibu mengatakan anak dan mantu maunya yang buatan ibu. ho ho ho ho, aku jadi terkenang almarhum nenekku yang biasa melakukan hal yang sama dengan telaten.

Saat ini kerak nasi atau Intip banyak di toko-toko wisata. Yang di toko akan mudah kita dapatkan, cukup dengan menukar  rupiah dengan harga yang relatif terjangkau maka kita bisa makan sepuasnya. Aku percaya  juga kerak nasi atau Intip yang akhirnya dibuat dengan sengaja sebagai makanan yang dijajakan dengan dipikul  bahkan naik gengsinya di toko-toko wisata merupakan hasil kerja keras para pengrajin makanan rumahan yang dikemas dengan indah. Banyak mulut yang bergantung dari hasil upaya keras itu tapi hasilnya tidak seberapa karena harganya yang relatif murah. Namun tetap banyak orang yang mengupayakan agar anaknya tetap sekolah, agar tetap bertahan hidup, agar bisa bayar sewa rumah, agar bisa makan dan sebagainya. Sepertinya halnya penjaja kerak telor  (kerak dengan model ala Betawi) di Jakarta yang panennya sesekali saja.

Akhir kata, marilah kita bernostalgia. Masihkah teman-teman ingat pengalaman makan kerak nasi , intip, kerak telor, atau kerak-kerak yang lainnya. Terutama yang buatan rumah sendiri atau memang kerak benaran dari hasil menanak nasi setiap hari. Ingatlah lagi bagaimana proses itu sampai ke mulut kita. Bagaimana kerak itu bernyanyi gembira dengan renyah saat kita mengunyahnya. Betapa panjangnya,… terutama pada proses menjemurnya. Jika teman-teman punya pengalaman ini, ingatlah ketika mengunyah renyah bahwa sebenarnya ada cinta yang tersisa di sana.

>>>>>Kenangan Pada Kerak Nasi.  Medan, 2 Desember 2011.

Guruku, Ibu Mazna….

Guruku, Ibu Mazna….

Hirmaningsih Rivai

 

Namanya Ibu Mazna, guru baruku di kelas 5 SD. Ia mengajar matematika. Ia perempuan yang cantik dengan kulit kuning langsat dan rambut sebahu yang ikal. Badannya ramping dan cukup tinggi untuk ukuran perempuan Indonesia. Senyumnya khas dan tawanya renyah.

Ia pintar sekali dan baik hati. Ia membuat matematika mudah dipahami. Tidak menghukum dan mau mendengar muridnya. Mau mengakui kalau ia keliru. Ia juga rajin bercerita untuk memotivasi. Kami pun merajut mimpi.
Jika aku akhirnya punya cita-cita tinggi. Gadis kecil yatim dari SD pinggiran negeri. Dan menggantung asa pada kekuatan diri. Karena ia memberi inspirasi.

Bertahun-tahun tak bersua, tapi jiwanya selalu ada. Ketika kembali ke kota tercinta dan berniat untuk bersua melihat wajahnya, beliau sudah menjadi jenazah. Meninggal dalam usia yang relative muda. Maafkanlah siswamu yang terlambat menyapa. Kami makin berurai air mata ketika suaminya bercerita bahwa kami adalah siswa kebanggannya.

Medan… 25 November 2011

Kenangan Pada Ibu Mazna
Selamat Hari Guru, IBu….. Engkau selalu ada dalam diriku….

Cinta dalam Sepotong UBI Kayu

Cinta dalam Sepotong UBI Kayu

Hirmaningsih Rivai

Malam ini, entah mengapa disaat-saat sebagian orang bermalam minggu dengan keluarga, dengan tunangan , dengan pacar ataupun dengan teman, diriku termenung rindu sendirian di kamar. Bukan merindukan pangeran, belahan hati atau seseorang yang ku taksir akan ku jadikan suami, tapi aku malah rindu dengan ubi goreng. Ya.. ya… dengan ubi goreng, ubi goreng ala Pekanbaru kota kelahiranku ataupun ubi goreng berupa balok ubi goreng ala Jogja di kota tempat ku pernah menuntut ilmu ataupun kota tempat ku berkali-kali patah hati.

Aku membayangkan betapa nikmatnya makan ubi goreng. Kalau di kota kelahiran, biasanya penjual goreng ubi, akan merebusnya dulu dengan bumbu, memakai kunyit sehingga warnanya agak kekuningan baru di goreng. Besarnya sebesar lengan, lengan anak-anak, bukan lengan bayi. Jadi sepotong saja, sangatlah amat mengenyangkan. Karena telah direbus, tentu saja menjadi empuk dan tidak keras. Jika di Jogja, agak keras tapi karena bentuknya balok-balok mungil jadi setiap makan bisa menghasilkan berpotong-potong bahkan sampai semangkok. Aku gak tahu mengapa diberi nama balok –balok, entahlah. Yang jelas 2 model goreng ubi ini sunggu membuat aku suka dan membuat malam ini aku sangat ngiler sampai air liurku meleleh-leleh, ngences sengences-ngences.

Di Kota Medan ini, di tempat gorengan belum ku temukan goreng ubi kayu kesukaanku itu. Yang ada ya ubi rambat, baik yang berwarna kuning atau yang merah. Kemarin di sebuah Mall aku temukan goreng ubi kayu. Harganya sungguh…. betapa mahal hanya untuk beberapa potong kecil ubi kayu. Lalu ku tanyakan dengan temanku mengapa jarang ku temukan. Ho ho ho.. ternyata mereka mengolah ubi kayu lebih banyak dibuat keripik atau ceriping. Memang sih di setiap sudut kota ini akan mudah menemukan gerobak penjual keripik ubi kayu.

Nah kembali lagi pada cintaku pada ubi kayu, sebenarnya sudah dimulai sejak kecil. Tadi aku menuliskan judul tulisanku adalah “Generasi Ubi”, tapi sepanjang memoriku akan pelajaran karang mengarang judul itu tidak menjual, makanya kuganti aja :Cinta dalam Sepotong Ubi Kayu”. Terserah bila mau dibilang tiru-tiru Cinta dalam sepotong sesuatu itu, suka-suka akulah. Kan aku yang nulis.

Aku ini generasi Ubi dan dibesarkan dengan cinta ubi kayu. Sebagai orang Sumatera yang rajin. Lahan pekarangan rumahku tidak selalu bunga. Kakek tiriku, iya..ya.. kakek tiri. Aku gak punya kakek kandung. Dari kedua belah pihak papa dan mama kedua-duanya sudah meninggal sejak papa dan mamaku kecil. Nah kakek tiriku, ataupun kakek mamaku, nenekku, nenek mamaku, adik-adik neneku, jika ke rumahku tidak akan membiarkan lahan itu kosong. Pastilah akan ditanami ubi. Tanaman yang mudah tumbuh dan tidak terlalu butuh perawatan. Kata nenekku daunnya bisa jadikan sayur, kepepet-pepet gak punya uang maka bisa tetap makan dengan daun ubi rebus He he he. Nenekku jago dalam mengolah masakan dan panganan dari ubi. Ya ya ya karena beliau memang mencari nafkahnya dari ubi-ubian.

Sewaktu kecil, aku bukanlah anak yang terlalu baik. Aku suka mencuri ubi. Ubi yang belum sempurna besarnya, biasanya jadi korbanku. Diam-diam disaat banyak orang sedang terlena disiang hari, aku akan mencongkel-congkel tanah tempat umbi ubi itu tumbuh. Sasaranku emang ubi yang mini-mini. Yap.. setelah dapat, aku bersihkan tanahnya, ku buka secara perlahan-palahan dengan teknik khusus sehingga gak kotor. Haaaaap… meluncurlah ubi yang masih imut itu ke mulutku, yummy… enak luar biasa.. manisssss. Pernahkah anda mencobanya ? Jika belum berarti pengalaman anda gak keren. Hal ini sama aja dengan kelakukanku waktu kemah di Tawangmangu, pagi-pagi ngacir ke perkebunan wortel, lalu ngobrol dengan petani, sambil bantuin panen. Lalu wortel yang mini, jadi sasaranku juga. Cabut, bersihkan sedikit dan haaaaap, disantaplah dalam keadaan mentah-mentah, minus dicuci. Wkwkwkwkw Siapa yang mau bilang aku jorok, enak aja,… bersih lagi,… ada tekniknya cara membersihkan ubi atau wortel yang baru dicabut tanpa kotor. Jika anda tidak tahu, ya… berarti anda tidur saat pelajaran Pramuka. Aku gak ikut pramuka-pramukaan sih, tapi ka dapat pelajaran pramuka saat SD dan SMP. Jika anda juga gak belajar, ya… wajar berarti sekolahku jauh lebih baik. Ha aha haa

Kembali lagi ke ubi kayu. Selain disantap mentah, ada model makan ubi yang menarik lagi. Jika ketemu yang agak besar, maka aku akan rajin membersihkan halaman. Nyapu-nyapu rumput lalu membakarnya. Saat rumput sedang terbakar maka ku hempaskan ubi kayu yang tak berdaya itu ke dalam kobaran api rumput itu, jika gak ada rumut, ya sampah rumah boleh juga. Ingatlah, dihempaskan dengan kulitnya. Jika semuanya sudah gosong, ambil ubi itu dari api, buka kulitnya, lalu dalam keadaan panas dan sedikit melepuh itu, nikmatilah wanginya ubi bakar aroma rumput atau sampah…. Ho ho ho nikmatnya. Ada yang belum coba…. Ckckckckckckck memang kurang gaullah anda.

Karena nenekku sangat pandai mengolah ubi, maka inilah daftar makanan dan masakan dari ubi kayu ala nenekku:
1. Goreng ubi kayu: Setelah dibersihkan dipotong sesuai selera, diberi air bersih dan diberi bumbu, direbus, setelah empuk didinginkan, lalu digoreng.
2. Godok bagulo: Ubi kayu yang bersih, diparut lalu dibulat-bulatkan sebesar kepalan atau genggaman tangan lalu digoreng. Dibiarkan dingin. Setelah itu cairkan gula putih, dan cempungkan bulatan gorengan ubi (godok) tadi kedalam gula, lalu angkat dinginkan
3. Godok ba’inti: Ubi kayu yang bersih, diparut, dibulat-bulat sebesar bola pingpong lalu masukan ke dalamnya “inti kelapa”, yaitu kelapa yang sudah diolah ditambah dengan gula merah. Pastikan seimbang inti kelapa dengan besaran bulatannya. Setelah itu goreng. Jika sudah masak dinginkan, masukanan ke mulut. Hati-hati muncrat inti kelapa yang bergula itu
4. Gogok gurih (macam salah lauk): Ubi kayu yang sudah diparut, dilumuri bumbu masakan (gak tahu apa, jangan tanya aku) jika perlu masukan sedikit ebi (udang kering yang kecil) lalu dibulat-bulatin kecil. Di goreng. Nah ini bisa sebagai penganti lauk-pauk.
5. Kerupuk ubi laweh: Ubi kayu yang telah diparut, dikasih daun-daunan, digiling pipih , lalu dicetak lebar kira-kira diameter 15 cm, dijemur, setelah kering digoreng.
6. Kerupuk ubi model lain (gak tahu namanya): Ubi dibersihkan, direbus dulu. Setelah empuk, digiling pipih, dicetak dengan diameter 10cm, dijemur, setelah kering digoreng dan dimakan dengan kuah sate padang. Yummmy… Belek gadang (Toples dari seng yang besar) lenyap seketika. Ha ha ha
7. Keripik ubi: Yang ini setelah dibersihkan di potong halus kecil memanjang dengan ukuran sekitar 2cm x 5 cm atau mengikuti alur panjang ubi, di goreng, setelah dingin di cempulingin ke cabe alias ke sambal. Caranya ya seperti masak goreng sambal biasa, setelah goreng sambalnya dingin baru keripiknya dimasukan. Ini beda dengan kerpuku sanjay. Yang ini enaknya makan dengan nasi.
8. Keripik ubi lingkaran: Ini sama aja dengan no 7, hanya saja cara mengirisnya halus dan mengikuti diameter ubi. Biasanya juga dicampur teri halus. Biasanya ditemukan di tempat jual sate padang. Memang itu pasangannya, atau di tempat jual lontong ala padang.
9. Ubi kayu bisa juga dijadikan lauk. Seperti no 7, hanya saja Potongannya agak tebal, menyerupai potongan kentang goreng lalu dicampur bada’ (ikan teri yang sebesar telunjuk). Sambalnya agak berminyak. Jika no 7 dan no 8, sambalnya gak berminyak. Jadi dalam hal ini ubi penganti kentang. Rasanya pun setali tiga uang. Tapi pilihlah ubi kayu yang tidak terlalu tua. Cara milihnya, warnanya masih putih, jangan pilih yang mulai membiru dan nampak urat-urat di daging putihnya. Ukurannya yang sedang, yang besar biasanya keras dan tua.
10. Ubi kayu memang pengganti kentang pada saat dibuat gulai. Di Sumatera gulai selalu dicampur kentang. Nah nenekku suka sekali mengantinya dengan ubi kayu. Biasanya ketika dicampur dengan daun ubi kayunya. Ha ha ha. Jika dikampung, ini adalah masakan yang gak bermodal. Daun ubi dan ubi kayu ambil di halaman, bumbu dan cabe diambil di apotik hidup depan rumah, dan kelapa ambil dari pohonnya. Sesekali dicampur dengan bada’ hasil pancingan dari sungai. Ckckckckckkckc, wueenak loh… Masakan dari alam, gak pakai uang…
11. Lapek ubi: nah yang ini caranya adalah Ubi kayu yang sudah di parut, dimasukan inti kelapa ditengahnya, dibuat segi panjang dan dimasukan dalam daun kelapa. Lalu di kukus atau diungkap, bukan direbus loh.
12. Dan lain-lain, ntarlah ya, kalau aku ingat, nanti ku tambahkan.

Dulu aku tinggal di Tanjung Uban, Pulau Bintan. Kepulauan Riau. Karena Papa meninggal, kami pindah ke rumah sendiri di Pekanbaru. Sebelumnya rumah ini nenekku yang menjaga dengan kakek tiriku dan anak-anaknya yang masih sekolah, ada 3 orang, yang 3 lagi adalah Mamaku dan 2 orang laki-laki yang sudah merantau ke negeri lain. Anak nenekku yang bungsu se usia denganku, ha ha ha. Nenekku jam 2 pagi sudah bangun untuk menyiapkan segala panganan dari ubi kayu itu. Tugasku dan tugas tante kecilku itu adalah mengantarkan ke warung-warung sekelurahan. Lumayan loh, ada 7-8 warung. Kami bagi-bagi tugas. Dengan sepeda kumbangku, sepda kumbang yang ada keranjangnya di depan, aku membawa panganan ubi itu jam 5.30 pagi. Karena targetnya untuk sarapan atau bekal anak sekolah. Aku membawa panganan buatan nenekku dan termos berisi es lilin buatan Mamaku.
Waktu agak kecil tugasku adalah membantu menyusun di wadah-wadahnya. Tapi ketika agak besar, ya jadi seksi tranportasi. Aku suka dengan job baru ini, dan aku sungguh licik. Aku memilih warung tertentu lebih dulu, sisanya barulah tanteku itu. Aku memilih warung dimana ada teman abangku juga mengantarkan es buatan ibunya. Wkwkwkw Kami beda SD tapi satu Madrasah di siang harinya.

Jadi… setiap pagi aku akan semangat sekali mengantarkan kue-kue nenekku dan Mamaku ke warung-warung sambil bersua dan berbincang sedikit dengannya. Wkwkwkw. Selain itu sebagai seksi transportasi, aku dapat uang saku tambahan, yang sesungguhnya tidak pernah gunakan. Aku bawa bekal kue nenekku dan es Mamaku. Wkwkwk. Es buatan kami airnya dimasak 100% dan rasanya enak karena dicampur kacang hijau, atau buah-buahan yang lain. Uang sakuku ku tabung untuk keperluanku. Apalagi mamaku berikan uang saku sekali seminggu, khusus aku. Aku gak pernah minta lagi, cukup. Kalau Abang dan adikku setiap hari, mereka gak pandai mengelola uang. Aku bersyukur pandai mengelola uang. Uang saku tiap minggu + uang bonus transportasi + uang pemberian saudara yang datang = tabunganku banyak. Aku bisa beli barang…… barang… barang yang aku suka…. Ho ho betapa ubi kayu telah menyelamatkan kegemaranku belanja barang. Btw. Jika saudara datang, biasanya mama gak kasih jajan lagi. Tapi berhubung aku sudah terlanjur di Senin pagi ngasihnya untuk seminggu, ya apa boleh buat, rezekilah..

Itulah pengalamanku dengan ubi kayu. Sayangnya nenekku memutuskan kembali ke kampung di Sumbar ketika aku duduk di SMP kelas dua, dan mama mencoba usaha lain. Ya apa boleh buat ubi kayu hanya untuk konsumsi pribadi saja. Tanpa menghasilkan apa-apa buatku.

Saat ini, aku masih suka dengan segala makanan ubi kayu. Ketua organisasiku mengundang anggota makan siang dengan menu ubi kayu goreng sambal persis yang dibuat alm nenekku. Aku jadi terkenang dan terharu. Teman baik SMA ku bersuamikan karyawan PTPN, ia punya lahan berhektar-hektar dan suka memasak. Ia juga pandai mengolah ubi kayu. Ubi kayu dibuat bolu, dibuat pudding, dan entah apa lagi aku tak tahu… Yang penting rasanya enak…enak..enak… Dan aku yang doyan makan ubi ini, biasanya akan menelpon dulu, jika stok makanan ubi-ubian ada di rumahnya barulah aku singgah kerumahnya. Dia memang baik hati, kadang ia yang menelpon memintaku singgah dengan iming-iming makanan ubi kayu itu. Wkwkwkw

Ho ho ho ho betapa banyak kenangan indah dengan ubi kayu… dan menuliskan kisah ini merupakan pengobat rinduku untuk sekedar makan goreng ubi kayu.

Medan, Malam Minggu 12-11-2011.

Tersenyum dan Nikmatlah

‎….. Tersenyum dan Nikmatlah……

Terinspirasi dari grup sebelah,…
Yang lagi hangat-hangatnya diskusi patah hati dan jodoh.
Teristimewa buat usianya jauuuuuuh lebih muda dariku.

****************************************************

Dulu,…. aku suka gundah gulana ketika melihat temanku menikah. Bukan aku tak merestui atau mendoakan, tapi karena aku kepengen juga.
Dulu,…. aku suka marah membara bila ada yang bertanya kapan aku menikah, apalagi dengan tuduhan yang tak masuk akal dan mengada-gada…

Dalam perjalanan waktu,…
Temanku yang menikah menangis meraung-raung ketika suaminya selingkuh.
Temanku yang lain sudah kawin cerai sampai 3 kali. Sampai aku bosan memberi ia kado nikah, kado kelahiran anaknya, kado sunatan anaknya… wkwkwkw
Temanku yang lain lagi, masih terkatung-katung status pernikahannya cerai tidak tapi pisah rumah ya iya.
Temanku masih rebutan anak dengan mantan suaminya
Temanku minta tolong padaku menemaninya ke kantor polisi karena kasus KDRT
Temanku jadi istri kedua dari laki-laki yang beda kota dan memiliki anak juga bejibun, dan ia tetap banting tulang untuk menafkahnya anaknya dan dua anak dari suaminya itu sendiri, pernikahan hanya status.
Tetanggaku jadi simpanan suami orang.
Suami temanku punya istri 4 secara diam-diam, ketahuan dan baru saja memutuskan untuk bercerai
Kenalan seusiaku dengan anak 5 harus berjuang keras karena telah menjadi janda.

Saat ini,…
Aku gak malu dengan statusku yang belum menikah.
Aku nikmati perjalanan hari-hariku.
Jika ada yang nanya, sebelum dia merespon jawabanku, langsung kutanyakan ada kandidat untukku, aku bersedia dikenalkan ? Jadinya orang tersebut gak bisa nuduh-nuduh aku yang macam-macam lagi.
Jika ada yang nanya anakku, ku jawab ada 5. Ponakanku kan anakku juga.
Jika ada yang bertanya ” Abang kerja dimana ?” Ku jawab aja dimana abang kandungku bekerja, salah sendiri gak memperjelas pertanyaan.
Jika ada yang nanya keluarga ada dimana, ku jawab aja ada di Pekanbaru. ha ha ha Terkadang aku malah bermain-main dengan jawaban itu.

Saat ini,…
Aku berterimakasih pada setiap undangan pernikahan yang ku terima, karena itu penghargaan padaku telah mengingatku dalam kehidupannya yang penting.
Bisa bercanda dengan mengatakan beri aku pelangkah, bila yang menikah itu adik-adik kehidupanku bahkan mahasiswaku.
Sebisa mungkin aku hadir, bahkan gak tetap bersedia hadir sendiri bila gak ada temannya.
Ku kirim doa bahkan kado bila tidak sempat hadir pada hari H-nya.

Saat ini,….
Aku menabung dengan suka cita…
Daftar panjang negeri bagitu setia menanti
Untuk segera ku kukunjungi…

Saat ini…..
Tetap ku bukakan hatiku, walau masih banyak yang datang dan pergi.
Ku tingkatkan kualitas diriku, (biar mayamnya semakin banyak, he he he)
Ku nikmati hari-hariku dan tetap tersenyum manis setiap pagi pada mentari.
Sesungguhnya hari-hariku jauh lebih indah…. dan kakiku bisa ringan melangkah.
Dan tetap berprasangka baik Pada Pemilik Cinta,
>>>>>>>bahwa segala sesuatu itu indah pada waktunya.

Teristimewa buat-buat temanku yang masih lajang dan sedang galau.
“Tersenyumlah dan nikmatilah hari-harimu”See More

Serasa Lebaran di Rumah

‎….. Serasa Lebaran di Rumah….

Hirmaningsih Rivai

Tulisan ini di dedikasikan buat Ibu Muin, Ibu Kostku yang cantik dan baik.
****************************************************

Hari ini adalah yang kedua kalinya di Medan. Tidak pulang dan merayakan bersama-sama teman. Tahun lalu setelah sholat, langsung menuju salah satu kontrakan temanku. Kebetulan ia bawa anak-anaknya dan memiliki pengasuh untuk anak-anaknya. Kami diundang makan soto daging sapi sebagai pelipur lara tidak pulang. Kami di sana sampai sore. Ternyata oh ternyata ibu kost juga sudah menyiapkan lontong.

Tahun ini, jauh-jauh hari, ia telah mengatakan bahwa setelah sholat jangan kemana-mana. Beliau akan memasakkan lontong buat kami. Jadilah kami pesta pora makan lontong di hari Lebaran ini. Beliau letakan di ruang TV, tempat kami biasa berkumpul dan menonton. Jadi kami bisa makan sepuasnya dan bisa bolak-balik makan sampai sore ini. Padahal jumlah anak kost yang lebih dari 10 orang. Bayangkan.

Ibu kost kami, seorang janda yang cantik, usianya sudah 70 tahun. Tadi kami pergi sholat ke lapangan bersama-sama. Sehabis sholat, kami bersalaman satu persatu dengan ibu dan anggota keluarganya. Lalu beliau menyuruh kami makan makanan yang telah disediakannya. Hari ini beliau menyajikan: Lontong opor dengan daging ayam yang besar-besar, tauco udah+tempe+telurpuyuh+kacang panjang, sambal teri Medan+kacang+tempe, aneka kerupuk. Dan yang pasti sebotol sirup rasa Melon.

Ibu Kost tidak punya pembantu, anaknya 3 orang sudah menikah, 2 orang di Medan tinggal terpisah dan satu orang lagi di luar negeri. Ia tinggal dengan 2 ponakannya yang diasuh sejak kecil. Hari Jum’at dia sudah mulai belanja dan mempersiapkan segala sesuatunya. Menyiapkan sendiri makanan untuk anak-anak kost. Ia memberikan kami makanan dengan uangnya, masakannya sungguh lezat karena beliau pandai memasak dan memasak dengan penuh cinta. Beliau juga mencurahkan kasih sayang dengan waktu yang disisihkan untuk memasak semua sajian itu. Yang jelas.. beliau sangat mencintai kami, anak-anak kost yang baik, cantik walaupun sedikit nakal juga ha ha ha. Namanya juga anak kost, terkadang suka meribut sampai malam dan kadang rada-rada telat bayar kost.

Terimakasih Ibu kostku yang cantik, semoga selalu sehat di usiamu yang tidak muda lagi. Semoga kebaikanmu membuat kami selalu mengingatmu dan menjadi tauladan bagi kami. Terimakasih telah membuat lebaranku dan teman-teman kost yang lain serasa di rumah. Terimakasih telah menjadi Ibu Rantau buat kami.

Inilah Pengalamanku Lebaran di Rantau, Bagaimana dengan Anda?

Medan, Lebaran Haji 2011

Sudahkah anda mengambil makanan secukupnya ke dalam piring dan menghabiskannya ???

Sudahkah anda mengambil makanan secukupnya ke dalam piring dan menghabiskannya ???

Ketika membaca thread Mas Bambang N Karim tentang hal-hal kecil yang dampaknya tidak menyenangkan. Aku menuliskan komentar yang intinya sama dengan judul thread ini. Ingatan ku langsung melayang pada kejadian suatu sore dan sungguh… sampai sekarang aku tidak bisa melupakannya.

Aku pindah kembali ke Pekanbaru kel…as 5 SD, setelahmasa kecilku berputar-putar di Kepulauan Riau. Ku punya teman SD yang merupakan adik kelasku sebutnya saja Dira (bukan nama yang sebenarnya). Ia lebih tua 2 tahun dariku. Akibat terlambat masuk sekolah dan tinggal kelas maka ia adalah adik kelas di SD. Di Madrasah sore kami sekelas, dan di malam hari saat mengaji di mesjid kami satu kelompok. Tidak terlalu dekat karena beda tingkat, beda SMP bahkan beda SMA. Ia tidak kuliah karena ayahnya adalah buruh pelabuhan yang sudah tua. Ibunya adalah PRT harian. Maksudnya tidak menginap, pergi pagi pulang sore. Ketika aku ke jogja dan sesekali pulang, aku cuma menyapanya saat ketemu di mesjid saat sholat taraweh, ketemu dii warung atau di jalan.

Dekat kembali dengannya ketika tahun 2003 aku kembali ke Pekanbaru dan bekerja di tanah kelahiranku itu. Dira bekerja di rumah tetanggaku sebagai PRT. Jika ia lewat depan rumahku, maka kami akan saling menyapa dan ngobrol barang sebentar. Ia selalu menyebut dirinya pergi bekerja. Karena datang jam 8 pagi dan pulang jam 4 sore. Untuk hari-hari tertentu, ia pulang awal karena ikut pengajian dan arisan ibu-ibu RT di tempat ia tinggal. Kami tinggal berseberangan jalan sehingga beda RW. Dira sudah memiliki 2 orang anak. Setamat SMK ia bekerja sebentar di toko, lalu menikah dan punya anak. Suaminya tukang bangunan yang bekerja serabutan alias tidak tetap. Ia bekerja sebagai PRT sejak anaknya sudah masuk sekolah.

Tetanggaku itu sudah kami anggap saudara. 2 orang menantu ibuku “turun” dari rumah tante itu. Maksudnya turun adalah pada saat menikah, dua adik iparku memakai rumahnya sebagai tempat melangkah ke rumah kami. (Adik iparku semuanya dari luar kota). Jadi icak-icaknya tante itu adalah besan ibuku. Tante itu juga tidak punya anak perempuan. 3 anaknya laki-laki dan sangat hormat pada kami. Mereka memanggilku, adik-adikku dengan kakak. Kami pun leluasa makan di sana. Saat lebaran kemarin mama gak dirumah karena lebaran di Jakarta, maka kami buat kue dan lain-lainnya di sana.

Karena sudah dianggap anak maka jika tante itu ada acara, kami akan membantu. Biasanya jatahku ku adalah cuci mencuci piring. Ha ha ha ha gimana lagi, ku kan kerja mana bisa membantu masak, lagian aku gak sehebat Da Hasanudin Abdurakhman dalam masak memasak. Pulang kerja selalu sore, jadi ya dapat jatahnya cuci piring. Kegiatan kemasyarakatan, sering sekali dilakukan sehabis Ashar (sore) atau malam.

Kali ini tante tersebut punya acara arisan. Cukup ramai karena anggotanya 100 orang jika hadir semua. Kenyataannya yang hadir selalu lebih dari 100 orang. Karena ibu-ibu tersebut selalu bawa anak, entah itu anak kecil atau anak yang statusnya untuk sementara adalah tukang ojek ibunya. he he he he. Dan karena si tante itu punya kebun sawit, murah hati, dan pandai memasak pula, maka makanan yang dibuat sangat banyak dan beraneka ragam. Benar-benar sangat menggoda untuk diambil dan disantap.

Nah kembali ke Dira, temanku itu. Kami berdua kebagian cuci piring. Yang mengangkat piring-piring kotor ya ibu-ibu yang lain. Ketika kami mau mencuci piring, kami mendahulukan gelas, sendok, mangkok, piring, barulah panci-panci. Tujuannya biar air tidak terlalu berminyak di dalam ember, walau air tetap dalam keadaan mengalir. Selain itu untuk memudahkan pencucian dan pengaturan pengeringan saja. Saat mencuci piring, kami memisahkan kotoran tisue dan sisa makanan. Sisa makanan dikumpulkan jadi satu untuk makanan ternak yang di pelihara di rumah. Kebetulan Dira memelihara ayam dan bebek di rumahnya.

Ku memilih menyabun barang-barang itu dan dia bagian memisahkan sisa-sia makanan itu. Saat ia melakukannya ia lebih banyak diam,… padahal biasanya kami suka bercerita. Matanya berkaca-kaca dan berusaha menahan air mata. Aku tahu apa yang di pikirannya. Maka aku berujar “Memanglah orang-orang ini keterlaluan, ambil makanan banyak-banyak, tapi gak dihabiskan, bahkan ada lauk-pauk yang gak disentuh sama sekali.” Saat itu Dira hanya mengangguk lalu mengatakan “iya,.. padahal banyak yang gak makan.” Lalu ia bercerita bagaimana ia berjuang dalam hidupnya. Mengatur gajinya.. dan gaji suami agar bisa makan dan menyekolahkan anak-anaknya. Walau selama bekerja di rumah tante tersebut ia gak pernah masak lagi di rumah karena tante tersebut selalu memintanya membawa pulang makanan yang dimasak karena ia sudah seharian disana. Jadi gajinya utuh bahkan jauh lebih besar dibandingkan tempat dia yang dulu dan dengan pekerjaan yang lebih sedikit. Waktu itu ia bekerja dengan tante tersebut baru beberapa bulan. Ia bercerita ada masa yang sangat sulit dia hadapi sehingga makan dengan telur adalah kemewahan keluarganya. Jadi hatinya teriris-iris ketika ia melihat lauk-pauk yang ada dipiring kotor yang tidak dihabiskan bahan tidak disentuh sama sekali.

Bagiku, sulit rasanya menghilangkan kenangan ekspresi wajahnya di sore hari itu. Bagaimana ia dengan tatapan diam namun matanya berkaca-kaca membersihkan piring kotoran itu. Bisakah dibayangkan ? Dan aku pun merasa berdosa setiap kali tidak menghabiskan makanan. Lebih baik ambil seperlunya. Kita bisa menakar kok bakalan habis seberapa. Jika rantanganku saat ini gak akan ku sentuh, maka akan ku lelang ke teman-teman kostku. Biasanya mereka tertawa setiap kali mendengar aku yang mengucapkan terimakasih karena telah ada yang mau menghabiskan. Teman-temanku yang usianya 20 tahunan itu merasa aneh dan mengatakan seharusnya dia yang berterimakasih. Akhirnya hanya ku respon, ya sudah kita saling berterima kasih. Dia berterimakasih karena mendapat makanan dan aku berterimakasih karena aku tidak menyia-nyiakan makanan.

Jadi, benarlah… aku memang sebal, jika di acara arisan, mantenan atau acara apapun yang orangnya yang mengambil sendiri makanannya, sewenang-wenang. Ambil banyak, lalu gak tanggung jawab. Gak bisa memperkirakan takaran perutnya seberapa. Kalau ambil banyak lalu dihabiskan ya,.. gak apa-apa sih.

Jadi……. sudahkah anda mengambil makanan secukupnya ke dalam piring dan menghabiskannya ???