Cinta dalam Sepotong UBI Kayu

Cinta dalam Sepotong UBI Kayu

Hirmaningsih Rivai

Malam ini, entah mengapa disaat-saat sebagian orang bermalam minggu dengan keluarga, dengan tunangan , dengan pacar ataupun dengan teman, diriku termenung rindu sendirian di kamar. Bukan merindukan pangeran, belahan hati atau seseorang yang ku taksir akan ku jadikan suami, tapi aku malah rindu dengan ubi goreng. Ya.. ya… dengan ubi goreng, ubi goreng ala Pekanbaru kota kelahiranku ataupun ubi goreng berupa balok ubi goreng ala Jogja di kota tempat ku pernah menuntut ilmu ataupun kota tempat ku berkali-kali patah hati.

Aku membayangkan betapa nikmatnya makan ubi goreng. Kalau di kota kelahiran, biasanya penjual goreng ubi, akan merebusnya dulu dengan bumbu, memakai kunyit sehingga warnanya agak kekuningan baru di goreng. Besarnya sebesar lengan, lengan anak-anak, bukan lengan bayi. Jadi sepotong saja, sangatlah amat mengenyangkan. Karena telah direbus, tentu saja menjadi empuk dan tidak keras. Jika di Jogja, agak keras tapi karena bentuknya balok-balok mungil jadi setiap makan bisa menghasilkan berpotong-potong bahkan sampai semangkok. Aku gak tahu mengapa diberi nama balok –balok, entahlah. Yang jelas 2 model goreng ubi ini sunggu membuat aku suka dan membuat malam ini aku sangat ngiler sampai air liurku meleleh-leleh, ngences sengences-ngences.

Di Kota Medan ini, di tempat gorengan belum ku temukan goreng ubi kayu kesukaanku itu. Yang ada ya ubi rambat, baik yang berwarna kuning atau yang merah. Kemarin di sebuah Mall aku temukan goreng ubi kayu. Harganya sungguh…. betapa mahal hanya untuk beberapa potong kecil ubi kayu. Lalu ku tanyakan dengan temanku mengapa jarang ku temukan. Ho ho ho.. ternyata mereka mengolah ubi kayu lebih banyak dibuat keripik atau ceriping. Memang sih di setiap sudut kota ini akan mudah menemukan gerobak penjual keripik ubi kayu.

Nah kembali lagi pada cintaku pada ubi kayu, sebenarnya sudah dimulai sejak kecil. Tadi aku menuliskan judul tulisanku adalah “Generasi Ubi”, tapi sepanjang memoriku akan pelajaran karang mengarang judul itu tidak menjual, makanya kuganti aja :Cinta dalam Sepotong Ubi Kayu”. Terserah bila mau dibilang tiru-tiru Cinta dalam sepotong sesuatu itu, suka-suka akulah. Kan aku yang nulis.

Aku ini generasi Ubi dan dibesarkan dengan cinta ubi kayu. Sebagai orang Sumatera yang rajin. Lahan pekarangan rumahku tidak selalu bunga. Kakek tiriku, iya..ya.. kakek tiri. Aku gak punya kakek kandung. Dari kedua belah pihak papa dan mama kedua-duanya sudah meninggal sejak papa dan mamaku kecil. Nah kakek tiriku, ataupun kakek mamaku, nenekku, nenek mamaku, adik-adik neneku, jika ke rumahku tidak akan membiarkan lahan itu kosong. Pastilah akan ditanami ubi. Tanaman yang mudah tumbuh dan tidak terlalu butuh perawatan. Kata nenekku daunnya bisa jadikan sayur, kepepet-pepet gak punya uang maka bisa tetap makan dengan daun ubi rebus He he he. Nenekku jago dalam mengolah masakan dan panganan dari ubi. Ya ya ya karena beliau memang mencari nafkahnya dari ubi-ubian.

Sewaktu kecil, aku bukanlah anak yang terlalu baik. Aku suka mencuri ubi. Ubi yang belum sempurna besarnya, biasanya jadi korbanku. Diam-diam disaat banyak orang sedang terlena disiang hari, aku akan mencongkel-congkel tanah tempat umbi ubi itu tumbuh. Sasaranku emang ubi yang mini-mini. Yap.. setelah dapat, aku bersihkan tanahnya, ku buka secara perlahan-palahan dengan teknik khusus sehingga gak kotor. Haaaaap… meluncurlah ubi yang masih imut itu ke mulutku, yummy… enak luar biasa.. manisssss. Pernahkah anda mencobanya ? Jika belum berarti pengalaman anda gak keren. Hal ini sama aja dengan kelakukanku waktu kemah di Tawangmangu, pagi-pagi ngacir ke perkebunan wortel, lalu ngobrol dengan petani, sambil bantuin panen. Lalu wortel yang mini, jadi sasaranku juga. Cabut, bersihkan sedikit dan haaaaap, disantaplah dalam keadaan mentah-mentah, minus dicuci. Wkwkwkwkw Siapa yang mau bilang aku jorok, enak aja,… bersih lagi,… ada tekniknya cara membersihkan ubi atau wortel yang baru dicabut tanpa kotor. Jika anda tidak tahu, ya… berarti anda tidur saat pelajaran Pramuka. Aku gak ikut pramuka-pramukaan sih, tapi ka dapat pelajaran pramuka saat SD dan SMP. Jika anda juga gak belajar, ya… wajar berarti sekolahku jauh lebih baik. Ha aha haa

Kembali lagi ke ubi kayu. Selain disantap mentah, ada model makan ubi yang menarik lagi. Jika ketemu yang agak besar, maka aku akan rajin membersihkan halaman. Nyapu-nyapu rumput lalu membakarnya. Saat rumput sedang terbakar maka ku hempaskan ubi kayu yang tak berdaya itu ke dalam kobaran api rumput itu, jika gak ada rumut, ya sampah rumah boleh juga. Ingatlah, dihempaskan dengan kulitnya. Jika semuanya sudah gosong, ambil ubi itu dari api, buka kulitnya, lalu dalam keadaan panas dan sedikit melepuh itu, nikmatilah wanginya ubi bakar aroma rumput atau sampah…. Ho ho ho nikmatnya. Ada yang belum coba…. Ckckckckckckck memang kurang gaullah anda.

Karena nenekku sangat pandai mengolah ubi, maka inilah daftar makanan dan masakan dari ubi kayu ala nenekku:
1. Goreng ubi kayu: Setelah dibersihkan dipotong sesuai selera, diberi air bersih dan diberi bumbu, direbus, setelah empuk didinginkan, lalu digoreng.
2. Godok bagulo: Ubi kayu yang bersih, diparut lalu dibulat-bulatkan sebesar kepalan atau genggaman tangan lalu digoreng. Dibiarkan dingin. Setelah itu cairkan gula putih, dan cempungkan bulatan gorengan ubi (godok) tadi kedalam gula, lalu angkat dinginkan
3. Godok ba’inti: Ubi kayu yang bersih, diparut, dibulat-bulat sebesar bola pingpong lalu masukan ke dalamnya “inti kelapa”, yaitu kelapa yang sudah diolah ditambah dengan gula merah. Pastikan seimbang inti kelapa dengan besaran bulatannya. Setelah itu goreng. Jika sudah masak dinginkan, masukanan ke mulut. Hati-hati muncrat inti kelapa yang bergula itu
4. Gogok gurih (macam salah lauk): Ubi kayu yang sudah diparut, dilumuri bumbu masakan (gak tahu apa, jangan tanya aku) jika perlu masukan sedikit ebi (udang kering yang kecil) lalu dibulat-bulatin kecil. Di goreng. Nah ini bisa sebagai penganti lauk-pauk.
5. Kerupuk ubi laweh: Ubi kayu yang telah diparut, dikasih daun-daunan, digiling pipih , lalu dicetak lebar kira-kira diameter 15 cm, dijemur, setelah kering digoreng.
6. Kerupuk ubi model lain (gak tahu namanya): Ubi dibersihkan, direbus dulu. Setelah empuk, digiling pipih, dicetak dengan diameter 10cm, dijemur, setelah kering digoreng dan dimakan dengan kuah sate padang. Yummmy… Belek gadang (Toples dari seng yang besar) lenyap seketika. Ha ha ha
7. Keripik ubi: Yang ini setelah dibersihkan di potong halus kecil memanjang dengan ukuran sekitar 2cm x 5 cm atau mengikuti alur panjang ubi, di goreng, setelah dingin di cempulingin ke cabe alias ke sambal. Caranya ya seperti masak goreng sambal biasa, setelah goreng sambalnya dingin baru keripiknya dimasukan. Ini beda dengan kerpuku sanjay. Yang ini enaknya makan dengan nasi.
8. Keripik ubi lingkaran: Ini sama aja dengan no 7, hanya saja cara mengirisnya halus dan mengikuti diameter ubi. Biasanya juga dicampur teri halus. Biasanya ditemukan di tempat jual sate padang. Memang itu pasangannya, atau di tempat jual lontong ala padang.
9. Ubi kayu bisa juga dijadikan lauk. Seperti no 7, hanya saja Potongannya agak tebal, menyerupai potongan kentang goreng lalu dicampur bada’ (ikan teri yang sebesar telunjuk). Sambalnya agak berminyak. Jika no 7 dan no 8, sambalnya gak berminyak. Jadi dalam hal ini ubi penganti kentang. Rasanya pun setali tiga uang. Tapi pilihlah ubi kayu yang tidak terlalu tua. Cara milihnya, warnanya masih putih, jangan pilih yang mulai membiru dan nampak urat-urat di daging putihnya. Ukurannya yang sedang, yang besar biasanya keras dan tua.
10. Ubi kayu memang pengganti kentang pada saat dibuat gulai. Di Sumatera gulai selalu dicampur kentang. Nah nenekku suka sekali mengantinya dengan ubi kayu. Biasanya ketika dicampur dengan daun ubi kayunya. Ha ha ha. Jika dikampung, ini adalah masakan yang gak bermodal. Daun ubi dan ubi kayu ambil di halaman, bumbu dan cabe diambil di apotik hidup depan rumah, dan kelapa ambil dari pohonnya. Sesekali dicampur dengan bada’ hasil pancingan dari sungai. Ckckckckckkckc, wueenak loh… Masakan dari alam, gak pakai uang…
11. Lapek ubi: nah yang ini caranya adalah Ubi kayu yang sudah di parut, dimasukan inti kelapa ditengahnya, dibuat segi panjang dan dimasukan dalam daun kelapa. Lalu di kukus atau diungkap, bukan direbus loh.
12. Dan lain-lain, ntarlah ya, kalau aku ingat, nanti ku tambahkan.

Dulu aku tinggal di Tanjung Uban, Pulau Bintan. Kepulauan Riau. Karena Papa meninggal, kami pindah ke rumah sendiri di Pekanbaru. Sebelumnya rumah ini nenekku yang menjaga dengan kakek tiriku dan anak-anaknya yang masih sekolah, ada 3 orang, yang 3 lagi adalah Mamaku dan 2 orang laki-laki yang sudah merantau ke negeri lain. Anak nenekku yang bungsu se usia denganku, ha ha ha. Nenekku jam 2 pagi sudah bangun untuk menyiapkan segala panganan dari ubi kayu itu. Tugasku dan tugas tante kecilku itu adalah mengantarkan ke warung-warung sekelurahan. Lumayan loh, ada 7-8 warung. Kami bagi-bagi tugas. Dengan sepeda kumbangku, sepda kumbang yang ada keranjangnya di depan, aku membawa panganan ubi itu jam 5.30 pagi. Karena targetnya untuk sarapan atau bekal anak sekolah. Aku membawa panganan buatan nenekku dan termos berisi es lilin buatan Mamaku.
Waktu agak kecil tugasku adalah membantu menyusun di wadah-wadahnya. Tapi ketika agak besar, ya jadi seksi tranportasi. Aku suka dengan job baru ini, dan aku sungguh licik. Aku memilih warung tertentu lebih dulu, sisanya barulah tanteku itu. Aku memilih warung dimana ada teman abangku juga mengantarkan es buatan ibunya. Wkwkwkw Kami beda SD tapi satu Madrasah di siang harinya.

Jadi… setiap pagi aku akan semangat sekali mengantarkan kue-kue nenekku dan Mamaku ke warung-warung sambil bersua dan berbincang sedikit dengannya. Wkwkwkw. Selain itu sebagai seksi transportasi, aku dapat uang saku tambahan, yang sesungguhnya tidak pernah gunakan. Aku bawa bekal kue nenekku dan es Mamaku. Wkwkwk. Es buatan kami airnya dimasak 100% dan rasanya enak karena dicampur kacang hijau, atau buah-buahan yang lain. Uang sakuku ku tabung untuk keperluanku. Apalagi mamaku berikan uang saku sekali seminggu, khusus aku. Aku gak pernah minta lagi, cukup. Kalau Abang dan adikku setiap hari, mereka gak pandai mengelola uang. Aku bersyukur pandai mengelola uang. Uang saku tiap minggu + uang bonus transportasi + uang pemberian saudara yang datang = tabunganku banyak. Aku bisa beli barang…… barang… barang yang aku suka…. Ho ho betapa ubi kayu telah menyelamatkan kegemaranku belanja barang. Btw. Jika saudara datang, biasanya mama gak kasih jajan lagi. Tapi berhubung aku sudah terlanjur di Senin pagi ngasihnya untuk seminggu, ya apa boleh buat, rezekilah..

Itulah pengalamanku dengan ubi kayu. Sayangnya nenekku memutuskan kembali ke kampung di Sumbar ketika aku duduk di SMP kelas dua, dan mama mencoba usaha lain. Ya apa boleh buat ubi kayu hanya untuk konsumsi pribadi saja. Tanpa menghasilkan apa-apa buatku.

Saat ini, aku masih suka dengan segala makanan ubi kayu. Ketua organisasiku mengundang anggota makan siang dengan menu ubi kayu goreng sambal persis yang dibuat alm nenekku. Aku jadi terkenang dan terharu. Teman baik SMA ku bersuamikan karyawan PTPN, ia punya lahan berhektar-hektar dan suka memasak. Ia juga pandai mengolah ubi kayu. Ubi kayu dibuat bolu, dibuat pudding, dan entah apa lagi aku tak tahu… Yang penting rasanya enak…enak..enak… Dan aku yang doyan makan ubi ini, biasanya akan menelpon dulu, jika stok makanan ubi-ubian ada di rumahnya barulah aku singgah kerumahnya. Dia memang baik hati, kadang ia yang menelpon memintaku singgah dengan iming-iming makanan ubi kayu itu. Wkwkwkw

Ho ho ho ho betapa banyak kenangan indah dengan ubi kayu… dan menuliskan kisah ini merupakan pengobat rinduku untuk sekedar makan goreng ubi kayu.

Medan, Malam Minggu 12-11-2011.

One thought on “Cinta dalam Sepotong UBI Kayu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s