Kekuatan Mimpi

Kekuatan Mimpi

Hasanudin Abdurakhman

Some dreams come true, some don’t; but keep on dreamin’ . Always time to dream, so keep on dreamin’.” kutipan dari film Pretty Woman.

Suatu hari, musim panas di Paris tahun 2003. Saya duduk di kedai kopi pinggir jalan di dekat Katedral Notre Dame, melihat orang lalu lalang, sambil menikmati alunan lagi dari sekelompok pengamen dari Peru. Itu cara saya menikmati Paris. Sebenarnya saya ingin menikmatinya secara lebih baik, berkunjung ke tampat-tempat terkenal, menikmati hidangan di restoran. Tapi saya tak bisa. Saya tak punya banyak uang.

Waktu itu saya bekerja sebagai researcher di Jepang. Saya ke Paris bukan untuk jalan-jalan, melainkan dalam rangka mengikuti konferensi di bidang Fisika di Bordeaux, sebuah kota kecil di bagian selatan Perancis. Ada sisa waktu dalam perjalanan pulang, saya sempatkan untuk jalan-jalan di kota Paris. Jalan-jalan dalam pengertian sebenarnya, karena saya benar-benar menghabiskan waktu dengan berjalan kaki. Saya tak banyak bawa bekal, hanya sebatas pada biaya perjalanan dan uang saku yang disediakan kampus. Bekal terasa semakin sedikit karena waktu itu terjadi penguatan mata uang Euro terhadap Yen.

Tapi semua keterbatasan itu tak membuat saya kecil hati. Saya justru banyak termagu-magu, tidak percaya bahwa saya sedang di Paris. “Hey, ini si Hasan, anak kampung yang dulu pergi sekolah berkaki ayam. Ia sekarang sedang di Paris, kota metropolitan dunia!” jerit batin saya. Ada rasa tak patut, anak kampung macam awak ini pergi ke Paris. Tapi sudahlah, nikmati saja. Tapi benar. Rasanya betul-betul seperti mimpi.

Pergi dan bersekolah di luar negeri adalah cita-cita saya sejak kecil. Sejak saat saya belum sekolah, saya sudah mimpi seperti itu.

“Kelak kau nak jadi apa?” tanya Emak suatu ketika.

“Aku nak sekolah. Tamat di sini (SD di kampung kami) aku nak nyambung ke Pontianak. Lalu lepas itu nyambung ke Jakarta. Lepas itu aku nak sekolah ke Mekah.” jawabku ketika itu.

Pontianak, Jakarta, dan Mekah adalah tempat-tempat yang saya tahu ketika itu. Hanya itu. Di Pontianak kebetulan abang saya sedang sekolah. Sedangkan soal Jakarta dan Mekah, saya hanya tahu dari orang-orang yang pergi hadi. Untuk naik haji orang harus ke Mekah, dan itu harus melewati Jakarta. Bagi saya waktu itu Mekah adalah tempat terjauh yang bisa didatangi manusia.

Saya tak tahu dari mana gagasan itu datang. Tapi mimpi itu terus saya genggam sejak itu. Tentu saja mimpi itu jadi semakin realistis ketika saya tumbuh besar. Kelak saya tahu bahwa untuk belajar saya punya banyak pilihan, tidak harus ke Jakarta, tapi bisa juga ke Bandung, Yogya, atau Surabaya. Dan mimpi ke Mekah kemudian melebar menjadi mimpi untuk kuliah ke luar negeri. Tapi mungkinkah itu?

Kampung saya ketika itu adalah kampung terisolir di sebuah pulau kecil di pesisir selatan Kalimantan Barat. Untuk bisa mencapai ibu kota provinsi, kami harus menempuh perjalanan sehari penuh dengan kapal motor kecil. Ayah saya petani kelapa, hanya pernah sekolah sampai kelas 2 Sekolah Rakyat. Emak saya petani yang juga berdagang kecil-kecilan, tidak pernah sekolah. Bagaimana mungkin saya, anak kampung terpencil, dari keluarga miskin, dapat sekolah ke luar negeri? Siapa yang mau mebiayai? Saya tak tahu. Tapi itupun tak saya risaukan benar. Bermimpi itu sendiri sudah nikmat buat saya. Membayangkan diri saya pergi ke kota-kota besar dunia, belajar di sana, sungguh suatu mimpi yang indah.

Memiliki mimpi memberi saya alasan untuk belajar. Tak jelas benar bagaimana jalan yang akan saya tempuh nanti. Tapi ada keyakinan bahwa kalau saya pintar pasti ada jalan untuk mewujudkan mimpi saya itu. Kelak ketika saya sudah SMP, saya jadi lebih tahu bagaimana jalan menuju ke arah itu. Dan saya semakin bersemangat untuk itu. Semua itu membantu saya untuk fokus mengejar cita-cita. Ketika SMA khususnya, saya berteman dengan anak-anak nakal, yang biasa berkelahi, mabuk, atau merokok. Saya suka ikut nakal bersama mereka. Memicu adrenalin anak muda. Ngebut dengan motor, atau sesekali berkelahi. Tapi saya punya batas. Saya tak pernah mau ikut mabuk. Ada beberapa teman yang mencuri kecil-kecilan, sekedar untuk menunjukkan bahwa mereka berani. Saya tidak mau seperti itu. Karena saya sadar, kalau saya seperti itu, ada kemungkinan itu akan menghalangi saya mencapai cita-cita.

Dan sebenarnya seperti itulah. Banyak teman-teman saya yang hanya sekolah tanpa tahu hendak jadi apa mereka. Karenanya mereka tak punya target apa-apa. Sekedar mengisi hari-hari dengan pergi ke sekolah, lalu sekolah apa adanya. Tak ada yang menghalangi mereka untuk berbuat melampaui batas. Beberapa teman saya akhirnya benar-benar menjadi pencuri.

Tapi jalan menuju cita-cita tak selalu mulus dan mudah. Tamat SMA saya melamar program pengiriman pelajar ke luar negeri di BPPT. Saya gagal tes seleksi tingkat awal. Dan saya “terpaksa” berpuas hati masuk UGM. Tapi mimpi itu tak pernah padam. Saya bertekad, saya akan kuliah S2-S3 di luar negeri. Akhirnya cita-cita itu terwujud. Saya akhirnya mendapat beasiswa untuk kuliah ke Jepang, lalu juga bekerja sebagai peneliti setelah lulus. Dan saya tidak hanya ke Jepang, namun juga berkunjung ke berbagai negara. Persis seperti mimpi saya ketika saya masih kecil dulu.

Kemarin ada Pameran Pendidikan Jepang. Sejak tahun lalu saya aktif membantu almamater saya, Tohoku University, dalam usaha merekrut mahasiswa Indonesia. Setahun dua kali universitas ini bersama berbagai universitas lain di Jepang melakukan pameran, memperkenalkan diri ke masyarakat Indonesia. Saya membantu menjaga stand, membantu menyampaikan informasi kepada calon mahasiswa. Selama pameran saya melihat wajah-wajah antusias, anak-anak muda yang penuh semangat menyongsong masa depan. Saya seperti melihat sosok saya sendiri 15 tahun yang lalu. Tak terasa sehari penuh saya habiskan untuk menjelaskan banyak hal kepada mereka. Juga memberi semangat kepada mereka.

Saya sadar betul, mungkin hanya sebagian kecil dari mereka yang segera bisa dapat beasiswa. Sebagian mungkin harus menunggu bertahun-tahun seperti saya dulu. Bahkan sebagian yang lain mungkin tak akan pernah bisa mewujudkan cita-cita mereka. Tapi tak masalah. Mimpi tak membutuhkan biaya.

Kepada adik-adik yang hadir kemarin saya selalu menutup pembicaraan dengan perkataan: Sukses, ya!

2 thoughts on “Kekuatan Mimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s