Catatan saya tentang KLC Yogya 4 Juli 2011

Catatan saya tentang KLC Yogya 4 Juli 2011

Kemarin malam saya mengikuti pertemuan sebuah kelompok kecil alumni UGM (terwadahi dalam KLC) yang menghadirkan Mas Hikmat Hardono, Direktur Eksekutif Indonesia Mengajar (bagi rekan2 yang belum pernah mendengar apa itu Indonesia Mengajar (IM), bisa coba baca halaman ini dan ini). Dalam pertemuan tersebut, Mas Hikmat Hardono berbagi kisah tentang IM.

Kisah dibuka dengan cerita tentang seorang Koesnadi Hardjasoemantri muda yang menginisiasi PTM (Pengerahan Tenaga Mahasiswa) – sebuah gerakan yang mengajak mahasiswa untuk membuka SMA dan menjadi guru di daerah terpencil. Pak Koes berangkat ke Kupang pada tahun 1950an. Silakan dibayangkan. Kupang. 1950an. Selama beberapa tahun beliau tinggal di sana. Dan sekembalinya dari sana, beliau membawa tiga orang siswa paling cerdas dari sana untuk berkuliah di UGM. Seorang di antaranya, Adrianus Mooi, kemudian menjadi Gubernur BI. Mengajar di ujung negeri dan mengubah jalan hidup banyak orang. Itu inspirasi yang mengilhami IM. Continue reading

Advertisements

Kata di dalam benak..

Kata di dalam benak..
oleh Albert Pratama

Terbersit ketika melihat anakku tidur lelap malam ini..

==================

Anakku, kita berdua terikat oleh nasib untuk menjalani hubungan
sebagai ayah dan anak.
Semua orang tua tidak dapat memilih siapa-siapa saja yang akan
dilahirkannya menjadi anak, sebagaimana setiap anak tidak dapat
memilih pada orang tua mana ia akan lahir sebagai seorang anak.

Tapi, setiap orang tua dapat memilih cara yang akan ditempuhnya untuk
membesarkan si anak.
Setiap orang tua juga dapat memilih warisan baik dan buruk apa yang
akan diberikan pada si anak.
Setiap orang tua dapat memilih kata-kata dan tingkah laku apa yang
akan ditunjukkan dan dicontohkan pada si anak.
Termasuk aku dan ibumu, kami juga memiliki pilihan-pilihan itu.

Setiap anak dapat memilih tanggapan apa yang akan diberikannya pada
sikap dan tingkah laku orang tuanya.
Setiap anak juga dapat memilih cara apa yang akan ditempuhnya untuk
membahagiakan orang tuanya.
Termasuk dirimu, engkau juga memiliki pilihan-pilihan itu.

Anakku, aku dan ibumu bersyukur atas kehadiranmu di keluarga kecil kami.
Bisa saja engkau hadir di keluarga lain, rumah lain, atau kota lain.
Tapi ternyata engkau hadir di sini.

Engkau anak kami, kami orang tuamu, itu bukan pilihan, itu sudah ditentukan.
Tapi kita – aku, ibumu, dan engkau – punya banyak sekali pilihan
pikiran, sikap, kata-kata, dan tindakan untuk kita isikan dalam
perjalanan hubungan kita sebagai orang tua dan anak.
Aku berdoa, agar kita bijaksana – dan terus makin bijaksana – dalam
mengambil pilihan-pilihan kita.

Selamat malam anakku. Tidurlah lelap. Ayah menjagamu.